Cara Mengatasi Trauma Akibat Pelecehan Seksual

tim, CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 13:02 WIB
Baik pria dan wanita sama-sama bisa trauma setelah menjadi korban pelecehan seksual. Berikut cara mengatasinya. ilustrasi pelecehan seksual (Istockphoto/Favor_of_God)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjadi korban pelecehan seksual merupakan pengalaman traumatik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, bagi laki-laki dan perempuan. Seperti yang terjadi pada korban pelecehan seksual yang dilakukan Reynhard Sinaga di Inggris.

Reynhard terbukti bersalah melakukan kekerasan dan pelecehan termasuk pemerkosaan pada 48 pria di Inggris. Para korban pria itu mengaku mengalami kehidupan yang menderita seperti beralih ke alkohol, mengisolasi diri dari sosial, panik, cemas, dan membahayakan diri sendiri seperti bunuh diri.

Trauma karena pelecehan seksual tersebut dapat diatasi dengan sejumlah cara agar tak mengganggu aktivitas dan kehidupan.


Psikolog Personal Growth Gracia Ivonika menjelaskan pada dasarnya tidak ada perbedaan khusus untuk memulihkan trauma pada pria dan wanita.

"Penanganan trauma yang diberikan kepada korban disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing korban," kata psikolog yang akrab disapa Ivon itu kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/1).


Ivon menjelaskan penanganan pertama pada korban pelecehan dan perkosaan adalah memastikan keamanannya, termasuk keamanan emosional. Dalam penanganan psikologis, pada tahap awal akan dilakukan pemeriksaan psikologis untuk mengetahui kondisi korban,

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, psikolog akan menetapkan penangan yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi korban. Beberapa penanganan dengan pendekatan psikoterapi yang umum diberikan untuk korban perkosaan adalah Eye Movement Desensitisation and Reprocessing (EMDR), Cognitive Behavioral Therapy (CBT), dan support group therapy.

Menurut Ivon, proses pemulihan trauma membutuhkan waktu yang tak sebentar bagi korban. Tujuannya adalah korban benar-benar bisa menerima dan berdamai dengan kejadian tersebut.

Berikut sejumlah cara mengatasi trauma akibat pelecehan seksual pada pria dan wanita.

1. Terbuka dengan kejadian yang dialami
Jangan menyimpan sendiri atau bahkan menutup-nutupi kejadian pelecehan seksual. Terbukalah dengan kejadian negatif yang dialami tersebut. Berbagi cerita dengan orang yang dapat dipercaya dan dapat membantu melewati masa-masa sulit seperti keluarga, sahabat, pasangan, dan tenaga ahli seperti polisi, psikolog atau dokter.

"Hal ini akan membuat Anda lebih lega dan seiring proses pemulihan berlangsung, kamu dapat semakin menerima pengalaman negatif tersebut menjadi bagian dari hidupmu dan membantu Anda menarik pelajaran positif yang berguna untuk ke depannya," ucap Ivon.


2. Mengikuti support group
Bergabung dengan support group merupakan salah satu bentuk terapi penyembuhan. Support group merupakan kelompok dukungan yang terdiri dari orang-orang yang memiliki atau pernah mengalami masalah yang serupa.

Bergabung dengan grup ini dapat membantu agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi masalah. Berbagai informasi dan pengalaman juga dapat membantu mempercepat pemulihan.

3. Menenangkan diri
Kejadian traumatis dapat tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan pada situasi yang tak terduga. Ingatan ini dapat memunculkan kepanikan, kecemasan, dan ketakutan. Saat hal itu muncul, cobalah untuk menenangkan diri.

Menenangkan diri dapat dilakukan dengan menarik napas panjang secara perlahan. Pergi ke tempat lain juga dapat membuat perasaan lebih tenang. Menghubungi orang yang dipercaya juga dapat meringankan perasaan khawatir dan cemas.

4. Berolahraga
Berolahraga secara rutin dapat membantu mengelola emosi dengan lebih baik setelah mengalami kejadian yang traumatis. Studi menunjukkan olahraga secara teratur dapat mengurangi stres dan depresi.

Jika bosan berolahraga di dalam ruangan, berolahraga di ruang terbuka seperti taman, pantai, dan pegunungan juga dapat mengurangi stres.

5. Kegiatan sosial
Jangan mencoba untuk menutup atau mengisolasi diri. Ivon menyarankan untuk selalu terhubung dengan lingkungan sosial. Misalnya, dengan berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti aktivitas relawan. Studi menunjukkan aktivitas relawan dapat meredakan stres dan rasa sakit.

Selain itu, dukungan dari orang terdekat juga penting untuk dapat bangkit kembali menjalani kehidupan.

"Kehadiran dan dukungan dari orang terdekat juga merupakan hal penting untuk membantu korban bangkit dan kembali melanjutkan hidup mereka. Dukungan yang dapat diberikan tidak hanya dengan hadir secara fisik, tetapi juga hadir untuk memberikan dukungan emosional bagi korban," kata Ivon.

(ptj/chs)