Cara Memeriksa Kondisi Kesehatan Jantung Sendiri

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 19/02/2020 14:27 WIB
Cara Memeriksa Kondisi Kesehatan Jantung Sendiri Ilustrasi: Pemeriksaan kondisi kesehatan jantung bisa dilakukan sendiri secara mandiri ataupun dengan bantuan dokter. (Foto: Istockphoto/clubfoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memeriksa kesehatan jantung sejak dini menjadi hal penting dilakukan. Karena serangan jantung ataupun penyakit jantung lainnya bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan terhadap orang yang belum terdeteksi memiliki masalah pada jantung dan pembuluh darah, seperti yang dialami Ashraf Sinclair.

Suami aktris Bunga Citra Lestari itu meninggal dunia akibat serangan jantung pada Selasa (18/2). Padahal menurut perwakilan keluarga, Ashraf tak memiliki riwayat penyakit serius.

Itu sebab untuk memastikan kesehatan jantung, dokter menyarankan pengecekan secara berkala. Pemeriksaan kondisi jantung dan pembuluh darah dapat dilakukan sendiri ataupun dengan bantuan dokter.


Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Sony Hilal, penyakit jantung sering kali tak terdeteksi karena tidak menimbulkan gejala klinis. Namun, sewaktu-waktu penyakit ini dapat menyebabkan serangan jantung.


Oleh karena itu, Sony menyebut setiap orang perlu memeriksa kondisi jantung untuk mencegah penyakit yang dapat muncul tiba-tiba, seperti serangan jantung ataupun stroke.

"Pemeriksaan sendiri juga bisa dilakukan dengan bantuan pengukuran kalkulator ASCVD yang tersedia di internet dan aplikasi," kata Sony yang juga merupakan Ketua Departemen Informasi Komunikasi dan Pengabdian Masyarakat PP PERKI, kepada CNNIndonesia.com.

Cara memeriksa kesehatan jantung sendiri dapat dilakukan dengan menggunakan kalkulator estimasi risiko penyakit kardiovaskular atau ASCVD (Atherosclerotic Cardiovascular Disease). Aplikasi kalkulator ini bisa diunduh di App Store ataupun Android.

Situs American College of Cardiology juga menyediakan kalkulator pengukuran risiko atau bisa melalui link ini.


Penggunaan kalkulator ini membutuhkan sejumlah informasi yakni:
- usia
- jenis kelamin
- ras
- tekanan darah sistolik
- kolesterol total
- kolesterol HDL
- riwayat diabetes
- status merokok
- perawatan hipertensi

Informasi seperti tekanan darah diastolik, kolesterol LDL, penggunaan statin, dan terapi aspirin juga bisa ditambahkan. Pengukuran kolesterol dapat dilakukan dengan pengecekan darah di laboratorium.

Informasi-informasi tersebut bisa langsung dimasukkan ke kalkulator. Lalu, kalkulator akan menghitung dan mengeluarkan sejumlah angka dalam satuan persen.

Indikator
- kecil dari 5 persen berisiko kecil
- antara 5-7,4 persen ada di batas risiko
- antara 7,5-19,9 persen berisiko sedang
- besar dari 20 persen berisiko tinggi

Sony menjelaskan, orang dengan kategori risiko kecil tidak membutuhkan perawatan maupun pengobatan. Tapi kelompok ini harus selalu menjalankan gaya hidup sehat.


Sedangkan pada kelompok batas risiko, sedang, dan tinggi dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Biasanya, dokter akan melakukan CT Scan jantung tanpa kontras untuk melihat kondisi plak aterosklerosis di jantung dan pembuluh darah. Plak yang menumpuk akan sangat berbahaya.

"Perlu pemeriksaan CT Scan jantung tanpa kontras dan kalsium skor, untuk melihat apakah sudah perlu meminum obat statin sebagai pencegahan serangan jantung," ucap Sony.

Dokter juga akan CT Scan jantung dengan kontras jika sudah muncul gejala seperti nyeri dada dan sesak napas, untuk melihat kemungkinan penyempitan.

Sony menyarankan pria dewasa berusia 30-an untuk melakukan pemeriksaan jantung terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat penyakit jantung keluarga, hipertensi, dan kelebihan berat badan. Pemeriksaan mesti dilakukan rutin terutama saat memasuki usia 40 tahun.

Bagi perempuan, risiko penyakit jantung dan pembuluh darah baru meningkat saat menopause.

[Gambas:Video CNN] (ptj/NMA)