Survei: 3 dari 5 Wanita Alami Pelecehan di Bus Hingga Ojol

tim, CNN Indonesia | Kamis, 28/11/2019 09:38 WIB
Survei: 3 dari 5 Wanita Alami Pelecehan di Bus Hingga Ojol Survei yang dilakukan Koalisi Ruang Publik Aman menemukan 3 dari 5 wanita yang memakai transportasi umum mengalami pelecehan seksual. (Istockphoto/Coldsnowstorm)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) menemukan tiga dari lima perempuan yang menggunakan moda transportasi umum telah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual.

Menariknya, survei ini juga mengungkap bahwa bukan cuma perempuan yang mengalami pelecehan dan kekerasan seksual. Bahkan satu dari sepuluh laki-laki yang menggunakan transportasi umum juga mengalami kekerasan seksual. 

Data ini didapat survei yang dilakukan KRPA terhadap 62.224 responden dari seluruh wilayah Indonesia sepanjang 2018 lalu. 


Survei menemukan sebanyak 46.80 persen responden mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di transportasi umum, bahkan sebanyak 15.77 persen responden menjadikan transportasi umum sebagai sumber masalah kekerasan seksual kedua setelah jalanan. 


"Para responden ini juga mengungkapkan fakta bahwa perempuan memang 13 kali lebih rentan mengalami pelecehan di ruang publik daripada laki-laki," kata Perwakilan dari KRPA, Rastra di Gedung Komnas Perempuan, Jalan Latuharhari, Jakarta, Rabu (27/11). 

Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa ada sekitar 19 bentuk pelecehan seksual yang bisa terjadi di lingkup transportasi umum. Rastra juga mengungkapkan bahwa bentuk pelecehan seksual yang menyerang masyarakat di transportasi umum tak hanya berpusat pada tindakan fisik seperti meraba bagian tubuh tertentu. 

Bentuk-bentuk pelecehan juga berupa pelecehan verbal, fisik, dan non-fisik. 

"Mulai dari pelecehan verbal seperti siulan, suara kecupan, komentar atas tubuh, komentar seksual yang gamblang, seksis, rasial, main mata, foto diam-diam, klakson, hingga mempertontonkan masturbasi di depan publik," kata Rastra. 

"Penting untuk masyarakat tahu beragam bentuk pelecehan ini agar lebih dapat mengidentifikasi sehingga kemudian dapat membantu mengintervensi ketika pelecehan terjadi," jelasnya.

Bus, tempat paling rawan pelecehan

Tak hanya menemukan kerentanan perempuan dalam mengalami pelecehan seksual di transportasi umum, Rastra juga menyebut pihaknya menemukan ada beberapa jenis moda angkutan umum yang paling banyak memakan korban pelecehan seksual baik terhadap laki-laki maupun perempuan. 


Bus sendiri adalah jenis kendaraan umum yang paling banyak terjadi pelecehan seksual. Setidaknya ada 35.80 persen kasus yang terjadi di bus. Sedangkan di angkot sebanyak 29,49 persen, KRL 18.14 persen, ojek online 4.79 persen, dan ojek konvensional sebanyak 4.27 persen. 

"Nah untuk pembagiannnya, sebanyak 35,45 persen responden perempuan melaporkan banyak mengalami pelecehan seksual di bus, sebanyak 17,79 persen responden mengaku mengalami pelecehan di KRL, dan sebanyak 30,01 persen mengalami pelecehan seksual di angkot," kata Rastra. 

ilustrasi bus ilustrasi bus

Sementara untuk responden laki-laki kebanyakan mengalami pelecehan seksual di bus dengan responden mencapai 42.89 persen dan 24,86 persen di KRL, sementara yang mengalami pelecehan di angkot sebanyak 19,65 persen responden. 

Ironisnya, meski ada banyak kasus pelecehan yang terjadi di transportasi umum, namun kenyataannya banyak orang yang melihat kejadian itu justru mengabaikan. Diungkapkannya, banyak korban pelecehan seksual justru diabaikan oleh para saksi di lokasi kejadian. 

Bahkan kata Rastra tak sedikit para saksi ini justru menertawakan hingga menyalahkan korban saat melihat pelecehan seksual terjadi. 

"Hanya beberapa saksi yang berani menolong atau membela korban, misalnya mengkonfrontasi, membela, hingga mencari bantuan pihak ketiga," kata dia. 
(tst/chs)