Myasthenia Gravis, Penyakit Autoimun Presiden Duterte

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 10:38 WIB
Myasthenia Gravis, Penyakit Autoimun Presiden Duterte Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: AFP PHOTO / Ted ALJIBE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyakit autoimun menjadi kian 'populer'. Alih-alih melindungi tubuh dari penyakit, penyakit autoimun justru membuat sistem kekebalan tubuh menyerang organ dari dalam. Salah satu penyakit autoimun yang populer ialah penyakit lupus yang belum lama dialami oleh sejumlah selebriti.

Namun bukan lupus yang kini sedang diderita oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte, melainkan myasthenia gravis, melansir The New York Times (6/10). Duterte yang kala itu sedang melakukan kunjungan kenegaraan di Rusia, mengatakan kepada komunitas Filipina di sana bahwa ia menderita myasthenia gravis, penyakit autoimun kronis yang telah menyebabkan sejumlah masalah medis, seperti membuat salah satu kelopak matanya 'turun'.

"Ketika saya melihat Anda, salah satu mata saya terlihat terkulai. Apakah Anda melihatnya? Salah satu mata menjadi lebih kecil. Sebenarnya, itu adalah myasthenia gravis. Ini adalah kerusakan saraf," katanya.



Duterte mengatakan kalau penyakit itu juga menimpa keluarganya, "Jadi saya percaya, sungguh, dalam genetika."

Jadi, apa itu myasthenia gravis?

Myasthenia gravis adalah kondisi kronis yang menyebabkan otot menjadi lemah, mengutip Web MD. Sebagai contoh, jika Anda menderita myasthenia gravis, ada beberapa kondisi yang bisa dirasakan, seperti otot-otot rahang yang melemah, sehingga lebih sulit untuk mengunyah makanan. Setelah rehat sejenak, otot-otot umumnya akan kembali kuat dan aktivitas mengunyah kembali normal.

Sedangkan gejala yang dialami oleh Duterte ialah pandangan kabur atau ganda saat ia menari dengan seorang wanita dalam acara di Moskow. Selain itu, dia juga mengalami kelopak mata yang turun. Menurut Asosiasi Medis Filipina, myasthenia gravis sering memengaruhi otot-otot yang mengendalikan mata, ekspresi wajah, berbicara, dan menelan.

Selain penglihatan yang kabur seketika, sulit mengunyah, serta otot wajah yang terlihat turun, gejala lain dari penyakit autoimun ini ialah bicara menjadi cadel, kesulitan tersenyum, suara serak, sulit mengangkat bagian tubuh tertentu, hingga gangguan dalam berjalan, dikutip dari Alodokter. Walau tiap orang bisa mengalami gejala yang berbeda, namun adanya kelemahan otot yang terjadi cukup sering baiknya tidak diabaikan.

Kelemahan otot pada penderita myasthenia gravis umumnya terjadi saat otot-otot tersebut banyak digunakan. Akan kembali membaik bila penderita melakukan istirahat. Hanya saja, bila kondisi ini dibiarkan, kelemahan otot bisa saja bersifat permanen dan tak akan membaik walau sudah istirahat.

Penyembuhan myasthenia gravis

Myasthenia gravis bisa dialami oleh siapa saja. Pada wanita, umumnya myasthenia gravis lebih sering dialami oleh kelompok usia 20-30 tahun. Sedangkan pada pria, penyakit ini kerap menyerang kelompok usia 50 tahun ke atas.


Tak diketahui penyebab pasti, namun beberapa faktor risiko yang diduga memicu berkembangnya penyakit autoimun ini ialah genetika serta gangguan pada kelenjar timus, yaitu kelenjar yang terletak di bagian depan dada yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Layaknya penyakit autoimun lainnya, belum ada cara atau obat untuk menyembuhkan myasthenia gravis. Karena masuk sebagai penyakit kronis yang dapat berlangsung dalam jangka waktu lama, termasuk kondisi lemah otot yang makin parah, penderita diharapkan rutin untuk menjalani sejumlah terapi dan konsumsi obat agar gejala bisa berkurang.

[Gambas:Video CNN]

(ayk/ayk)


BACA JUGA