Kuta Lengang, Pelaku Usaha Pening

CNN Indonesia | Kamis, 20/02/2020 18:26 WIB
Akibat isu mewabahnya virus corona, jalanan di Kuta, Legian, Seminyak yang biasanya padat kini terlihat lengang. Turis di Pantai Kuta, Bali. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Langit Uluwatu yang biasanya ramai oleh penerbangan paralayang kini terlihat sepi. Bukan cuma karena anginnya yang sedang tidak bersahabat, namun juga akibat sepinya turis asal China yang datang sepeninggal virus corona mewabah di dunia.

Wawan, fotografer di RIUG Paragliding, salah satu pusat olahraga paralayang di Bali, mengatakan kalau belakangan ini kondisi sepi tamu semakin terasa.

Dari yang biasanya 80 sampai 120 peserta terbang per hari, saat ini hanya 6 sampai 15 peserta per hari.


Sepinya tamu bukan cuma berdampak pada pemasukan RIUG, namun juga untuk pemasukannya yang mendapat bayaran dari hasil memotret para tamu saat merasakan sensasi paralayang.

"Mulai sepi parah sejak corona. Kemarin bahkan sempat ga ada tamu sama sekali. Kita memang banyak kedatangan tamu dari China," kata Wawan yang dihubungi melalui pesan pendek pada Kamis (20/2).

CNNIndonesia.com yang pernah mengunjungi RIUG Paragliding sebelum drama virus corona bisa membayangkan gambaran Wawan akan sepinya Bali tanpa turis asal China.

Saat didatangi setahun yang lalu, CNNIndonesia.com melihat rombongan turis China datang dan pergi hampir setiap jam. Minimal lima sampai sepuluh orang dalam satu rombongan.

Dengan membeli paket wisata berupa terbang dan foto, mereka bergantian naik paralayang menikmati pemandangan Bali dari ketinggian.

"Sedih sih melihat suasana sepi sekarang," ujar Wawan.

"Karena sepi, sekarang cuma dua pilot yang bertugas memandu penerbangan. Sisanya fokus latihan jelang PON dan kompetisi di luar negeri," lanjutnya yang juga mengatakan sudah suntik vaksin demi pencegahan virus corona.

Macet hilang

Bukti lesunya industri pariwisata di Bali akibat penundaan hingga pembatalan kunjungan karena virus corona bisa terlihat dari lalulintas di Pulau Dewata yang mendadak lengang.

Pemandangan lengang bisa terlihat di kawasan Kuta, Legian, dan Seminyak yang biasanya padat - meski turis yang naik motor tanpa mengenakan helm masih banyak terlihat, begitu juga dengan bus pariwisata yang bangkunya penuh masih melintas.

"Jalanan jadi ga terlalu macet sih... Tapi sedih juga kalo keadaan terus kayak gini, karena jadi banyak yang menganggur, karena sebagian besar orang Bali kerjanya di pariwisata," kata Dian, PR dari Adiwana Hotel & Resort, kepada CNNIndonesia.com.

"Banyak yang diliburkan tanpa digaji. Terutama yang kerja di agen wisata spesialis turis asal China, kayak guide atau driver," lanjutnya.

Walau jalanan Kuta, Legian, Seminyak, tak lagi macet, namun sejumlah tempat kongko yang populer di Bali, seperti Omnia, La Favela, dan La Brisa dikatakan masih beroperasi dengan normal hingga saat ini.

Pengunjung di sana juga masih terlihat ramai, seperti yang dikatakan oleh Aci, PR dari Lv8 Resort Hotel yang berlokasi di Canggu.

"Mungkin karena tiket pesawat domestik mulai banyak yang diskon, turis domestik sih yang paling banyak terlihat sekarang," kata Aci.

Hingga saat berita ini ditulis, CNNIndonesia.com belum mendapatkan keterangan resmi dari pengelola Omnia, La Favela, dan La Brisa mengenai seberapa terdampaknya omzet mereka akibat Bali dihantam isu virus corona.

Berharap turis domestik

Jika Kuta, Legian, dan Seminyak sangat terpengaruh berkurangnya kunjungan dari turis asal China, tidak demikian dengan Canggu dan Ubud.

Canggu, yang sering disebut sebagai destinasi kaum hipster di Bali, dikatakan Aci masih normal. Di hotelnya, pembatalan yang terjadi juga hanya beberapa.

"Canggu sepi tapi ga terlalu drop banget kok, karena mungkin emang market turis asal China di Canggu ga gitu gede," kata Aci.

Kondisi Ubud sama dengan Canggu, masih ramai turis walau tanpa kedatangan turis China.

Pasalnya turis yang datang ke Ubud dan Canggu sebagian besar dari Eropa.

Meski demikian Dian mengatakan kalau pembatalan pemesanan mulai membuat dirinya was-was. Oleh karena itu sekarang pihaknya rajin menyasar turis domestik.

Dua hari yang lalu diberitakan kalau Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku masih akan memfinalisasi keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan diskon tiket pesawat 30 persen.

Ia membenarkan bahwa diskon diberikan dalam rangka merangsang industri pariwisata yang sedang terpukul wabah virus corona.

"Kami sedang berkoordinasi, dengan Menteri Kesehatan, Menteri Perhubungan, dan Menteri BUMN. Tujuannya, untuk menjaga momentum gairah wisatawan dalam dan luar negeri. Mengenai hitungan masih akan difinalisasi, antara lain diskon 30 persen," terang Sri Mulyani di Istana Presiden, Senin (17/2).

Hal lain yang masih difinalisasi terkait destinasi wisata dalam negeri yang mendapatkan insentif diskon tiket pesawat, termasuk juga biro perjalanan wisata.

"Yang tadi disampaikan, diskon tiket pesawat 30 persen sudah kami kalkulasi. Kemudian, kapan berlaku dan berapa lama berlaku juga akan ditetapkan, sedang difinalisasi," kata Sri Mulyani.

Diskon tiket pesawat, ia menambahkan akan berlaku untuk maskapai BUMN, termasuk non-BUMN. "Oh semuanya. Yang penting trafik masyarakat untuk mencapai tujuan wisata yang kami tetapkan," imbuh dia.


[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)