Kisah Kelam PSK India: Pelacuran, Sakit, dan Kehilangan

tim, CNN Indonesia | Rabu, 18/12/2019 22:06 WIB
Kisah Kelam PSK India: Pelacuran, Sakit, dan Kehilangan Rekha, adalah satu dari 5 ribu pekerja tuna susila yang tinggal di kawasan red light district di India mencurahkan kisah kelam di hidupnya.(Istockphoto/nemke)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Ketika pertama kali saya masuk ke dunia ini, beda dengan gadis-gadis lain, saya tidak melawan," kata Rekha, seorang pekerja tuna susila (psk) di India. Air mata mengalir ke pipinya.

"Gadis-gadis lain yang mencoba melarikan diri atau tidak bekerjasama akan dipukuli oleh kotha maliks (pemilik rumah bordil) seolah-olah mereka bukan manusia."

Rekha punya alasan lain mengapa dia memilih untuk menurut dan tak melarikan diri. Dia tak menemukan cara untuk lari dari kehidupannya sebagai pekerja seks.



"Ada sungai api di satu sisi dan tempat tidur duri di sisi lainnya. Ke mana saya akan lari?"

Rekha adalah salah satu pekerja seksual di Garstin Bastion Road atau GB Road, reruntuhan kota tua Shahjahanabad di New Delhi. Kawasan ini adalah salah satu kawasan 'lampu merah' terbesar di India. Ada sekitar 100 rumah bordil dengan lantai kumuh di pinggir jalan.

Di sini ada lebih dari 5.000 psk yang bekerja di red light district ini, salah satunya Rekha. Tapi Rekha bekerja di rumah bordil yang ada di bangunan untuk wanita yang lebih tua, di atas 45 tahun.

Rekha sendiri punya bentuk wajah seperti almond dengan lipstik yang berwarna cokelat kemerahan. Hidungnya 'tajam' dan rambutnya berminyak berbelah tengah. Wajahnya cantik, tapi giginya patah.

"Hidup saya lebih buruk dari anjing," kata dia dikutip dari SCMP.

"Kadang saya berpikir mereka (anjing) akan punya kehidupan yang lebih baik dari saya. Apa yang akan saya katakan? Dunia tempat saya hidup, berbeda dengan dunia Anda. Kita punya dewa dan setan yang berbeda."

Hidupnya bukan miris sejak dewasa, tapi sejak usia 14 tahun, Rekha dilecehkan secara seksual oleh tetangga yang berusia 12 tahun lebih tua darinya. Ayah Rekha, petani di negara bagian Andhra Pradesh marah ketika tahu anaknya diperkosa.

"Ayah mencambuk saya tiap malam sampai saya kehilangan kesadaran," katanya.

"Dia mulai minum (minuman keras), dan ketika tak bisa lagi membayar, dia menjual saya ke penjaga toko untuk beberapa botol alkohol lainnya."

Hidupnya hancur. Namun seperti ribuan psk lainnya, Rekha sudah menghabiskan bertahun-tahun di dunia pelacuran yang gelap. Sebelumnya datang ke Delhi, dia pernah bekerja di Kalkuta.

Sulit untuk lepas dari dunia hitam pelacuran, kata Rekha. Dia tak pernah sekolah, tak bisa baca dan tulis, usianya sudah 47 tahun. Sulit untuknya mencari pekerjaan alternatif. Selain itu dia punya seorang anak berusia lima tahun yang harus dibiayai.

Saat dia muda, dia bisa mendapatkan 10 ribu-15 ribu rupee sebulan. Tapi ceritanya berbeda karena dia sudah lebih tua. Saat ini dia punya penghasilan 5 ribu-6 ribu rupee sebulan.

"Pria suka tubuh perawan muda dengan payudara yang masih kencang, bukan wanita tua dengan payudara kendur dan berkerut," ucapnya.


Untuk sekali aktivitas seksual, tarifnya 200 rupee atau sekitar 40 ribu rupiah per klien, tapi untuk pelanggan tetap dia menurunkannya jadi 150 rupee. Setengah dari jumlahnya untuk pemilik rumah bordil.

Rekha dan perempuan lainnya mungkin bingung ke mana harus mengadu. Pasalnya menjadi psk bukanlah hal yang ilegal, tapi punya rumah bordil atau tepat komersialisasi seks adalah pelanggaran hukum. Dengan aturan ini, rumah bordil GB Road bisa ditutup kapan saja, tapi pemerintah India sejauh ini dianggap masih tutup mata.

Dalam sebuah laporan yang oleh tim peneliti menyimpulkan bahwa pekerja seks, baik secara sukarela atau hasil perdagangan manusia adalah konsekuensi langsung dari kemiskinan dan ketidaksetaraan sosial yang berlaku di masyarakat.

[Gambas:Video CNN] (chs)