Hadiana, PNS dan Taman Bermain Anak-anak

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 20:34 WIB
Hadiana dan Alat Pembelajaran Edukatif yang dibuatnya sendiri. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap menjelang hari raya, ketika sejumlah anak sudah mendapatkan pakaian baru, Hadiana yang kala itu masih berusia 10 tahun justru menantikan kehadiran tukang loak yang menjual baju bekas.

Ia rela menunggu di bawah terik matahari seraya duduk di pinggir kali, demi bisa memakai baju baru di hari besar nanti.

Mengenakan baju kebesaran sudah jadi hal biasa bagi Hadiana. Keterbatasan sudah menjadi kesehariannya. 


Mengenang masa-masa itu, air mata Hadiana kerap mengalir. Namun, itulah yang membuat Hadiana tumbuh menjadi ibu dan perempuan kuat yang mendedikasikan dirinya bagi banyak orang, terutama anak-anak di Jakarta.

Misi Hadiana sederhana, tak ingin anak-anak merasakan apa yang ia rasakan dahulu, dengan cara menghadirkan lingkungan sekitar yang humanis dan harmonis, yaitu lingkungan yang ramah anak.

Hadiana tahu bahwa ia tak bisa melakukan semua hal untuk memperbaiki kehidupan anak-anak, namun lewat pendidikan, ia yakin bisa melakukannya.

[Gambas:Video CNN]

Dari Sumedang, Jawa Barat perempuan yang akrab disapa Diana merantau mengadu nasib di ibukota, Jakarta. Kecintaan pada anak-anak, menuntun Diana memilih menjadi guru Taman Kanak-Kanak (TK) pada 1989. Sejak saat itu, Diana yang kini berusia 50 tahun tak pernah lepas dari dunia mengajar anak-anak.

Pada 2004, Diana memberanikan diri membuka TK Nur Rahmah dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) KB Durian IV dengan modal pekarangan rumahnya di Jagakarsa, Tanjung Barat. TK itu dibuka karena Diana melihat banyak balita yang kurang mampu di sekitar rumahnya yang tak memiliki tempat untuk belajar.

Tak ada ruang kelas yang berwarna-warni layaknya PAUD untuk anak-anak, Diana membuka kelas di teras rumah walau dengan fasilitas seadanya.


"Anak-anak di sini kan banyak, dari dua Posyandu ada sekitar 150 balita ketika itu. Tahun 2004 itu, kurang lebih 100 anak. Itu juga di latar, di teras. Enggak punya ruangan, saya pikir sudahlah, yang penting ayo kita buka," kata Diana saat berbincang dengan CNNIndonesia.com

Perlahan, pekarangan rumah Diana mulai tampak seperti taman bermain untuk anak-anak. Diana bahkan menghias kamarnya menjadi kelas untuk belajar di siang hari.

Berbekal kemampuan menjahit, ibu tiga anak itu menghias kamar menjadi ruangan yang menyenangkan bagi anak-anak untuk bermain dan belajar.

"Kalau malam jadi kamar, kalau siang jadi sekolah. Kasur ibu tutupin dengan kain yang ibu jahit, jadi enggak kelihatan kasur. Nah, kalau malam ibu gelar," tutur Diana sambil tertawa bahagia.

Namun, kamar tidur yang bertransformasi menjadi kelas itu, tak berlangsung lama. Usaha keras Diana membangun TK untuk meningkatkan pendidikan anak-anak diuji dengan terjangan banjir besar pada 2007.


Banjir lebih dari 1 meter itu membuat peralatan belajar mengajar basah dan hancur terendam banjir. Krayon dan buku gambar penuh warna terendam banjir. Bangku dan meja serta lemari rusak parah. Sampah pun berserakan di mana-mana.

"Lagi sedang banyak murid. Kerendam. Yang biasa enggak kena banjir, kena semua. Jadi, ibu pulang bengong aja (melihat TK)," ungkap Diana.

Alhasil, banjir membuat proses belajar mengungsi ke lapangan selama sekitar satu bulan.

Pasca banjir, Diana tak memikirkan bentuk rumahnya. Perhatiannya justru tertuju untuk memperbaiki bangku dan meja untuk TK.

"Saya bilang, 'udah deh enggak usah mikirin rumah, buat sekolah aja. Karena mau nyari perabotan yang bagus juga jadi enggak kepingin," ucap Diana.

Lahirnya 'Ratu Daur Ulang'
Hadiana dan Dedikasi Untuk Pendidikan Anak Usia DiniKarya daur ulang Diana yang terpampang di ruang bermain TK Nur Rahmah. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Seraya membersihkan sampah plastik yang menimbun di rumahnya akibat banjir, ketulusan hati Diana untuk menyediakan fasilitas pendidikan usia dini yang memadai berhasil melahirkan ide untuk mengolah sampah plastik menjadi Alat Pembelajaran Edukatif (APE).

APE merupakan alat yang digunakan untuk proses belajar mengajar di PAUD dan TK, biasanya dibuat bergambar dan berwarna untuk menarik perhatian anak-anak.

"Jadi sampahnya tidak ada yang terbuang. Sampai bekas mi instan dibikin pohon dan bunga, semua ke pembelajaran," ujar Diana.

Daur ulang sampah itu terus berlanjut hingga kini Diana memiliki bank sampah di rumahnya. Diana membuat sendiri semua kebutuhan belajar mengajar untuk PAUD dan TK, misalnya membuat buku bergambar dari bekas kalender yang diberi selotip bening agar tak rusak terkena air, papan tulis dari kardus, dan media kreatif lainnya untuk mengajarkan anak menghitung, menulis, dan membaca.

Juga untuk mengetahui berbagai benda, hewan, tumbuhan, sayuran, dan buah-buahan.


Diana juga mengajarkan anak-anak dan orang tua murid untuk ikut mendaur ulang sampah. Anak-anak sering diminta membawa sampah untuk jadi media belajar.

"Anak-anak diminta menghitung tutup botol, menghitung gelang-gelang. Jadi memang konsepnya ke pembelajaran," kata Diana.

Diana juga mendaur ulang sampah menjadi baju yang diikutkan dalam perlombaan guru PAUD dan TK se-DKI pada 2017 lalu. Dia memperagakan busana daur ulang bak ratu dengan melenggok di pelataran Monas.

Hasilnya, dia berhasil menyabet juara satu. Dari situ lah julukan 'Ratu Daur Ulang' melekat pada Diana hingga kini.

Rela Melepas Status PNS

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2