Kisah Peracik Kopi Ganja di Persembunyian Aceh

tim, CNN Indonesia | Kamis, 06/02/2020 15:17 WIB
Kisah Peracik Kopi Ganja di Persembunyian Aceh Bisnis sembunyi-sembunyi mencampurkan ganja ke dalam dunia kuliner masih marak di Aceh sekalipun banyak pertentangan. (Mladen ANTONOV / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tangan terampil Agus (bukan nama sebenarnya) mulai memasukkan sendok kayu ke dalam panci yang penuh dengan campuran kopi dan juga ganja. Dengan hati-hati dia mulai memanggang dan meraciknya dengan takaran dosis yang tepat.

Ia berhati-hati bukan hanya untuk menjaga diri tetap sadar tak 'fly', tapi juga untuk menghindari tercium polisi di Provinsi Aceh.

Agus meracik minuman legal yang tren di kalangan penduduk lokal dan orang lain di kepulauan Asia Tenggara lainnya. Satu kilogram kopi ganja ini dijual dengan harga Rp1 juta.


Menguntungkan memang, tapi seperti diketahui ini adalah bisnis berisiko di Aceh dan juga di daerah-daerah Indonesia lainnya. Aceh pasti lebih ketat, perbuatan yang melanggar hukum Islam akan mendapat hukuman cambuk.

Tapi juga bukan rahasia kalau dulunya penduduk lokal Aceh juga punya banyak pohon ganja yang ditanam di belakang rumahnya. Agus sendiri termasuk dari produsen ganja terkenal dengan ladang yang diklaim pejabat setempat sekitar tujuh kali luas Singapura.


Mengutip AFP, kini, sejak tujuh tahun lalu sejak diadopsinya undang-undang pelarangan narkoba dan diterapkan hukuman mati bagi pengedar, bisnis dan kepemilikan ganja menjadi ilegal. Indonesia menyatakan diri berada di tengah darurat narkoba karena melonjaknya penggunaan metamfetamin.

Terlepas dari risiko terkait penjualan ganja, Agus mengatakan kalau dia tak terlalu takut masuk penjara.

"Bagaimana bisa melarang sesuatu yang ada di mana-mana," katanya.

"Semua ada di seluruh Aceh. Hukuman berat hanya akan membuatnya jarang terlihat di publik tapi orang-orang masih akan memakainya."

Alih-alih khawatir masuk penjara, Agus ternyata lebih memikirkan cara mendapatkan racikan tepat kopi ganjanya. Sekitar 70 persen java coffee dan 30 persen ganja.

"Jika Anda memasukkan lebih dari 30 persen ganja, maka rasa kopi akan hilang."

Ladang ganja di AcehFoto: (CNN Indonesia/Dani)
Ladang ganja di Aceh


Agus dulunya menggeluti pekerjaan lain. Namun dia mengganti kariernya yang bergengsi untuk mengelola bisnis kopi ganja karena dianggap lebih menguntungkan dan bisa menghidupi keluarganya dengan lebih baik.

"Saya ingin fokus pada kopi karena ini adalah keahlian saya."

Dia mengklaim bahwa kopi buatannya menawarkan rasa yang menyenangkan, tak terlalu 'tinggi' dibanding rokok atau dodol ganja. Kata dia, ini bisa menimbulkan halusinasi.


Sejarah ganja di Aceh

Beberapa orang mengatakan kalau tanaman ganja ini dibawa oleh penjajah Belanda ratusan tahun lalu. Tanaman ini dibawa sebagai hadiah untuk sultan.

Akan tetapi sejarahwan lokal Tarmizi Abdul Hamid mengatakan bahwa penggunaan ganja --untuk banyak hal dari obat, kuliner, sampai pestisida, dan mengawetkan makanan-- ditemukan dalam manuskrip yang telah ada sebelum kedatangan Belanda.

"Ini menunjukkan bahwa ganja bisa digunakan untuk menghilangkan kebotakan dan tekanan darah tinggi," katanya.

"Ganja juga digunakan untuk memasak dan obat. Tapi, merokok ganja tidak disebutkan dalam buku kuno tersebut."

[Gambas:Youtube]




(chs)