Menyambangi Habitat 'Monyet Hantu' di Bukit Peramun

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 14:17 WIB
Menyambangi Habitat 'Monyet Hantu' di Bukit Peramun Tarsius. (Istockphoto/efired)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pulau Belitung yang berada di lepas pantai timur Sumatra bukan cuma memiliki objek wisata bahari. Jika mau mengeksplor lebih dalam, turis juga bisa menyambangi Bukit Peramun.

Bukit Peramun berupa hutan yang puncaknya bisa digunakan untuk menikmati sudut Belitung dari ketinggian.

Bukit Peramun terletak di Desa Air Selumar. Lokasinya terletak 21,8 km dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dari Bandara Hanandjoeddin di Belitung.


Hutan ini memiliki 147 jenis pohon yang sebagian besar berkhasiat obat, delapan jenis tanaman anggrek dan 30 jenis lumut.

Ketua komunitas Arsel, yang mengelola Bukit Peramun, Adie Darmawan menjelaskan bahwa 'peramun' berasal dari kata peramuan.

Kata peramuan diambil dari bukti sejarah yang mengatakan di sekitar lokasi pernah ada desa yang dihuni para ahli peracik tanaman berkhasiat obat.

Lokasi tersebut kini menjadi wilayah konservasi dan tertutup untuk pengunjung umum.

"Menurut cerita, dahulu pernah berdiri semacam kampung kecil yang berlokasi di gubuk peramun atau lorong granit. Masyarakatnya sangat ahli meracik tanaman lokal yang berkhasiat obat. Hal tersebut diperkuat dengan penemuan bermacam tanaman berkhasiat obat di bibir lorong granit yang diduga dahulu adalah gubuk peramun," ujarnya, seperti yang dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Senin (9/12).

Untuk menuju puncak yang tingginya 129 mdpl, wisatawan harus berjalan kaki selama sekitar 30 menit dengan sudut kemiringan jalan (elevasi) 35 derajat.

Meski medannya cukup menantang bagi mereka yang tidak terbiasa, namun pemandangan yang tersaji sesampainya di puncak sungguh indah.

Di puncak, wisatawan dapat menikmati keindahan alam sambil berfoto di sekitar batu granit dengan berbagai fasilitas yang disiapkan mulai dari mobil, sepeda ontel, hingga puncak pohon yang dipangkas untuk tempat berfoto.

Jika cuaca mendukung, wisatawan juga bisa menikmati sunset di sana.

Melihat Tarsius dari dekat

Memasuki malam hari di Bukit Peramun, wisatawan dapat melihat monyet kecil bermata besar yang lebih dikenal sebagai Tarsius. Warga setempat biasanya menyebut Pelilian.

Rupa Tarsius memang unik. Ukurannya sebesar anak kucing, berbentuk monyet, berekor panjang, bermata besar, dan bisa memutar leher sebanyak 180 derajat.

Hewan ini juga baru memulai kehidupannya di malam hari alias nokturnal. Oleh karena itu banyak pula yang menyebut Tarsius sebagai monyet hantu.

Keberadaan Tarsius sangat dijaga oleh warga sekitar karena populasinya yang semakin menurun.

Agar tak mengganggu kehidupan kawanan langka ini, wisata ke habitat Tarsius hanya dibatasi selama tiga kali per minggu.

Wisata ke habitat Tarsius juga terbilang unik. Warga yang membiarkan Tarsius hidup bebas di hutan dan baru akan mencarinya ketika ada wisatawan yang ingin melihat. Mereka tidak menempatkannya dalam kandang.

Wisatawan bisa melihat Tarsius pada malam hari saat kawanan ini mencari jangkrik. Waktu ideal yakni pukul 18.30 sampai 21.00. Biasanya wisatawan diberi waktu sekitar 10-15 menit dengan jarak minimal 1 meter dari Tarsius.

Selain itu juga tidak diperbolehkan menyalakan lampu selama memotret. Untuk penerangan, warga setempat akan membantu menggunakan lampu kecil yang diletakkan dibelakang badan Tarsius sehingga tidak menganggu aktivitas hewan imut itu.

"Cahaya lampu flash dapat merusak mata tarsius. Matanya bisa berair cukup banyak dan butuh waktu lama untuk penyembuhannya," kata Adie.

Waktu melihat Tarsius berakhir saat hewan tersebut menunjukan tanda-tanda hendak melompat menuju pohon lain. Jika sudah begitu, pemotretan harus diakhiri dengan membiarkan mereka pergi.

Pemandu lalu menegakkan batang pohon tempat Tarsisus berdiri seperti sediakala dan membiarkannya lompat ke pohon lain.

[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)