Masker dan Kerudung Hitam di Situs Ziarah Irak

CNN Indonesia | Kamis, 27/02/2020 12:55 WIB
Masker dan Kerudung Hitam di Situs Ziarah Irak Peziarah di Najaf, Irak. (Haidar HAMDANI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sektor pariwisata religius Irak telah menderita setelah berbulan-bulan negara itu dilanda aksi protes, kekacauan politik, dan sanksi, lalu virus corona tiba.

Di kota suci Syiah selatan Karbala, hotel-hotel ditutup. Wajah bermasker menghiasi jalanan, bersanding dengan perempuan berkerudung hitam panjang, namun tak tampak keramaian.

Sepinya pengunjung juga terlihat di makam kubah emas Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, kendati petugas kesehatan datang dua kali sehari untuk membersihkan situs itu.


Haidar, yang menjual tasbih dan tanah suci dari kuil, mengatakan bisnisnya telah terpukul sejak protes massa anti-pemerintah pecah pada bulan Oktober.

"Kami belum menjual apa-apa karena sepinya pengunjung dari Iran dan Teluk," katanya.

"Dan sekarang virus corona mewabah."

Jutaan peziarah Syiah, sebagian besar dari Iran, mengunjungi tempat-tempat suci di Karbala dan dekat Najaf setiap tahun, terutama selama peringatan tahunan Arbaeen.

Di masa "normal", pendapatan dari peziarah menciptakan lapangan kerja bagi ratusan ribu warga Irak dan menghasilkan miliaran dolar per tahun.

Wisata ziarah menjadi pemasukan utama dalam industri pariwisata Irak.

Tetapi Irak sekarang memiliki lima kasus virus COVID-19 yang dikonfirmasi - semuanya ditelusuri dari Iran - dan jumlah pengunjung terus menurun.

Tempat suci ditutup

Kasus virus corona pertama yang dikonfirmasi dari warga negara Iran yang belajar di seminari Syiah di Najaf, kota tempat suci lainnya sekitar 150 kilometer di selatan Baghdad.

Pihak berwenang merespons dengan menutup perbatasan Irak dengan Iran dan melarang masuknya warga negara asing yang bepergian dari republik Islam dan negara-negara lain yang terkena dampak.

Minggu ini, mereka bahkan mengambil langkah yang sangat jarang, yaitu menutup makam Imam Ali Najaf.

Situs ini adalah salah satu situs paling suci bagi Muslim Syiah, yang berbondong-bondong ke sana untuk mencium dan membelai makam menantu Nabi Muhammad.

Hingga Oktober, kota itu didatangi lebih dari 5.000 pengunjung per hari, 85 persen di antaranya warga Iran, kata Saeb Abu Ghneim, kepala asosiasi hotel dan restoran di Najaf.

"Najaf memiliki 350 hotel. Setidaknya 300 hotel telah ditutup dan hotel yang tetap buka memiliki tingkat hunian lima hingga 10 persen," katanya kepada AFP.

Virus itu sendiri belum sampai di Karbala, setengah jalan menuju Baghdad, tetapi kota itu tidak terhindar dari dampak buruk itu.

"Wisata religius di Karbala saat ini nol," kata Sahib Zaman, wakil kepala kamar dagang Karbala.

"Tidak ada uang masuk. Tidak ada turis yang datang karena situasi ini."

Sanksi, kekerasan, virus

Virus corona hanyalah bencana terbaru yang menyerang pariwisata religius di kota-kota suci Syiah Irak.

Sanksi AS terhadap Teheran, anjloknya mata uang Iran, dan pemboman telah memaksa para peziarah untuk menunda perjalanannya.

Menjelang peringatan Arbaeen pada Oktober, Irak telah membebaskan biaya visa bagi warga negara Iran agar semakin banyak yang datang.

Namun protes massa anti-pemerintah di Baghdad dan selatan Irak mulai bulan itu semakin menghantam jumlah pengunjung.

"Ada demonstrasi dan kekerasan, sanksi Amerika terhadap Iran, devaluasi kerajaan Iran," kata pejabat Najaf Abu Ghneim.

"Tepat ketika pariwisata baru saja mulai berkembang, kami memiliki kasus seorang Iran yang terinfeksi virus corona."

Ketakutan akan virus itu membuat jalan-jalan Najaf sepi dan sekolah ditutup. Satu-satunya kerumunan terlihat di apotek, di mana orang berbondong-bondong untuk membeli disinfektan dan masker.

Di jalan menuju Masjid Imam Ali, para pelayan berdiri di luar restoran, dengan penuh semangat berusaha meyakinkan sejumlah peziarah yang lewat untuk masuk ke dalam.

Seorang warga Najaf mengatakan jalan yang sama telah penuh dengan peziarah sebelum protes, dengan restoran penuh dan pelayan yang berebut untuk menerima pesanan yang seakan tidak pernah berakhir.

Untuk ulama Syiah Fadel al-Bdeiri, penurunan pariwisata adalah tanda bahwa Irak harus melepaskan diri dari ketergantungan Iran.

"Komunitas Irak, terutama di Najaf, menaruh harapan besar pada Iran, sehingga mereka membuka hotel untuk orang-orang Iran dan tidak membeli barang apa pun kecuali dari Iran", katanya kepada AFP.

Tetapi pecahnya perdagangan dan perjalanan antara kedua negara telah menghancurkan ekonomi Najaf, katanya.

"Orang Irak berpikir bahwa orang Iran akan datang selamanya ... itu adalah kesalahan."

(AFP/ard)