Psikolog: Kerajaan Fiktif, Indikasi Gangguan Waham Kebesaran

tim, CNN Indonesia | Jumat, 31/01/2020 20:08 WIB
Psikolog: Kerajaan Fiktif, Indikasi Gangguan Waham Kebesaran Sejumlah kerajaan fiktif muncul beberapa waktu belakangan. Mulai dari Kerajaan Agung sejagat di Purworejo, Kerajaan Jipang di Blora dan Kerajaan Sunda Empire di Bandung yang diklaim sudah muncul sejak 2017. ( iStock/Liliboas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah kerajaan fiktif muncul beberapa waktu belakangan. Mulai dari Kerajaan Agung sejagat di Purworejo, Kerajaan Jipang di Blora dan Kerajaan Sunda Empire di Bandung yang diklaim sudah muncul sejak 2017.

Kerajaan-kerajaan ini pun diklaim memiliki banyak pengikut setia. Fenomena apa yang menyebabkan munculnya banyak kerajaan baru di Indonesia ini?

Psikolog Personal Growth Linda Setiawati mengungkapkan bahwa munculnya kerajaan-kerajaan fiktif ini terkait dengan gangguan psikologis waham kebesaran. Dia mengungkapkan bahwa seseorang yang meyakini sesuatu yang fiktif terkait dengan grandiose delusion atau waham kebesaran.


"Jika ada seseorang yang percaya bahwa ia adalah keturunan raja, kemudian berlanjut membuat kerajaan fiktif, di psikologi klinis, hal tersebut merupakan gangguan psikologis yang disebut sebagai waham kebesaran," kata Linda kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Waham kebesaran merupakan salah satu dari bentuk waham. Berdasarkan buku panduan psikologi Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM V), waham atau delusi merupakan keyakinan tetap di dalam diri seseorang yang sulit diubah, meski bukti-bukti konkret menunjukkan hal yang bertentangan.

Waham kebesaran secara spesifik merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya memiliki karakteristik yang spesial sehingga berbeda dengan orang lain. Karakteristik itu dapat berupa kekuatan hebat, terkenal, atau kaya raya.

Namun, untuk dapat menegakkan diagnosis terhadap seseorang, Linda menyebut psikolog  klinis atau psikiater perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Menurut Linda perlu dipahami apa yang menjadi motif di balik munculnya kerajaan tersebut. Selain karena gangguan psikologis, bisa pula karena tujuan tertentu seperti ekonomi atau kriminal.


"Namun, terkait berbagai kasus yang muncul saat ini, dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk bisa mengatakan apakah pembuat kerajaan tersebut benar-benar memiliki gangguan psikologis atau tidak, atau malahan menggunakan cerita tersebut sebagai cara untuk melakukan hal-hal yang memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri," ungkap Linda. (ptj/chs)