5 Cara Merencanakan Keuangan untuk Orang Tua Milenial

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 26/10/2019 17:58 WIB
5 Cara Merencanakan Keuangan untuk Orang Tua Milenial Foto: morgueFile/mconnors
Jakarta, CNN Indonesia -- Tren baby shower, maternity photoshoot, babymoon, penggunaan jasa doula (pendamping selama kehamilan hingga anak lahir), birth photographer hingga push present (hadiah dari pasangan atau keluarga untuk ibu pascamelahirkan) kian mewarnai media sosial para orang tua milenial.

Tren yang sejatinya bukan kebutuhan utama ini lama-kelamaan kian 'menuntut' para orang tua baru yang ingin tampil sebagai orang tua kekinian. Benturan antara keinginan (wants) dan kebutuhan (needs) pun tak terelakkan.

"First time mom, nih biasanya bawaannya lebih banyak di 'wants'. Apalagi baca blog, nonton vlog, media sosial terus jadi ingin punya banyak," kata Nadia Mulya, ibu empat anak sekaligus penulis saat ditemui di Kinokuniya, Plaza Senayan, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.



Sepakat dengan Nadia, mompreneur sekaligus financial planner Prita Ghozie berkata media sosial memang mempengaruhi kebutuhan para ibu. Namun Prita menganggap tak ada yang benar atau salah dalam implementasi tren-tren ibu kekinian. Hanya saja yang perlu disadari adalah semua berujung pada uang. Artinya, apapun yang dilakukan, semua memerlukan uang.

"Orang harus mindful, sadar dengan pilihan dan konsekuensi," kata Prita dalam kesempatan serupa.

Oleh karena itu, keduanya sepakat bahwa penting bagi tiap pasangan untuk memiliki perencanaan keuangan.

"Dari mulai hamil, testpack saja beli. Kita mulainya saja pakai uang, belum promil [program hamil]. Kemudian saat hamil, argo mulai jalan, anak lahir lalu persiapan pendidikan anak," jelas dia.

Berikut sejumlah cara merencanakan keuangan yang bisa dilakukan bagi orang tua milenial agar pengeluaran tak lebih besar ketimbang pendapatan.

Cari informasi

Nadia menuturkan, selain membaca buku panduan seperti 'MoneySmart Parent' yang ditulis dirinya dan Prita, ibu bisa bergabung dengan komunitas, seperti komunitas yang dipenuhi oleh ibu-ibu dengan pengalaman yang lebih banyak supaya bisa jadi wadah tukar pikiran. Dari obrolan, kata Nadia, biasanya ibu bisa mengetahui mana yang wajib punya, mana yang bisa meminjam atau sewa.

"Membaca informasi dari internet, kebanyakan dari brand, jadi semua seolah jadi kebutuhan. Padahal kalau mau ngobrol sama komunitas, itu akan kelihatan mana yang dibutuhkan, mendesak atau bisa ditunda," imbuhnya.

Disiplin

Prita menyadari bahwa perencanaan keuangan bukan hal mudah. Perencanaan keuangan adalah perjalanan sehingga semua musti berani memulai. Mulai disiplin dalam merencanakan dan memilah kebutuhan serta keinginan.

Manfaatkan asuransi

Prita memberikan contoh USG atau pengecekan kandungan. Kementerian Kesehatan menyarankan USG hanya 4 kali selama kehamilan. Orang tua baru yang akan menimang anak pertama kemungkinan melakukannya lebih dari 4 kali mengingat sudah tersedianya kecanggihan teknologi sehingga orang tua bisa melihat wajah anaknya meski masih dalam kandungan. Padahal jika mau direncanakan, dana USG bisa disalurkan untuk pos-pos lain. Orang tua juga musti pandai memanfaatkan BPJS atau asuransi dari tempat kerja.

Tujuan investasi

"Biasanya yang sering terlupakan, orang enggak punya rencana keuangan. Jadi semua itu maunya jump to investment," kata Prita.

Sebagai financial planner, dia kerap dihadapkan pada pertanyaan soal investasi yang sesuai dengan usia. Tak ada jawaban untuk hal ini. Justru yang perlu dipikirkan terlebih dahulu ialah tujuan investasi sehingga baru bisa menentukan jenis investasi.

Selesaikan utang konsumtif

Orang kerap lupa jika masih memiliki utang konsumtif. Utang konsumtif adalah utang yang dimanfaatkan untuk kegiatan konsumsi. Prita memberikan contoh berutang untuk biaya pernikahan. Pasangan pengantin cukup merasa percaya diri bahwa angpau penikahan akan cukup melunasi utang. Pada kenyataannya tidak. Belum lagi jika ternyata bulan berikutnya istri hamil. Tentu beban biaya akan makin besar.


Perencanaan keuangan termasuk investasi bisa tidak berjalan jika masih memiliki utang konsumtif. "Enggak ada ceritanya orang bisa mendapatkan untung selama dia masih punya utang konsumtif. Utang konsumtif harus diselesaikan dulu karena bunga dari utang konsumtif masih lebih tinggi dibandingkan hasil potensi investasi," jelas dia.

[Gambas:Video CNN] (els/ayk)