CELOTEH WISATA

Bu Im, 'Pawang' Kehangatan di Kawah Ijen

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Minggu, 06/10/2019 12:40 WIB
Bu Im, 'Pawang' Kehangatan di Kawah Ijen Bu Im, sang pemilik warung di Kawah Ijen. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Banyuwangi, CNN Indonesia -- Pesona wisata Kawah Ijen yang semakin mendunia secara tak langsung juga menjadikan masyarakat sekitar mulai melihat peluang ekonomi.

Di kawasan Paltuding, yang menjadi titik mula pendakian ke Kawah Ijen, sejumlah warung mulai berdiri berjajar menawarkan berbagai hal, mulai dari makanan hingga keperluan lainnya.

Namun dari sekian warung yang ada di sana, warung Bu Im adalah warung yang paling legendaris. Bagaimana tidak, warung itu adalah warung yang pertama kali berdiri di sana.



Bagi wisatawan yang sudah berulang kali mendaki Kawah Ijen pasti tak akan melewatkan kesempatan untuk mampir di warung Bu Im. Pun bagi wisatawan yang baru pertama kali ke sana, pasti tak ingin melewatkan kesempatan untuk mampir.

Maklum, selain pesona Kawah Ijen, warung Bu Im juga mampu menyuguhkan cerita tersendiri bagi wisatawan.

Saya pun menyempatkan diri untuk mampir ke warung Bu Im, usai menyelesaikan petualangan pendakian di Kawah Ijen.

Masuk ke dalam warung, saya langsung disambut keramahan Bu Im. Rasanya, seperti masuk ke rumah sendiri dan langsung disapa hangatnya keluarga kita.

Saya memesan mie rebus. Makanan yang sudah saya idam-idamkan sejak masih berada di atas Kawah Ijen. Sebagai pendamping, saya juga memesan susu hangat.

Oh ya, jangan berharap bisa menemukan minuman es atau minuman dingin di sekitar Kawah Ijen. Mereka memang tidak menyediakannya. Toh, hawa di sana juga sudah dingin, jadi minuman hangat lebih cocok rasanya.

"Enggak bakal nemu es mba kalau di sini, lha wong udah dingin to," kata Bu Im.

Sembari menunggu mie rebus dimasak, Bu Im menyajikan pisang goreng untuk saya. Pisang goreng itu menjadi salah satu makanan andalannya.

Bu Im bercerita pisang gorengnya itu ia beri nama Hot Banana. Tujuannya, untuk mempromosikan pisang goreng itu ke wisatawan mancanegara.

"Nyebutnya hot banana, biar bule-bule itu ndak bingung," ujarnya sambil tertawa.

Selain mie rebus dan pisang goreng, banyak menu lain di warung Bu Im, mulai dari nasi goreng, nasi soto, mie goreng, dan sebagainya.

Mie rebus selesai dimasak oleh Bu Im. Lantaran perut saya sudah keroncongan, saya langsung melahapnya saat asap masih mengepul.

Setelah kenyang, saya sempat berbincang dengan Bu Im tentang warung yang telah ia rintis sejak 23 tahun lalu itu.

Saat membuka usahanya itu, dulunya ia hanya berjualan di hari Sabtu dan Minggu saja. Kecuali, saat masa liburan, dia biasanya akan buka setiap hari. Alasannya, saat itu dirinya masih tidak tinggal di situ.

Kini, warung itu ia buka setiap harinya. Hal itu sudah berlangsung sejak 12 tahun lalu. Ia dan suaminya pun saat ini juga tinggal bersama di warung tersebut.

Bu Im menceritakan, dulunya sang suaminya juga merupakan penambang belerang di Kawah Ijen. Tapi saat ini sudah pensiun. Kini suaminya kerap kali menjadi pemandu wisata bagi wisatawan yang akan ke Kawah Ijen.

Membuka warung selama 24 jam di sebuah tempat wisata, Bu Im memiliki strategi dalam mengatur waktu istirahatnya. Di masa wisatawan ramai berkunjung, biasanya Bu Im mulai sibuk melayani pelanggannya sejak pukul 23.30.

Lalu, sekitar pukul 03.00, ia bakal menyempatkan waktu untuk beristirahat sejenak. Maklum, di jam itu biasanya banyak wisatawan yang masih melakukan pendakian ataupun masih menikmati keindahan di atas Kawah Ijen.

Bu Im, Pawang Kehangatan di Kawah IjenPenambang belerang di Kawah Ijen. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)


Kemudian, ia bakal kembali sibuk melayani para pelanggannya mulai pukul 05.00, di saat para wisatawan satu per satu mulai turun dari atas.

Selain itu menjual makanan dan minuman, Bu Im juga menyediakan berbagai kebutuhan lain layaknya toko kelontong pada umumnya. Barang yang ditawarkan terbilang lengkap.

Warung Bu Im, tak hanya menjajakan makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan lain. Dulunya, warung Bu Im juga terkenal sebagai tempat untuk menghangat diri dari terpaan hawa dingin pegunungan.

Di warung itu, ada sebuah tungku kayu yang memang digunakan Bu Im untuk memasak hingga merebus air. Tungku itulah yang biasanya dimanfaatkan para wisatawan untuk mencari kehangatan.

Dulunya, tungku itu berada di tengah warung. Kini, tungku itu telah dipindahkan ke bagian belakang.

Meski telah dipindahkan, tungku itu tetap digunakan Bu Im untuk merebus air dan sebagainya. Menurut Bu Im, warungnya menjadi satu-satunya warung yang masih memiliki tungku api.

Kayu yang digunakan, kata Bu Im, biasanya dicari oleh suaminya. Kayu-kayu itu bisa didapatkan di sekitar hutan yang ada di sana.

Tak hanya untuk menghangatkan diri, Bu Im bercerita warung juga sering digunakan untuk singgah beristirahat sejenak oleh para wisatawan.

Bu Im, Pawang Kehangatan di Kawah IjenTungku kayu di warung Bu Im. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)


"Penginapan kan masih dikit, jadi suka pada nginep, buat tidur-tidur bentar ya bisa di sini," ungkapnya.

Bu Im mengaku dirinya selalu senang melayani para wisatawan yang mampir ke warungnya. Lumayan, dapat cerita-cerita baru katanya. Bahkan, meski tengah sakit, Bu Im masih melayani para wisatawan yang datang ke warungnya.

Pernah satu waktu, dirinya sedang tak enak badan. Namun, warungnya diketok oleh seorang pembeli. Ia pun berusaha bangkit dari tidurnya untuk melayani pembeli itu.

Nyatanya, pembeli itu hanya ingin membeli satu batang rokok saja. Bu Im pun tak mempermasalahkan, meski itu membuat istirahatnya terganggu. Namanya juga rezeki, jangan ditolak, ucapnya.

"Malem-malem itu ngetok, eh beli untilan satu, rokok itu lho satu batang, namanya rejeki ya tetep tak layani to," tuturnya.

Meski telah berusia senja, Bu Im nampak selalu bersemangat saat melayani para wisatawan. Ia pun tampak senang bisa berbagi cerita dengan mereka.

Mampir ke warung Bu Im, tak hanya sekedar untuk mencari sesuap nasi ataupun minuman hangat. Berbagai cerita menarik pun bisa kita dapatkan di sana, termasuk keramahan Bu Im, si pemilik warung.

(ard)