Kenali Beda Psikolog dan Psikiater

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 22/02/2020 16:58 WIB
Psikolog dan psikiater adalah dua hal yang berbeda. Keduanya bekerja sama dan memiliki peran masing-masing dalam menangani pasien gangguan mental. Ilustrasi. Meski berbeda, psikolog dan psikiater saling bekerja sama dan memiliki perannya masing-masing untuk menangani pasien dengan masalah kesehatan mental. (Istock/SDI Productions)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sama-sama mengatasi kesehatan mental, psikolog dan psikiater adalah dua profesi yang berbeda. Namun, sampai saat ini masih banyak orang yang menganggap keduanya sama.

Secara profesi, psikiater merupakan seorang dokter spesialis yang menangani kesehatan jiwa. Mereka umumnya mengambil sekolah kedokteran untuk kemudian mengkhususkan diri dalam bidang psikiatri.

Sebagai seorang dokter, psikiater punya kemampuan untuk mendiagnosis gangguan mental yang dialami pasien dan menemukan pengobatan yang diperlukan.


Seorang psikiater fokus pada ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak. Itulah sebabnya kebanyakan psikiater memberikan terapi berupa obat-obatan.

Mengutip Healthline, psikiater umumnya lebih sering menangani pasien dengan kondisi gangguan mental yang memerlukan pengobatan. Beberapa kondisi yang membutuhkan bantuan psikiater di antaranya gangguan cemas, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan bipolar, depresi mayor, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), dan skizofrenia.

Beberapa obat yang diresepkan di antaranya antidepresan, obat antipsikotik, penstabil suasana hati, stimulan, dan obat penenang.

Berbeda dengan psikiater, psikolog tak mempelajari ilmu kedokteran. Psikolog hanya mengenyam pendidikan psikologi untuk kemudian meneruskan program profesi demi berpraktik sebagai psikolog.

Profesi psikolog klinis adalah yang paling dekat dengan psikiater. Seorang psikolog klinis menangani kasus-kasus kejiwaan, mendiagnosis gejala psikologis pasien, dan melakukan psikoterapi sebagai bentuk penanganan.

Namun, perlu dicatat, psikolog tidak dapat meresepkan obat-obatan pada pasien. Psikolog akan lebih berfokus pada terapi untuk mengatasi perilaku, pikiran, dan emosi pasien.

Ilustrasi. Meski sama-sama menangani kesehatan mental, psikolog dan psikiater adalah dua profesi yang memberikan penanganan berbeda. (Istockphoto/Tunatura)

Umumnya, terapi bersama psikolog dilakukan dengan sesi mengobrol satu sama lain tentang apa saja. Selama sesi inilah, psikolog bekerja untuk memahami gejala-gejala yang muncul pada pasien.

Ada pula terapi perilaku kognitif (CBT). Nama terakhir merupakan jenis terapi bicara yang sering digunakan psikolog. Terapi ini fokus untuk mengatasi pikiran negatif dan pola pikiran pasien.

Selain itu, psikolog juga memungkinkan memberikan pasien jenis terapi-terapi lainnya sesuai kebutuhan. Salah satunya adalah terapi seni yang juga disebut efektif mengatasi masalah mental.

Meski kedua profesi tersebut saling berbeda satu sama lain, psikolog dan psikiater memainkan peran penting dalam penanganan kesehatan mental. Mengutip Very Well Mind, mereka kerap saling bekerja sama untuk memberikan perawatan terbaik bagi pasien.

Sebagai contoh, pasien dapat memulai dengan menemui dokter umum tentang gejala psikologis yang dialami. Sebagai catatan, gangguan mental pada umumnya menimbulkan gejala fisik yang samar.

Setelah evaluasi, dokter akan merujuk pasien ke psikolog untuk pemantauan lebih lanjut. Pada tahap selanjutnya, psikolog akan mengamati, menilai, dan mendiagnosis gejala sebelum merujuknya ke psikiater. Setibanya pada tahap psikiater, pasien akan diberikan terapi obat-obatan sesuai kebutuhan.

Dengan kata lain, psikolog menawarkan intervensi perilaku dan pola pikir dan psikiater mendukungnya dengan menyediakan pengobatan medis untuk mengatasi gejala pasien.

Jenis pendekatan yang dibutuhkan tergantung pada keparahan gejala, serta kebutuhan dan keinginan pasien. Beberapa pasien menyukai penanganan yang cukup dengan psikoterapi, beberapa yang lain menyukai kombinasi psikoterapi dengan pemberian obat-obatan.

[Gambas:Video CNN]

(asr/asr)