Aneurisma, Bahaya Sepelekan Sakit Kepala

tim, CNN Indonesia | Selasa, 24/09/2019 19:47 WIB
Barangkali sakit kepala bukan 'penyakit' baru. Tapi hati-hati, dalam gejala yang lebih intens dan serius, sakit kepala juga bisa jadi tanda aneurisma. ilustrasi sakit kepala (Istockphoto/PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Buat sebagian orang, barangkali sakit kepala bukan 'penyakit' baru. Sakit kepala bisa timbul akibat stres, dehidrasi atau kurang tidur. Tapi hati-hati, dalam gejala yang lebih intens dan serius, sakit kepala juga bisa jadi tanda atau gejala penyakit aneurisma.

Aneurisma berasal dari bahasa Yunani yang berarti pelebaran. Di dunia medis aneurisma didefinisikan sebagai pelebaran pembuluh darah karena struktur dinding pembuluh darah lemah. Aneurisma bisa terjadi di bagian tubuh mana pun, tetapi kejadian aneurisma akan berakibat fatal jika terjadi pada pembuluh arteri otak, aorta (pembuluh arteri besar), pembuluh dekat batang otak serta pada abdomen.

Menurut Rubiana Nurhayati, dokter spesialis saraf di RSPI Pondok Indah, aneurisma membuat pembuluh darah menggelembung seperti balon (ballooning). Aneurisma bisa dibedakan menjadi dua yakni berdasarkan bentuk dan ukuran. Berdasarkan bentuk, ada aneurisma sakular (pembuluh darah melebar dan membentuk balon) dan aneurisma fusiformis (pembuluh darah melebar dan menggembung).



Sedangkan menurut ukuran, bisa dibedakan menjadi aneurisma kelompok sangat kecil (diameter < 3 milimeter), kelompok kecil (3-7 milimeter), kelompok sedang (7-14 milimeter), kelompok besar (14-24 milimeter) dan kelompok raksasa (>25 milimeter).

Jika dibiarkan, lapisan dinding pembuluh darah semakin tipis dan bisa pecah. Salah satu kasus aneurisma yang fatal terjadi di pembuluh arteri otak.

"Saat pembuluh darah belum pecah, kadang tidak bergejala sama sekali. Kalau timbul gejala, yang paling umum itu sakit kepala. Coba kalau sakit kepala, dicek lagi, aneurisma biasanya sakit kepalanya berulang dan berdenyut, 'nyut-nyutan' di sisi yang sama. Kemudian badan terasa baal (mati rasa) dan kesemutan di satu sisi tubuh, kadang timbul, kadang hilang," jelas Rubi saat temu media bersama RS Pondok Indah di Penang Bistro, Pakubuwono, Jakarta Selatan, Selasa (24/9).

Lebih lanjut lagi Rubi menjelaskan, saat pembuluh darah sudah pecah akibat aneurisma maka sakit kepala yang dirasakan pasien akan semakin hebat. Sakit kepala hebat biasanya disusul dengan muntah, penurunan kesadaran, kelumpuhan di satu sisi tubuh, kelumpuhan saraf kranialis (wajah menjadi asimetris), kelemahan pada tangan bahkan kejang.

"Aneurisma sampai pecah pembuluh darah otak, bisa berakibat stroke hemoragik (stroke pendarahan). Ini penyakit yang ngeri-ngeri sedap, bahkan pasien sampai meninggal kadang tidak tahu kalau punya aneurisma," imbuhnya.

Hingga kini, belum diketahui penyebab pasti aneurisma. Namun ada beberapa faktor risiko yang memperbesar kemunculan penyakit seperti kelainan bawaan, gaya hidup tidak sehat (kebiasaan merokok dan minum minuman alkohol), riwayat keluarga dengan aneurisma, hipertensi, usia sudah di atas 40 tahun, serta jenis kelamin. Diketahui perempuan punya risiko aneurisma lebih besar daripada laki-laki.

Karena bisa berakibat fatal, Rubi menyarankan untuk melakukan skrining jika Anda termasuk dalam kelompok dengan faktor risiko. Skrining pun bisa dilakukan meski belum timbul gejala termasuk sakit kepala.


Pemeriksaan penunjang aneurisma terdiri dari, CT Scan otak, MRI otak, MRA, CT Scan Angiografi kepala, Digital Substraction Angiography ( DSA) dan pungsi lumbal.

"Paling bagus DSA, karena kalau CT Scan kepala tidak bisa deteksi aneurisma yang berukuran kecil. DSA ini paling akurat dan kalau ada aneurisma bisa diatasi oleh dokter spesialis bedah saraf," kata Rubi. (els/chs)