SURAT DARI RANTAU

Dari Nol di Tanah Paman Sam

Johannes Setiabudi, CNN Indonesia | Sabtu, 23/11/2019 15:38 WIB
Amerika Serikat disebut sebagai negaranya sang pemimpi. Berkarier di tanah itu disebut-sebut mudah, asal mau memulainya dari level bawah. Patung Liberty di Amerika Serikat. (skeeze/Pixabay)
Ohio, CNN Indonesia -- Mengadu nasib selama 23 tahun di Amerika Serikat bisa dibilang keberuntungan dalam hidup saya. Di Negara Paman Sam tentu saja banyak pengalaman yang saya dapatkan.

Di Negara Adidaya ini, saya hidup bersama istri dan dua orang anak saya.

Saya mulai merantau di Amerika sejak menempuh program pendidikan S1 Konsultan Teknologi di The Ohio State University. Setelah lulus, saya langsung mengurus visa kerja dan mencari pekerjaan.


Banyak yang bertanya kepada saya bagaimana cara untuk berkarier di Amerika. Dari pengalaman saya, salah satu cara yang paling jitu ialah dengan menempuh pendidikan di negara ini.

Pekerjaan menuntut saya untuk bertemu dengan klien dan melakukan berbagai rapat dengan team untuk membahas program, simulasi, desain, solusi pembaruan dan menjadi mentor karyawan lain.

Gaji saya berupa dolar Amerika. Jumlahnya memang besar dari rupiah, tapi ada harga mahal yang harus dibayar untuk hidup nyaman di sini.

Di hari kerja, saya dapat menghabiskan kira-kira Rp70 ribu hingga Rp140 ribu, untuk membeli makan, bensin mobil, dan cemilan.

Sedangkan pada saat akhir pekan tiba, saya bisa mengeluarkan sebesar Rp280 ribu hingga Rp422 ribu untuk belanja sembako sampai kongko dengan teman-teman.

Karena kini sudah berkeluarga, pengeluaran tentu saja tambah besar, karena saya memboyong istri dan dua anak ke sini. Godaan terbesar tentu saja dana untuk berwisata.

Satu-satunya cara supaya hidup menjadi lebih hemat adalah mengurangi makan di luar dan memasak di rumah.

Selain sibuk bekerja kantoran, saya juga menjadi leader dalam persekutuan Kristen, Indonesian Cristian Fellowship (ICF) di sini.

Sehingga akhir pekan tidak terlalu sepi, karena kadang saya habiskan bersama kawan-kawan Indonesia yang juga menetap di Amerika.

Walau mahal, tapi saya masih enggan meninggalkan kenyamanan tinggal di Amerika. Jika ditanya apakah saya rindu dengan Indonesia, tentu saja saya rindu. Tapi saya belum ada rencana untuk pulang selamanya ke Tanah Air.

Pasalnya, banyak pekerjaan yang menjanjikan di Amerika, asalkan mau meniti karier dari bawah.

Bedanya, membuka usaha sendiri di sini cukup sulit, tak sama seperti di Indonesia. Urusan perizinan dan besarnya pajak menjadi tantangannya.

Ada cita-cita saya untuk membuka usaha, tapi mungkin akan saya lakukan saat kembali di Tanah Air.

Sama seperti Indonesia, kondisi politik Amerika juga sedang "bergejolak", terutama setelah ada isu pemakzulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Walau banyak pro kontra mengenai hal tersebut, satu hal yang membuat saya salut dari penduduk Amerika adalah mereka berani beropini dan sangat peduli terhadap isu politik dan sosial yang terjadi di negaranya.


---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: [email protected] / [email protected] / [email protected]

[Gambas:Video CNN]

(vvn/ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK