Bangkai Kapal Titanic Terancam Lenyap

CNN Indonesia | Kamis, 29/08/2019 12:05 WIB
Bangkai Kapal Titanic Terancam Lenyap 'Ancaman' dari dasar samudra membuat Titanic akan lenyap. (AFP PHOTO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah 14 tahun, akhirnya ada rombongan penyelam yang kembali mengunjungi bangkai kapal legendaris Titanic. Dalam kunjungan kali ini, mereka menemukan hal yang cukup mengejutkan.

Bangkai Kapal Titanic beserta isinya, tergeletak di dasar Samudra Atlantik di kedalaman 3.800 meter selama lebih dari satu abad. Tak heran jika mereka menemukan hal-hal yang membuat tercengang, seperti 'ancaman' dari dasar samudra yang membuat Titanic akan lenyap.




Pada kedalaman ini, jelas tidak mungkin manusia normal mengandalkan peralatan selam konvensional. Satu-satunya cara untuk masuk ke dasar Samudra Atlantik adalah menggunakan kapal selam.

Dalam ekspedisinya mereka mendokumentasikan perjalanan menuju dasar samudra dengan kamera beresolusi tinggi, sehingga bisa mendapatkan video berkualitas baik tentang kondisi terbaru Titanic.



Usai melakukan perjalanan, para penyelam tersebut mengatakan korosi bukanlah satu-satunya penyebab bangkai Titanic terancam menghilang dan menyatu dengan lingkungan sekitar.

"Secara tidak langsung, samudralah yang melumat Titanic dan menjadikannya hunian ideal bagi para makhluk laut dalam," ujar pemilik jasa penyewaan kapal selam untuk menuju Titanic, Patrick Lahey, seperti yang dikutip dari travel and leisure, Kamis (29/8).

Menurutnya hal tersebut terjadi karena suhu air di lokasi Titanic tenggelam adalah satu derajat celcius, ditambah arus bawah laut dan bakteri pemakan logam yang ada di sekitar lokasi bangkai kapal Titanic.



Dulu, ia menambahkan, salah satu lokasi tujuan adalah bak mandi milik kapten kapal. Namun kini benda tersebut sudah mengilang, bahkan beberapa bagian kapal Titanic juga sudah mulai musnah.

Sementara itu seorang peneliti bawah laut, Lori Johnson, menuturkan hal itu adalah proses alami yang terjadi di dasar laut.

"Bakteri pemakan logam bukanlah jenis dari bakteri, melainkan sebuah entitas dalam rombongan besar bakteri yang ada di dasar laut. Ini adalah hal yang lumrah dalam sebuah ekosistem," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(agr/ard)