Sirkus dengan Atraksi Hewan Semakin Ketinggalan Zaman

CNN Indonesia | Selasa, 03/09/2019 13:07 WIB
Sirkus dengan Atraksi Hewan Semakin Ketinggalan Zaman Festival Sirkus Montreal di Kanada. (Sebastien St-Jean / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Montreal - kota di Kanada yang melahirkan kelompok sirkus mendunia Cirque du Soleil, sedang berencana menata aturan penyelenggaraan sirkus dengan memanfaatkan animasi dan video game dari perusahaan-perusahaan yang tumbuh di kota metropolis Quebec.

Di distrik pelabuhan yang berada di antara jembatan raksasa di atas sungai Saint Lawrence dan dekat wahana bianglala kota, dua piramida berwarna putih terlihat berdiri sejak musim panas ini.

Piramida itu adalah bagian dari pertunjukan terbaru kreasi Guy Laliberte, pendiri Cirque du Soleil yang setelah menjual perusahaannya kepada investor China dan Amerika pada tahun 2015, dan memulai usaha pertunjukan baru: Lune Rouge (Bulan Merah).


Perusahaan itu berada di belakang piramida PY1, sebuah pertunjukan yang memadukan akrobat, multimedia, suara, laser, proyeksi 360 derajat dan efek khusus yang semarak.


"Montreal tidak dapat disangkal adalah ibu kota sirkus dunia, tetapi juga dikenal sebagai pusat hiburan kreatif," kata direktur artistik Lune Rouge, Jean Guibert.

Pertunjukan pertamanya, 'Through the Echoes', menyuguhkan ke hadapan para penonton selama 60 menit "kisah penciptaan alam semesta hingga sekarang," kata Guibert, seorang Prancis yang datang ke Kanada pada awal 2000-an untuk bekerja untuk Cirque.

Empat layar raksasa dibentangkan di dalam ruangan piramida, di mana gambar abstrak diproyeksikan, disertai dengan sulih suara tentang sejarah kosmik kolektif kita yang disertai lagu elektro-pop.

Di luar pertunjukan, piramida PY1 diubah menjadi kelab malam futuristik. Di pagi hari, piramida digunakan sebagai studio yoga.

Pada musim gugur, piramida putih dengan 600 kursi akan dipindahkan dari Montreal ke Miami, di mana kacamata augmented reality akan dibagikan kepada pengunjung untuk menonton pertunjukan akrobat virtual.


Sarang bakat

Montreal, kota berpenduduk 4 juta jiwa, memiliki 140 studio video game yang memukau, termasuk salah satu yang terbesar di dunia yakni Ubisoft.

"Kami ingin mendekatkan jarak antara dunia hiburan, seni sirkus, teater dan video game, dan menggabungkan disiplin ilmu itu untuk menciptakan bentuk hiburan baru," kata Guibert kepada AFP.

Kota ini menjadi tuan rumah beberapa acara budaya utama tahunan, seperti Festival Jazz Montreal dan festival komedi Just For Laughs, yang mendatangkan banyak orang. Menurut Guibert acara-acara itu telah membantu menjadikan Montreal "pusat kreativitas dan produksi dunia."

Bagi Nadine Marchand, direktur Montreal Cirque Festival, yang tumbuh dari kesuksesan global Cirque du Soleil, banyak perusahaan sirkus sekarang memadukan unsur-unsur tarian, seni visual, dan musik ke dalam pertunjukan mereka.

Guibert mengatakan bahwa penambahan elemen-elemen baru seperti teknologi itu "memungkinkan kita untuk mengembangkan berbagai bentuk hiburan dan terus mengejutkan orang."

Bosch Dreams, yang dipamerkan di Montreal Cirque Festival pada Juli, juga berupaya memadukan teknologi, teater, dan seni sirkus.

Ditulis dan disutradarai oleh kolektif seniman Montreal The 7 Fingers, pameran itu menggali ke dalam dunia pelukis Belanda Hieronymus Bosch, menghidupkan lukisan-lukisannya yang paling terkenal melalui animasi digital di layar raksasa, diselingi dengan pertunjukan oleh pemain akrobat.

Sekolah Sirkus Nasional Montreal juga telah melahirkan banyak pemain akrobat yang sangat terampil sejak didirikan pada tahun 1981, kata Anthony Venisse, yang juga membuat pertunjukan untuk festival jalanan tahun ini.

"National Circus School telah menempatkan banyak fokus pada teknik ... dan itu meningkatkan kemampuan artistik para lulusan," kata Venisse.

Marchand mencatat: "Mereka yang telah lulus bisa pergi ke teater atau menari, namun sekarang malah memilih untuk bergabung dengan sirkus," berkat kekayaan "daya cipta sirkus itu sendiri."

(AFP/ard)