Pariwisata di Antara Minimnya Serbuan Turis dan Bali Baru

CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 16:36 WIB
Pariwisata di Antara Minimnya Serbuan Turis dan Bali Baru Ilustrasi. Sejumlah perahu berada di dekat kapal pesiar Pacific Dawn di kawasan perairan Benoa, Badung, Bali. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo bakal melantik pelbagai menteri yang duduk di kabinet baru dalam hitungan hari. Posisi Menteri Pariwisata ikut disorot bersamaan dengan evaluasi kinerja kementeriannya selama lima tahun belakangan.

Tahun ini Kementerian Pariwisata yang dipimpin oleh Arief Yahya memiliki target untuk mendatangkan 18 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan devisa sebesar US$20 juta.

Target kedatangan wisman awalnya 20 juta, namun diturunkan Jokowi sebanyak 2 juta pada awal tahun ini. Revisi-revisi senada juga dilakukan, termasuk memangkas 10 Bali Baru menjadi empat lokasi.


Menjelang tutup tahun, target wisman yang datang ke Indonesia dari bulan Januari-September baru 10,86 juta. Sementara dari devisa sudah masuk US$19,29 hingga bulan Agustus.


Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila, Fahrurozy Darmawan, berpendapat bahwa Kementerian Pariwisata di bawah kepemimpinan Arief Yahya telah berhasil mempromosikan pariwisata Indonesia di ranah internasional.

Dari promosi tersebut, ia melanjutkan, turis memang banyak berkunjung. Namun sayangnya turis yang tidak bisa diatur juga ikut berdatangan. Kasus turis gembel di Bali menjadi contohnya.

Jutaan turis yang datang juga membuat kelestarian alam terganggu, contohnya masalah sampah di Pulau Komodo.

Fahrurozy mengatakan kalau hal tersebut dikarenakan Kementerian Pariwisata terlalu sibuk promosi dan mengesampingkan soal pemberdayaan masyarakat.

"Kalau pariwisata memang dijadikan sumber devisa, seharusnya anggarannya bisa lebih besar. Sehingga cukup untuk promosi dan pemberdayaan masyarakat," kata Fahrurozy kepada CNNIndonesia.com pada Kamis (17/10).

"Padahal sebenarnya tak perlu banyak promosi. Kalau destinasinya terawat dan membuat nyaman, turis juga akan datang sendirinya, bahkan berkali-kali," lanjutnya.
Pengamat Sebut Indonesia Terlalu Euforia Soal Promosi Wisata*Ilustrasi. (Foto: Dok. Kempinski)

Fahrurozy lanjut mengatakan, ia amat menyayangkan jika ada anggapan bahwa destinasi wisata yang baik berarti destinasi wisata yang didatangi banyak turis.

Padahal jika merujuk pada Indeks Kompetitif yang dirilis oleh World Economy Forum, jumlah turis tak melulu berhubungan dengan baik atau buruknya sebuah destinasi wisata. Ada faktor keamanan, kenyamanan, harga, sampai kelestarian lingkungan yang dinilai dari indeks tersebut.

Indonesia berada di posisi ke-40 dalam indeks tahun ini - atau naik dua peringkat dari tahun lalu, di bawah Rusia dan di atas Kosta Rika. Indonesia mengantongi skor 4,3 dari 5.

"Mengelola pariwisata bukan lagi urusan jumlah turis, tapi pariwisata juga harus menyejahterakan sekitarnya. Masyarakatnya dibukakan peluang ekonomi, alamnya dijaga. Dengan begitu tak menutup kemungkinan turis bakal datang lagi," kata Fahrurozy.

"Soal memberdayakan masyarakat memang tidak bisa instan, perlu waktu. Tapi saya rasa waktu promosi wisata besar-besaran sudah cukup selama lima tahun ini. Lima tahun ke depan promosi wisata tak perlu terlalu heboh, yang penting kualitas wisatanya ditingkatkan," lanjutnya.

Mengenai ancaman serbuan turis (overtourism) Fahrurozy mengatakan Indonesia tak perlu takut, jika sudah memiliki sistem pengelolaan destinasi dan turis yang berjalan dengan baik.

"Wisata seni budaya dan wisata alam harus dihargai mahal, berbeda dengan wisata belanja, kuliner atau foto, sehingga tradisi dan sumber daya alam yang kita punya tetap terjaga," ujar Fahrurozy.

"Tapi hitung-hitungan soal menaikkan harga tiket masuk saya kira masih rencana jangka panjang, yang penting sistem pengelolaannya dulu yang diterapkan dengan tegas," lanjutnya.


Kualitas Tempat Wisata

Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar, berpendapat Kementerian Pariwisata saat ini seakan lupa dengan -potensi wisata di Indonesia yang sebenarnya bisa dikembangkan secara nyata.

Dihubungi melalui sambungan telepon pada Kamis (17/10), Sapta merasa kalau kementerian saat ini terlalu sibuk mengurusi promosi, terutama soal menang di penghargaan internasional.

"Contoh saja Thailand dan Vietnam, mereka tidak sibuk menang dalam penghargaan tapi destinasinya semakin ramai dikunjungi turis. Mereka sibuk memperbaiki kualitas destinasinya," kata Sapta.

Selain soal sibuk di penghargaan, Sapta juga menyinggung kinerja Kementerian Pariwisata yang dianggapnya terlalu banyak membuat program kompleks.

Padahal program sederhana yang dilakukan dengan nyata dirasa jauh lebih ampuh mendatangkan turis.

"Banyuwangi dan Wakatobi terbukti berhasil populer setelah dikelola dengan baik. Promosi ya memang penting, tapi mengelola destinasi misalnya dengan menjual paket wisata untuk beragam kelas, bagi saya itu jauh lebih penting," ujar Sapta.

Sapta juga ikut menyoroti sinergi Kementerian Pariwisata dengan kementerian lain.

Menurutnya, Kementerian Pariwisata tidak bisa berjalan sendirian dalam memajukan destinasi wisata di Indonesia, terutama dalam pembangunan akses dan akomodasi.

"Kita punya banyak potensi dalam urusan venue pertemuan, festival, olahraga, sampai kapal pesiar. Potensi ini bisa dikembangkan jika semua kementerian bersinergi, kompak," kata Sapta.

"Jika sinergi dilakukan dengan lebih terarah, saya optimistis semakin banyak turis yang bukan cuma sekali datang, tapi berkali-kali datang ke Indonesia," lanjutnya.

(ard)