SURAT DARI RANTAU

Kisah WNI di Kota yang Diisolasi Akibat Virus Corona

Siti Mawaddah, CNN Indonesia | Minggu, 26/01/2020 14:02 WIB
Denyut kehidupan seakan melambat di Wuhan. Penduduk tidak boleh meninggalkan kota. Sekilas mirip suasana dalam film post-apokaliptik. Suasana kota Wuhan di tengah isu mewabahnya virus corona. (HECTOR RETAMAL / AFP)
Wuhan, CNN Indonesia -- Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China jadi pepatah yang terwujud secara harafiah dalam hidup saya. Saya sudah bermukim di Negeri Panda ini, tepatnya di Wuhan, Provinsi Hubei, sejak tahun 2017 ketika berhasil mendapatkan beasiswa China Scholarship Counsil.

Dari beasiswa itu saya mendapat kesempatan menempuh pendidikan di Hubei University jurusan Criminal Law. Belajar soal hukum dalam bahasa pengantar mandarin tentu saja menjadi salah satu tantangan paling besar dalam hidup saya.

Menulisnya saja sulit apalagi mengucapkannya. Tapi itulah tantangan untuk menuntut ilmu sampai negeri China kan?


Selama berkuliah di sini, saya bermukim di asrama mahasiswa. Sama seperti warga negara Indonesia yang sedang merantau, tentu saja kadang ada rasa rindu pulang ke Tanah Air untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman, makan makanan khas Indonesia, dan lainnya.

Namun saya pikir toh suatu hari saya bakal pulang kampung, jadi perasaan rindu berusaha saya tahan dengan berkumpul bersama teman-teman baru di sini.

Kota Wuhan yang adem ayem mendadak gempar belakangan ini setelah coronavirus atau virus corona mewabah. Kehebohannya terasa sejak 31 Desember 2019, berawal dari kasus orang yang jatuh sakit karena mengidap penyakit mirip pneumonia; flu, sakit kepala, batuk, demam tinggi, sesak napas, dan radang tenggorokan.

Saat itu virusnya belum diketahui, hingga 7 Januari 2020 pihak berwenang China mengidentifikasi bahwa penyebabnya adalah virus corona.

Denyut kehidupan seakan melambat di Wuhan, apalagi setelah kota ini diisolasi dari luar pada 23 Januari 2020 demi mencegah penyebaran virus yang ternyata telah singgah di sejumlah kawasan dan negara tetangga.

Isolasi berarti saya, penduduk, turis, tidak boleh keluar dari Wuhan hingga batas waktu yang tak ditentukan. Akses transportasi darat, laut, dan udara yang melintasi Wuhan ditutup, padahal kota ini merupakan salah satu kota transit yang utama di China.

Berdasarkan data yang diperoleh pada 25 Januari 2020, ada 1.287 orang yang sudah terinfeksi virus corona dan ada 41 orang yang sudah meninggal. Karena dilarang bepergian ke tempat publik, saya dan mahasiswa lain di asrama hanya bisa mengurung diri di kamar.

Petugas kesehatan merawat pasien yang diduga terjangkit virus corona. (STR / AFP)

Alhamdulillah, saya dan seluruh mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Wuhan masih sehat walafiat. Pihak kampus meminta kami mengenakan masker saat keluar kamar, mencuci tangan dengan sabun, dan langsung lapor jika mengalami demam di atas 37 derajat Celcius.

Hingga saat ini makanan, minuman, aliran air, dan listrik masih tersedia di asrama. Hanya saja sudah seminggu kami tidak bisa beraktivitas secara normal. Perasaan bosan, gusar, dan takut menghantui kami. Sampai timbul pikiran "apakah kami yang menjadi korban selanjutnya?"

Virus corona mewabah jelang Imlek. Tentu saja suasana Tahun Baru China di Wuhan yang biasanya meriah kali ini terasa lebih suram.

Biasanya jelang Imlek jalanan di Wuhan terlihat ramai dipenuhi orang-orang dengan air muka bersukacita hendak pulang kampung berkumpul dengan keluarganya.

Namun kini hanya segelintir orang yang terlihat di jalanan, sebagian besar petugas keamanan atau petugas kesehatan dengan pakaian lengkap, mengenakan masker. Sekilas mirip suasana dalam film post-apokaliptik.

Suasana sepi di kota Wuhan di tengah isu mewabahnya virus corona. (HECTOR RETAMAL / AFP)

Saya membaca artikel bahwa pemerintah Amerika Serikat dan Prancis berencana membuat kesepakatan dengan pemerintah kota Wuhan untuk mengijinkan warga mereka keluar dari Wuhan menuju ke kota Changsa atau ke daerah terdekat lainnya, yang kemudian bisa diterbangkan ke negara mereka.

Saya dan mahasiswa Indonesia lain di sini sangat berharap kepada pemerintah Indonesia mengambil tindakan yang sama untuk segera memulangkan kami ke Tanah Air, atau setidaknya mengeluarkan kami dari Wuhan lalu menampung kami terlebih dahulu di KBRI Beijing.

Saya terus berdoa agar wabah virus corona cepat berlalu dan kota Wuhan bisa kembali ceria seperti sedia kala.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik wisata di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com / ardita@cnnindonesia.com


[Gambas:Video CNN]


(ard)