FOTO: Reparasi Arloji, Merawat Waktu dalam Akurasi

Adhi Wicaksono, CNN Indonesia | Kamis, 20/02/2020 12:13 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Meski tak lagi menjadi barang mewah, sederet tukang reparasi arloji masih mempertahankan profesinya dengan menggelar lapak berkondisi lusuh.

Tiga dekade yang lalu, jam tangan adalah produk industri yang berjaya dalam mencukupi kehidupan para pekerjanya. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Tak cuma toko-toko pengecer, tukang jam (watchmaker) di kampung-kampung bisa turut menikmati rejeki dari menjual jasa servis dan reparasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Tahun 2000an tukang jam yang terbiasa menangani mesin mekanik mulai kekurangan pekerjaan karena teknologi pencatat waktu digantikan oleh telepon genggam. Satu per satu lapak tutup, atau mati enggan hidup pun tak mampu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Saat jam mekanik tak lagi dianggap sebagai kebutuhan sehari-hari, dan jam quartz pun kalah oleh peran fitur di HP, beberapa brand jam mekanik menjual jam tak lagi sebagai mesin alat melainkan sebagai
Ironi bagi para tukang jam pinggir jalan. Banyak yang masih terus bertahan menggelar lapak dengan kondisi lusuh. Mirip tukang tambal ban. Padahal keterampilan yang mereka miliki adalah hal langka dan berharga. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Adalah Koh Hendra Aseng, salah satu juru servis arloji yang masih bertahan di Pasar Lama Jatinegara. Pria usia 69 tahun ini meneruskan usaha sang kakak yang dimulai sejak medio 90an. Setengah berseloroh Koh Hendra mengungkapkan, merasa perlu mereparasi 'jam karet'--mengacu pada kebiasaan telat sebagian orang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Belajar otodidak, Koh Hendra kerap melakukan kanibal sparepart pada jam tua yang susah dicari penggantinya. Model Chronograph dan Matic jadi tantangan tersendiri, karena tingkat kerumitannya tinggi dan komponennya pun langka. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Satu yang paling unik ketika pengunjung masuk ke kiosnya, tulisan-tulisan terpampang di setiap sudut dinding. Berawal dari pengalaman konsumen yang sering komplain karena tidak mengerti menggunakan jam tangan, Koh Hendra menulis berbagai curhatan yang sering ia temui. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Meski pelanggan sudah tak seramai dahulu, tulisan-tulisan dinding itulah yang menjadi magnet bagi pelanggan--baik yang baru maupun lama--untuk tetap datang. Selain juga, harga reparasi dan keahlian yang tidak lagi diragukan dari Koh Hendra Aseng. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)