CATATAN PERJALANAN

Jadi Pendaki Dadakan Demi Berjumpa 'Blue Fire'

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Minggu, 06/10/2019 09:57 WIB
Kawah Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Banyuwangi, CNN Indonesia -- Banyuwangi memang tak sepopuler Yogyakarta atau Malang. Namun, daerah paling timur di Pulau Jawa ini selalu ramai didatangi oleh turis mancanegara khususnya yang gemar wisata alam, salah satunya karena ada fenomena Api Biru atau Blue Fire.

Uniknya, fenomena Blue Fire hanya terjadi di dua tempat di dunia, Islandia dan Banyuwangi.

Kawah Ijen menjadi lokasi si Api Biru. Terletak di ketinggian 2.443 meter di atas permukaan laut, mengunjungi Kawah Ijen mungkin bakal menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang belum pernah mendaki gunung seperti saya.


Saya berangkat dari Jakarta menggunakan penerbangan Pukul 05.55 WIB. Sayangnya saya kehabisan tiket untuk penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi, mungkin karena saya berangkat menjelang akhir pekan. Alhasil saya harus transit lebih dulu di Surabaya selama tiga jam.

Saya tiba di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi sekitar pukul 11.30 WIB. Sebelumnya, saya sudah lebih dulu memesan mobil plus supir dan pemandu wisata. Jadi tiba di Banyuwangi saya langsung dijemput.

Penerbangan pagi membuat saya masih mengantuk. Demi menyimpan tenaga untuk memulai pendakian di Kawah Ijen pada dini hari nanti, saya memutuskan untuk beristirahat di hotel.


Memulai pendakian

Ada banyak cara untuk mendaki Kawah Ijen. Bisa ikut open trip atau beli paket wisata online. Selain ke Kawah Ijen mereka biasanya menawarkan objek wisata lain di sekitar Banyuwangi, seperti Taman Nasional Baluran.

Apapun paket yang dipilih, pastikan diri untuk disiplin dengan waktu karena wisata berkelompok membutuhkan orang-orang yang tidak ngaret.

Tapi kalau tak ingin terburu-buru bisa menyewa tur privat seperti saya dengan fasilitas mobil, sopir, dan pemandu wisata.

Sekitar pukul 23.00 WIB saya dijemput oleh sopir bersama dengan pemandu wisata. Sebelum dijemput saya sudah menyiapkan segala keperluan untuk memulai pendakian pertama kalinya dalam hidup saya.

Sejujurnya tak banyak yang saya persiapkan, karena saya tidak mengira kalau pendakian dini hari nantinya bakal sedingin 10 derajat Celcius.

Saya hanya membawa jaket ala kadarnya yang sekiranya mampu membantu melawan hawa dingin. Bahkan sarung tangan hingga kupluk luput saya bawa.

Pun tak ada sepatu khusus untuk mendaki yang saya bawa. Tak hanya itu, saya nyatanya hanya membawa satu celana jeans. Belakangan saya mengetahui kalau bahan jeans sangat mudah menyerap hawa dingin.

Keluar kamar saya hanya membawa satu ransel yang ukurannya tak besar. Di dalamnya saya isi dengan dua botol air mineral, satu botol ukuran 1,5 liter dan satu botol ukuran 600 ml. Tak lupa, satu bungkus roti untuk mengganjal perut jika nanti mulai keroncongan.

Dengan persiapan ala kadarnya, saya berangkat dari hotel ke Kawah Ijen. Perjalanan saat itu dari hotel memakan waktu sekitar satu jam.

Saya tiba di Paltuding sekitar pukul 00.00 WIB. Paltuding menjadi gerbang utama sebelum memulai pendakian ke Kawah Ijen. Di lokasi ini pula, pengunjung mesti membeli tiket masuk di loket.

Pendakian Perdana Demi Berjumpa 'Blue Fire'Dini hari di Paltuding. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)

Harga tiketnya terbilang murah. Untuk wisatawan domestik hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp5.000 saja. Sementara untuk wisatawan mancanegara cukup membayar sebesar Rp7.500.

Di kawasan Paltuding terdapat beberapa warung makan yang bisa menjadi tempat persinggahan sebelum memulai pendakian. Lumayan jika ingin meminum teh hangat menghangatkan badan. Pasalnya dari Paltuding saja hawa dingin mulai terasa.

Di Paltuding juga ada beberapa warga sekitar yang menjual sejumlah perlengkapan untuk pendakian. Mulai dari sarung tangan, kaos kaki, kupluk, senter dan lainnya.

Saat itu saya masih merasa badan saya bakal kuat menahan hawa dingin di Kawah Ijen. Walhasil tak ada perlengkapan tambahan yang saya beli.

Tepat pukul 01.00 WIB, saya memulai pendakian ke Kawah Ijen dari Paltuding. Saat itu hari Sabtu terlihat banyak wisatawan domestik dan mancanegara. Pemandu saya mengatakan Kawah Ijen lebih ramai pengunjung di hari Jumat sampai Minggu.

Saat melangkah ke gerbang masuk, ada petugas yang meminta para wisatawan menunjukkan tiket masuk yang telah dibeli sebelumnya.

Di sekitarnya terlihat puluhan orang menawarkan jasa ojek troli dengan gerobaknya. Jasa ini untuk membantu para wisatawan yang ingin naik ke Kawah Ijen namun tak kuat untuk mendaki.

Tarif ojek troli menurut saya terbilang mahal. Kisarannya mulai dari Rp900 ribu untuk naik. Tapi harga itu juga tergantung dari mana wisatawan menumpangnya. Jika baru menumpang di tengah pendakian, maka harganya bisa lebih murah.

Sedangkan untuk tarif turun agak lebih murah meski tetap mahal, yakni sekitar Rp600 ribu. Harga itu juga tergantung dari mana wisatawan menumpangnya.

Namun tarif ojek troli akan semakin murah jika mulai beranjak siang.

Pendakian Perdana Demi Berjumpa 'Blue Fire'Ojek troli yang siap mengantar pendaki. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)



Terengah-engah menuju Kawah

Perjalanan saya resmi dimulai setelah beberapa langkah melewati gerbang masuk. Trek di awal menurut saya masih terbilang mudah, belum ada tanjakan berarti yang mesti dilalui.

Sempat terbersit di benak saya ternyata mendaki ke Kawah Ijen tak sulit.

Namun pikiran itu langsung saya buang jauh-jauh setelah melihat tanjakan di depan mata. Padahal saat itu belum sampai satu kilometer saya berjalan.

Pemandu wisata saya, Nanang, mengatakan bahwa tanjakan itu menjadi awal mula dari tanjakan-tanjakan curam yang mesti dilalui sebelum tiba di Pos Bunder.

Sontak nyali saya langsung menciut. Apalagi ini merupakan pendakian pertama saya. Tapi, saya berusaha meyakinkan diri untuk bisa melalui tanjakan tersebut.

Saya mulai berjalan perlahan dibantu dengan penerangan lampu senter seadanya hasil meminjam dari sopir saya.

Wisatawan yang sebelumnya ada di belakang saya, satu per satu mulai mendahului saya. Untung Nanang setia menemani saya.

Perlahan-lahan mendaki, jantung saya mulai berdegup kencang tak karuan.

Pengalaman pendakian ke Kawah Ijen masih berlanjut ke halaman berikutnya...

Jadi Pendaki Dadakan Demi Berjumpa 'Blue Fire'

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2