Hymenoplasty, Operasi Keperawanan yang Makin Marak di Inggris

tim, CNN Indonesia | Senin, 13/01/2020 16:00 WIB
Hymenoplasty, Operasi Keperawanan yang Makin Marak di Inggris Operasi mengembalikan keperawanan tengah marak di Inggris. Jumlahnya bahkan bisa meningkat empat kali lipat dari jumlah enam tahun lalu.(Istockphoto/loonger)
Jakarta, CNN Indonesia -- Operasi mengembalikan keperawanan tengah marak di Inggris. Dokter-dokter di sana dilaporkan bisa menghasilkan uang berlimpah dari operasi mengembalikan keperawanan pada wanita muda atau revirginisasi.

Menurut The Sunday Times, industri rahasia revirginisasi ini tengah berkembang di Inggris seiring dengan tekanan dari keluarga kepada calon pengantin perempuan untuk membuktikan kalau mereka masih perawan.

Laporan ini mengklaim bahwa setidaknya ada 22 klinik swasta yang menawarkan operasi perbaikan selaput dara atau mengembalikan keperawanan yang dalam dunia medis disebut sebagai hymenoplasty. Satu kali operasi disebut membutuhkan biaya sampai 3 ribu poundsterling (setara dengan Rp53 juta).


Operasi dilakukan dengan prosedur selama satu jam dan menggunakan anestesi lokal. Operasi untuk mengembalikan keutuhan selaput dara para wanita ini akan direkonstruksi untuk mengembalikan kembali lapisan kulit di vagina yang sobek saat berhubungan intim.


Mohammad Massod, direktur di London clinic MAS Gynaecology mengungkapkan bahwa permintaan untuk operasi ini meningkat empat kali lipat dari enam tahun lalu.

Mengutip Metro, seorang gadis di sekolah Arab Saudi di London dilaporkan menghabiskan 1500 pounsterling untuk menjalani operasi tersebut. Hal ini dilakukan beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-18 karena perjodohan yang dilakukan orang tuanya.

"Saya punya pacar rahasia dan kami bahagia. Saya tahu kalau orang tua saya tak akan pernah membiarkan kami menikah," kata dia.


Gadis tersebut mengungkapkan kalau kakaknya akan marah jika keluarganya tahu kalau dia sudah tak perawan lagi. Selain itu ada tekanan sebuah ekspektasi dari calon mertuanya yang mengharapkan untuk melihat ada bercak darah di seprai di malam pertama pernikahan anak dan menantunya itu.

Usai melakukan operasi itu, dia mengaku lega ketika dia 'berdarah' di malam pertama pernikahannya.

"Beberapa wanita berada dalam situasi ketika mereka tidak berdarah di malam pertama maka ada stigma kalau pernikahan mereka tidak akan berhasil," kata Masood.

"Kebahagiaan dan kesejahteraan perkawinan mereka tergantung pada keperawanan dan tidak membawa nama buruk untuk keluarga."

(chs)