Belum Ada Uji Klinik Obat HIV Bisa Jadi Vaksin Virus Corona

tim, CNN Indonesia | Kamis, 30/01/2020 06:04 WIB
Belum Ada Uji Klinik Obat HIV Bisa Jadi Vaksin Virus Corona Ilustrasi: Belum ada uji klinik obat HIV bisa digunakan untuk vaksin virus corona. (Chinatopix via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Uji coba untuk mengatasi virus corona jenis terbaru atau 2019-nCov masih dilakukan sejumlah pihak, utamanya otoritas di China. Kasus penyebaran virus corona pertama kali dikonfirmasi pada 31 Desember 2019 lalu. Wabah virus corona diduga pertama menyebar dari pasar ikan dan hewan di tengah kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China.

Hingga Rabu (29/1) ini, wabah yang hampir sama seperti penyakit Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) tersebut telah menelan setidaknya 132 nyawa di China. Sementara pihak berwenang China melaporkan ada 6.000 kasus corona yang ditemukan.

Sampai saat ini vaksin virus corona belum berhasil ditemukan.


Riset yang diterbitkan jurnal The Lancet mengungkapkan belum ada metode pengobatan yang terbukti manjur. Hanya saja, para ahli dari pelbagai lembaga penelitian medis ini mengatakan ada dua obat yang kerap digunakan untuk pengobatan Sars saat epidemi virus corona melanca China pada 2002 dan 2003.


Yakni, kombinasi antara lopinavir dan ritonavir. Kedua jenis antiretroviral ini digunakan pada perawatan pasien HIV bersama antiretroviral (ARV) lainnya.

"Belum ada antivirus untuk penanganan virus corona yang terbukti efektif. Namun sepanjang perjalanan penelitian, kombinasi antara lopinavir dan ritonavir di antara pasien SARS-CoV bisa dikaitkan dengan manfaat klinis yang substantif," tulis jurnal The Lancet yang dipublikasikan pada Jumat (24/1).

Sebelumnya percobaan dilakukan untuk kasus SARS dan MERS. Hasilnya, bukti praklinis menunjukkan kemanjuran dua antiretroviral tersebut. Sedangkan karena 2019-nCov adalah virus yang baru muncul, maka pengobatan yang efektif pun belum dikembangkan.

Namun Jurnal internasional itu juga menyebut, kedua obat tersebut lazim tersedia di rumah sakit. Karena itu beberapa rumah sakit mulai berinisiatif melakukan uji coba terkontrol secara acak untuk menilai kemanjuran dan keamanan penggunaan kombinasi ritonavir dan lopinavir untuk pasien yang terinfeksi 2019-nCov.


Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan di tengah wabah seperti ini, wajar bila otoritas kesehatan melakukan pelbagai uji coba untuk mengeliminasi virus. Toh pada dasarnya infeksi yang disebabkan virus corona--sebagaimana virus influenza--sebagian besar bergantung pada sistem kekebalan tubuh. Sehingga percobaan antivirus ini sangat dimungkinkan.

Karena itu ia juga meyakini, orang yang terinfeksi virus corona bisa pulih dengan sendirinya. Asalkan, diberikan penanganan dan pengobatan sesuai dengan diagnosa terhadap kondisi pasien.

"Sebagian besar bisa sembuh sendiri sebetulnya, selama tidak ada komplikasi. Jadi infeksi virus ini kan lebih mengandalkan sistem kekebalan tubuh pasiennya. Jadi, yang menyebabkan kematian itu bukan virusnya itu sendiri, tetapi komplikasi yang ada," jelas Soebandrio kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Rabu (29/1).

Termasuk, uji coba kemanjuran kombinasi lopinavir dan ritonavir. Meskipun sah saja, tetapi profesor yang pernah mengkaji soal virus zika ini menegaskan hingga kini belum ada hasil uji klinis khusus mengenai vaksin corona jenis terbaru.


"Ya sebetulnya belum seperti kita ketahui, belum ada obat antivirus yang spesifik untuk virus corona ini," tutur Amin Soebandrio.

"Tapi itu upayanya bisa mulai pakai obat herbal sampai dengan antivirus yang ada. Dan antivirus itu banyak jenisnya, untuk HIV sendiri, untuk herpes sendiri. Kemudian dicobalah, tentu berdasarkan berbagai pertimbangan, jika memang bisa diketahui bisa menghambat virus corona," sambung dia.

Ia kembali mengutarakan, hingga kini belum ada kesimpulan yang mengerucut ke vaksin virus corona atau 2019-nCov. Sebab untuk menentukan obat pilihan pun, diperlukan uji klinik dengan tahapan dan proses panjang. Namun jika telah ada kasus yang menunjukkan bahwa kedua obat itu berhasil menyembuhkan pasien virus corona, maka antiretriviral ini bisa dijadikan salah satu kandidat pengujian.

"Kalau sudah menggunakan pengalaman obat antivirus untuk virus corona lain, ini lebih besar kemungkinannya walaupun belum bisa dipastikan. Artinya tidak selalu obat yang sama bisa membunuh virus corona, harus dikaji kembali. Dengan adanya pengalaman seperti itu, obat itu bisa dijadikan kandidat yang lebih kuat," pungkas Amin Soebandrio.

[Gambas:Video CNN]


(NMA/NMA)