Dokter Jiwa: Pelaku Teror Sperma Bisa Jadi Ekshibisionis

tim, CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 10:19 WIB
Dokter Jiwa: Pelaku Teror Sperma Bisa Jadi Ekshibisionis Dokter jiwa mengungkapkan bahwa ada kemungkinan pelaku teror sperma di Tasikmalaya mengalami ekshibisionisme, namun butuh pemeriksaan lanjutan.(Istockphoto/ RapidEye)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku teror sperma di Tasikmalaya mungkin sudah tertangkap, namun pada kenyataanya kasus ini masih cukup menggemparkan. Pasalnya teror pelemparan sperma oleh seorang pria kepada perempuan yang ditemuinya di jalan ini menyisakan kecemasan.

Pelemparan sperma oleh tersangka ini bukan hanya sekali dilakukannya, setidaknya ada 10 perempuan lain yang mengaku mengalami hal yang sama.

"Kalau dilakukan berulang kali, bisa jadi disebabkan karena gangguan kejiwaan," kata Alvina, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Barat kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/11).


"Bisa saja ini disebabkan oleh gangguan ekshibisionisme, tapi belum tentu juga. Harus dilakukan pemeriksaan mendalam sebelum didiagnosis."


"Bila dilihat kronologis cerita teror sperma yang akhir-akhir ini merebak, awalnya pelaku ini mengeluarkan kemaluannya, karena korban kaget, histeris, dan ketakutan maka pelaku semakin puas, nikmat, dan orgasme. Setelahnya orgasme spermanya dilempar ke korban," kata Martha, dokter ahli jiwa RS Awal Bros Bekasi Timur kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat. 

"Kepuasan yang didapatkan ketika korban yang melihat kaget, takut, atau terkesan, maka kenikmatan ekshibisioner akan meningkat, sama seperti orgasme."

Ekshibisionisme sendiri adalah perilaku penyimpangan seksual yang ditandai dengan perilaku memperlihatkan alat kelaminnya pada orang asing. Perilaku ini dilatarbelakangi dengan adanya fantasi seksual dan dorongan seksual yang kuat kepada orang lain.

Penyakit ini termasuk gangguan jiwa di bawah payung gangguan parafilia - penyimpangan seksual. Tidak ada ciri-ciri spesifik yang menandakan penderita ekshibisionisme (ekshibisionis). Menurutnya terdapat kemungkinan orang yang memiliki kondisi ekshibisionisme memiliki gangguan jiwa yang lain, kesulitan dalam bersosialisasi, serta memiliki kepercayaan diri yang rendah.

"Biasanya, target ekshibisionis biasanya orang asing yang tidak dikenal," ujarnya.

Ekshibisionis dapat melakukan tindakan berulang jika mereka tidak melakukan terapi yang adekuat. Terdapat dampak berkelanjutan dalam diri ekshibisionis diantaranya yaitu sesaat merasakan kepuasan seksual dan kemudian mungkin merasa bersalah namun tidak bisa menahan dorongan untuk melakukannya kembali.

"Tergantung motif dia melakukan ini untuk apa, kalau untuk kepuasan seksual pribadi berarti ini bisa karena gangguan kejiwaan. Tapi tidak selalu karena masalah jiwa. Tidak semudah itu mengatakan orang punya gangguan kejiwaan," ucapnya.

Untuk menentukan diagnosis gangguan kejiwaan, kata Alvina, harus dilakukan pemeriksaan mendalam terhadap pelaku dan juga keluarga, karena bisa jadi ada beberapa hal yang tak bisa dijawab oleh pelaku namun menarik perhatian keluarga. Ini juga terkait dengan kondisi sosial termasuk pola asuh keluarga dan pengaruh lingkungan. Berdasar teori orang dengan ekshibisionisme ini bisa ditelusuri dari masa kecilnya juga, bagaimana perkembangan seksualnya tak terbentuk dengan baik dalam pengasuhan orang tuanya. Selain itu ada alasan lain yang juga disebabkan karena kecemasan atau stres berlebihan. Kekurangan untuk mengelola stres ini menyebabkan munculnya keinginan seksual yang menyimpang tersebut. 


"Bisa jadi alasan lain dia melakukan itu karena hal lain, misalnya karena rendahnya kepercayaan diri, merasa tidak mampu melakukan hubungan seksual dengan orang lain, dan ekstremnya mungkin karena dia dendam sama perempuan."

Selain itu, Alvina juga mengungkapkan bahwa ada hal lain yang juga bisa menyebabkan masalah ini terjadi yaitu gangguan psikotik atau mendengar bisikan-bisikan halus yang meminta mereka untuk melemparkan spermanya atau melakukan hal lainnya.

"Kalau karena gangguan psikotik, itu tidak termasuk ekshibisionisme," katanya.

Teror ini bermula saat saat LR, warga Kelurahan Kersamenak, Kecamatan Kawalu, Tasikmalaya, tengah menunggu ojek online di tepi Jl Letjen Mashudi, Rabu (13/11). SN yang mengendarakan sepeda motor kemudian tiba-tiba menghampirinya.

Awalnya, SN bertanya soal tujuan perjalanan LR. Pertanyaan merembet ke hal-hal lain. Saat bicara itu, SN tampak memasukkan tangannya ke dalam celana, memegang kemaluannya, dan menggesekkannya ke jok sepeda motor. Ia kemudian melemparkan cairan spermanya ke arah LR namun luput.

"Dia (pelaku) bertanya macam-macam dulu. Ujungnya lemparin [sperma], tapi saya berhasil menghindar," kata LR, kepada CNN Indonesia TV.

"Saya sangat dilecehkan, sangat tidak dihargai. Enggak berani keluar rumah sendiri," aku dia. (chs)