Yanti Selan, Dobrak Sekat Diskriminasi Perempuan demi Bola

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 11/12/2019 15:11 WIB
Perempuan diangggap tak pantas bermain sepak bola. Ejekan dan keraguan jadi hal yang biasa bagi Yanti Selan, remaja NTT yang bermimpi jadi pemain sepak bola. Yanti Selan, remaja 15 tahun asal NTT yang mendobrak sekat diskriminasi perempuan demi mimpinya menjadi pemain sepak bola profesional. (CNN Indonesia/ Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Su nde pantas main bola'

Kalimat itu diingat betul oleh Febriyanti Yakoba Selan. Kalimat itu berarti bahwa sebagai seorang remaja perempuan, Febriyanti tak pantas bermain sepak bola.

"Saya didiskriminasi. Perempuan itu tak perlu banyak tingkah, cukup diam-diam saja di rumah," curhat perempuan yang akrab disapa Yanti ini dalam gelaran Summit on Girls 2019 oleh Yayasan Plan International Indonesia di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Selasa (10/12).


Ketertarikan Yanti pada sepak bola telah dimulai sejak sekira tiga tahun yang lalu. Kala itu, Yanti yang masih duduk di bangku SMP, diajak seorang sepupu perempuannya yang berprofesi sebagai pelatih sepak bola.

Diam-diam kemudian Yanti terkesima. Dia menyimpan asa pada sepak bola. Yanti pun mulai ikut berlatih menggelinding bola.

Sayang, kecintaannya pada sepak bola diragukan banyak orang. Karena bola, perempuan 15 tahun ini kerap diremehkan oleh kawan-kawan sebayanya, terutama laki-laki.

Sepak bola dianggap olahraga buat kaum laki-laki. Perempuan dianggap tak pantas dan tak mampu bermain sepak bola. Ejekan sudah jadi hal yang biasa bagi Yanti.

Tak cuma ejekan dari teman sebaya, keraguan juga muncul dari guru Yanti di sekolah hingga orang tua.

Sang ibu tak mendukung keputusan Yanti untuk menggeluti sepak bola. Bagi sang ibu, sebagai seorang perempuan, Yanti harus menjaga penampilan. Sepak bola dianggap bisa membuat Yanti terlihat tak menarik lagi di depan laki-laki.

Sang ibu berharap agar Yanti--sebagai seorang anak perempuan--diam di rumah dan merawat diri. Tak perlu mengikuti kegiatan macam-macam, apalagi sepak bola yang dinilai bisa membuat kulit Yanti semakin gelap.

Praktis selama tiga tahun Yanti menggeluti sepak bola, dukungan dari sang ibu selalu absen. Tak pernah sekali pun mulut sang ibu mengeluarkan kalimat-kalimat positif yang mendukung Yanti. Laga tingkat lokal dilakoni, sang ibu tak pernah datang menyaksikan.

Namun, berbagai ejekan dan keraguan banyak pihak tak membuat siswi SMA Negeri 1 So'E, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur ini patah arang. Nihilnya dukungan justru jadi modal Yanti untuk terus maju dan membuktikan kemampuannya.

Menpora Cup jadi ajang pembuktiannya. Ajang ini sekaligus jadi seleksi tim sepak bola perempuan yang akan mewakili NTT.

Pada laga final, Yanti sengaja mengundang sang ibu untuk turut datang dan menonton. Yanti ingin memberikan kejutan untuk sang ibu dan menunjukkan bahwa dirinya mampu.

Sang ibu yang selama ini tak pernah mau menyaksikan Yanti berlaga, akhirnya luluh dan turun ke podium penonton.

"Saat bermain final, mama turun. [Sebelumnya] mama [selalu] bilang saya enggak bisa. Nah, pas di Menpora Cup saya tunjukkan kalau saya bisa," kata Yanti berbinar.

Sang ibu pun memberikan dukungannya, tapi tentu dengan beberapa catatan. Yanti diminta tetap menjaga sikapnya sebagai seorang perempuan meski tengah menempuh jalan untuk mencapai mimpi menjadi pemain sepak bola perempuan profesional. "Kata mama jangan malu-maluin dan jangan melupakan sekolah," kata Yanti.

Laga Menpora Cup mengantar Yanti beserta tim untuk berangkat ke Jakarta mewakili NTT pada Agustus 2019 lalu. Perolehan posisi ke-16 besar membuat Yanti semakin semangat untuk mewujudkan mimpinya jadi pemain sepak bola profesional.

Meraba Iklim Sepak Bola Perempuan Indonesia

Yanti jadi contoh nyata bahwa siapa pun bisa meraup prestasi lewat sepak bola, tak peduli perempuan atau laki-laki. Yanti berharap agar pemerintah lebih memberi perhatian terhadap perkembangan sepak bola perempuan di NTT.

Pendiri Pro-Direct Soccer Academy Jakarta, Anto Sudaryanto mengakui bahwa perempuan Indonesia punya potensi. Sepak bola perempuan, kata dia, punya kesempatan lebih besar jika wadah yang mumpuni tersedia untuk bakat-bakat luar biasa seperti Yanti.

Keinginan menjadi pemain profesional menjadi alasan utama dari banyak remaja perempuan yang mencoba peruntungan di dunia sepak bola.

Tak cuma itu, beberapa juga beralasan sederhana dengan menganggap pemain bola perempuan sebagai profesi yang keren dan gaya. Tak ada yang salah dengan alasan itu asal diakomodasi dan diarahkan menuju prestasi.

"Kita bisa sentuh hal-hal ini. Mereka senang. Kita buat program latihan yang menyenangkan, lalu bisa buat prestasi," kata Anto.

Di Indonesia, baru-baru ini terdapat ajang yang mewadahi anak-anak perempuan untuk berlaga di lapangan hijau. Liga 1 Putri 2019 jadi batu penjuru buat mereka yang ingin unjuk kemampuan. "Saya punya keyakinan bisa maju," kata Anto.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)