Tuntutan Akademik, Picu Stres Hingga Bunuh Diri Pada Remaja

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 20/09/2019 09:45 WIB
Tuntutan Akademik, Picu Stres Hingga Bunuh Diri Pada Remaja Ilustrasi percobaan bunuh diri. (Foto: Thinkstock/tzahiV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Semakin hari semakin banyak anak muda yang memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan terdapat 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri tiap tahunnya dan sebagian kasus terjadi di kalangan anak muda.

Di Amerika Serikat, bunuh diri telah meningkat secara dramatis di kalangan anak muda berusia 10 hingga 24 tahun. Menjadi penyebab kematian terbanyak kedua setelah kecelakaan, melansir The Insider. Di Korea Selatan, angka bunuh diri menempati ranking tertinggi ke-10 di dunia. Setelah lansia, anak usia sekolah berada di peringkat kedua kasus bunuh diri.

Sosial media dan gawai kerap disalahkan sebagai pemicu menurunnya kesehatan mental pada anak-anak dan remaja. Namun ternyata, alasan utama yang membuat remaja memutuskan untuk mengakhiri hidup ialah stres akibat 'obsesi' orang tua agar anak-anaknya mencapai nilai tinggi di sekolah.



Menurut World Population Review, kasus bunuh diri yang cukup banyak di kalangan pelajar di Korsel terjadi akibat tuntutan akademik. Sebagian besar keluarga cenderung memberikan tekanan tinggi pada anak untuk berhasil secara akademis. Ketika anak gagal untuk mencapai target 'juara' yang diterapkan orang tua, anak umumnya mengalami stres berat, merasa memalukan keluarga, sehingga memutuskan untuk mencoba dan melakukan bunuh diri.

Salah satu metode bunuh diri yang paling umum di Korea Selatan adalah menghirup racun karbon monoksida. Selain itu, banyak yang memilih untuk melompat dari jembatan. Di ibu kota Seoul, Jembatan Mapo sampai-sampai mendapat julukan "Jembatan Kematian" atau "Jembatan Bunuh Diri" karena sudah banyak orang yang melompat.

Alasan serupa juga diyakini sebagai salah satu penyebab anak muda AS memutuskan bunuh diri. Psikolog Peter Gray yang juga merupakan profesor psikologi riset di Boston College mengatakan, tren bunuh diri di kalangan muda mungkin tidak selalu terkait dengan media sosial atau waktu menonton, melainkan rasa stres akibat tuntutan yang kurang realistis untuk berprestasi di sekolah.

Gray menggunakan data yang menunjukkan bahwa lebih banyak remaja yang berpikir, mencoba, hingga memutuskan bunuh diri selama masa sekolah, ketimbang pada masa liburan.

"Banyak anak-anak di AS yang didorong untuk berprestasi di sekolah maupun secara atletik, dan di setiap bidang ekstrakurikuler lainnya, demi mengembangkan resume yang nyaris sempurna untuk kuliah dan seterusnya. Apa yang kita lakukan pada anak-anak itu, saya pikir, kejam," kata Gray.


Gray menambahkan, stres dan kecemasan yang dirasakan anak-anak usia sekolah bisa berlebihan. Padahal, anak-anak usia sekolah hingga kuliah, membutuhkan lebih banyak waktu bermain, mengembangkan bakat-bakat, tanpa terus diatur oleh orang tua. Tak ada yang salah untuk menetapkan target akademik, namun setelah sekolah usai, umumnya anak-anak masih harus les atau latihan yang berkaitan dengan pelajaran sekolah.

Padahal, memberikan anak-anak kelonggaran waktu bermain usai sekolah dan memberikan mereka pilihan permainan, dianggap penting bagi anak untuk mengembangkan keberanian, kreativitas, penyelesaian masalah, dan keterampilan sosial.

"Begitulah cara mereka mengembangkan kemampuan untuk mengatasi stres dan ketakutan, jadi ketika hidup tak sesuai 'rencana', mereka lebih siap untuk itu," kata Gray.

[Gambas:Video CNN]

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis.
(ayk/ayk)