4 Jenis Pola Asuh dan Dampaknya pada Anak

Tim, CNN Indonesia | Senin, 21/10/2019 20:44 WIB
4 Jenis Pola Asuh dan Dampaknya pada Anak Ilustrasi. Pola asuh orang tua akan berpengaruh terhadap karakter anak di masa depan. (Istockphoto/Nadezhda1906)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada cara mudah untuk mengasuh anak. Tak ada pula satu cara yang 'benar' untuk menjadi orang tua. Namun, apa pun itu, pola asuh akan berpengaruh pada karakter anak di masa depan.

Sejumlah psikolog anak telah lama meneliti tentang bagaimana pola asuh orang tua memengaruhi perkembangan anak. Para peneliti berpendapat bahwa ada hubungan antara pola asuh dan perilaku anak di kemudian hari.

Salah satu teori yang paling banyak digunakan ditemukan oleh psikolog Diana Baumrind. Selama awal 1960-an, Baumrind melakukan penelitian pada lebih dari 100 anak.

Dari penelitian ini, Baumrind menemukan tiga jenis pola asuh anak. Baumrind menyarankan agar orang tua menggunakan salah satu dari tiga pola asuh yang berbeda ini.

Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Eleanor Maccoby dan John. Dua psikolog ini menambahkan satu pola asuh terakhir dari tiga yang ditemukan Baumrind terlebih dahulu.

Mengutip Very Well Mind, berikut empat pola asuh anak yang paling utama.

1. Orang Tua Otoriter
Dalam pola asuh ini, anak diharapkan untuk selalu mengikuti aturan ketat yang ditetapkan orang tua. Kegagalan mengikuti aturan umumnya akan berujung pada hukuman.

Tuntutan tinggi yang dilayangkan tak sebanding dengan respons yang diberikan orang tua pada anak. Mereka hanya berharap agar si buah hati berperilaku baik dan tidak membuat kesalahan.

Baumrind mencatat, orang tua jenis ini berorientasi pada kepatuhan dan status. Mereka digambarkan sebagai sosok yang mendominasi bak diktator.

Dalam penelitiannya, Baumrind menemukan, anak yang diberikan dengan orang tua otoriter akan menjadi pribadi yang selalu patuh dan cakap. Namun sayang, meski cakap, anak cenderung menjadi pribadi yang tidak bahagia, tak memiliki kemampuan sosial, dan memiliki harga diri yang rendah.

2. Orang Tua Demokratis
Seperti otoriter, orang tua dengan pola asuh ini berusaha menerapkan aturan dan pedoman untuk si buah hati. Namun, pola asuh ini lebih demokratis ketimbang otoriter.

Orang tua berusaha tetap responsif terhadap anak dan mau mendengarkan setiap pertanyaan si buah hati. Harapan besar pada anak sebanding dengan kehangatan dan dukungan yang diberikan.

Ilustrasi. Pola asuh orang tua berpengaruh terhadap karakter anak di masa depan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Alih-alih menghukum, orang tua akan memaafkan dan tetap memberikan dukungan saat anak mengalami kegagalan.

Demokratis menjadi pola asuh yang tegas tanpa harus membatasi anak Baumrind mencatat, kebanyakan orang tua dengan pola asuh ini berharap agar anak dapat bersikap tegas di kemudian hari, memiliki tanggung jawab sosial, dan mandiri.

Kombinasi antara harapan dan dukungan ini membantu anak mengembangkan keterampilan seperti kemandirian.

Gaya pengasuhan ini, tulis Baumrind, dapat mencetak pribadi yang bahagia serta gigih mencapai sukses di masa depan.

3. Orang Tua Permisif
Gaya permisif menjadi pola asuh terakhir yang diidentifikasi Baumrind. Orang tua permisif terkadang juga dikenal sebagai mereka yang gemar memanjakan dan memiliki sedikit tuntutan atau harapan untuk si buah hati.

Namun, dalam catatan Baumrind, orang tua jenis ini lebih responsif pada anak dibandingkan dua pola asuh sebelumnya. Pola asuh ini lebih modern, toleran dan menghindari konfrontasi.

Sayang, pola asuh ini kerap mencetak pribadi yang tak mandiri. Mereka cenderung mengalami masalah yang berkaitan dengan kekuasaan dan berkinerja buruk di lingkungan sosialnya.

4. Orang Tua Lalai
Selain tiga pola asuh utama yang diperkenalkan Baumrind, psikolog Eleanor Maccoby dan John Martin menemukan gaya pengasuhan keempat. Pola asuh terakhir ini umumnya ditandai dengan kelalaian orang tua.

Dalam pola asuh ini, orang tua sama sekali tidak terlibat dengan apa pun yang terkait dengan anak. Orang tua tidak menuntut, tak responsif, dan minim komunikasi.

Meski kebutuhan dasar anak terpenuhi, namun umumnya mereka terlepas jauh dari kehidupan si buah hati. Mereka hanya memastikan bahwa anak mendapatkan asupan makan dan minum yang tepat, pulang ke rumah dengan aman, dan hal-hal mendasar lainnya. Sementara hal-hal yang bersifat dukungan emosional disebut nihil.

Dengan pola asuh seperti ini, anak cenderung tak memiliki kontrol diri di kemudian hari. Pola asuh ini juga mencetak pribadi dengan harga diri dan kompetensi yang rendah.

[Gambas:Video CNN]


(asr/asr)