Alasan Serangan Jantung Sering Terjadi Pagi Hari

tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/02/2020 20:03 WIB
Alasan Serangan Jantung Sering Terjadi Pagi Hari Serangan jantung lebih sering terjadi di pagi hari dibandingkan waktu lainnya. (Istockphoto/wildpixel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan jantung lebih sering terjadi di pagi hari dibandingkan waktu lainnya. Seperti yang terjadi pada suami aktris Bunga Citra Lestari (BCL), Ashraf Sinclair. Ashraf meninggal dunia karena serangan jantung pada pukul 04.51 WIB di Rumah Sakit MMC Kuningan.

Ashraf merupakan satu dari banyak orang yang meninggal dunia karena serangan jantung di pagi hari. Penelitian menunjukkan di pagi hari, risiko serangan jantung lebih tinggi 40 persen, risiko kematian karena jantung meningkat 29 persen, dan risiko terkena stroke 49 persen.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Sony Hilal menjelaskan terdapat dua kemungkinan penyakit yang dapat menyebabkan serangan jantung di pagi hari.


"Ada dua kemungkinan penyebab serangan jantung di pagi hari. Pertama, aritmia fibrilasi ventrikel dan sindrom koroner akut atau penyumbatan pembuluh darah koroner," kata Sony kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/2).

Sony menyebut penyakit yang menyebabkan serangan jantung ini muncul di pagi hari karena kecenderungan pada sejumlah orang mengalami tekanan darah yang cukup tinggi. Tekanan darah yang naik signifikan meningkatkan risiko terjadinya ruptur atau pecahnya plak aterosklerosis. Plak yang pecah akan menimbulkan pembekuan darah yang menyumbat pembuluh darah arteri.


"Penyumbatan pembuluh darah arteri menyebabkan darah yang membawa oksigen tidak sampai ke jantung. Inilah yang menyebabkan serangan jantung. Kalau pecahnya di kepala, maka menyebabkan stroke," kata Sony yang praktik di RS Universitas Indonesia.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Vito Damay juga menyebut tekanan darah di pagi hari cenderung mengalami kenaikan karena sejumlah alasan.

"Di pagi hari, tubuh dipersiapkan untuk bangun beraktivitas. Cenderung pada sebagian orang tekanan darahnya juga naik. Lalu di malam hari, ada hipotesis karena tertidur di malam hari tubuh "puasa", tidak minum jadi cenderung lebih dehidrasi sehingga pembekuan darah relatif lebih mudah terjadi," kata Vito yang praktik di RS Siloam Karawaci kepada CNNIndonesia.com.


Namun, menurut Vito, alasan itu kini menjadi rancu karena banyak orang yang juga aktif bekerja hingga larut malam. Alasan ini hanya merupakan alasan kecil yang menjadi faktor risiko serangan jantung.

Faktor risiko serangan jantung yang utama adalah pola hidup tidak sehat, tidak berolahraga, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, merokok dan diabetes.

"Yang terpenting adalah mencegah faktor risiko seperti merokok, diabetes, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan obesitas," ujar Vito. (ptj/chs)