Hari Perempuan, Kala Laki-Laki Ikut Melawan Patriarki

CNN Indonesia | Senin, 09/03/2020 02:59 WIB
Sejumlah laki-laki ikut merayakan Hari Perempuan Sedunia agar kaum hawa lebih terlindung dari pelecehan, perampasan kemerdekaan lewat aturan. Sejumlah pria turut serta bersuara dalam peringatan hari perempuan sedunia. (CNN Indonesia/ Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemeriahan terlihat di depan Gedung Bawaslu, Menteng, Jakarta Pusat. Massa berbondong-bondong dari arah baik Jalan Wahid Hasyim, maupun Jalan MH Thamrin

Tujuan mereka sama, menyatukan suara dalam rangka peringatan International Women's Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional. Meski hari ini jadi acara besar kaum hawa, banyak pria ikut bergabung.

Bahkan laki-laki tersebut ikut membawa poster maupun spanduk. Isinya bukan menyoal hak-hak mereka sebagai kaum adam. Mereka juga ikut bersuara soal perjuangan hak-hak perempuan termasuk juga soal kesetaraan.


Salah satunya adalah Haikal Bekti Anggoro. Dengan semangat, ia mengangkat poster bertuliskan 'Lebih Baik Gado-Gado Daripada Goda-Goda'.

Dia berkata poster dengan suara sama pernah ia bawa saat aksi  hari perempuan pada 2018 lalu. Namun karena masalah tersebut masih terjadi sampai dengan saat ini, suara yang sama ia gelorakan lagi.

Pasalnya, masalah tersebut cukup mengganggu.

"Sudah sampai Bogor, ada saja yang siul-siul. Di jembatan Ceger. Mereka biasa kalau sore nangkring naik motor. Godain," ujar Haikal pada CNNIndonesia.com di sela aksi pada Minggu (8/3).

"Neng, bade ke mana? Aman neng di sarang Aa," imbuhnya menirukan suara melecehkan itu.

[Gambas:Video CNN]
Dengan turut aksi, dia ingin pelecehan terhadap kaum perempuan dihentikan. Di samping itu, kata dia, turut aksi berarti laki-laki juga mendukung kesetaraan.

Sementara, Aryo Duta takut jika budaya patriarki dilanggengkan akan merampas kemerdekaan ibunya yang merupakan orang tua tunggal atau single parent.

"Patriarki kan budaya yang menganggap laki-laki di atas perempuan termasuk di relasi pernikahan, semua diatur laki-laki. Saya tidak setuju kalau ada pihak yang di atas dan di bawah. Realitasnya, patriarki langgeng, akan ada banyak batasan. Bakal ada UU yang ngaco, membatasi peran perempuan dan ini kemunduran," jelasnya.

Terlebih, kampung halamannya, Aceh, serba mengatur tubuh perempuan, mulai dari pakaian hingga aktivitasnya. "Saya tidak mau ibu saya nanti serba dibatasi karena patriarki," cetus Aryo.

Senada, Sultan Falah Basyah, Sekjen Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia, mengatakan hak asasi manusia tak boleh berhenti pada soal laki-laki, tetapi juga menyertakan perempuan.

Untuk menyuarakan soal itu pun, katanya, laki-laki mesti turun tangan.

Salah satu peserta pria di Hari Perempuan Internasional.Salah satu peserta pria di Hari Perempuan Internasional, Raizuli, mendukung aksi kesetaraan gender bersama istrinya. (CNN Indonesia/ Elise Dwi Ratnasari)
Di tempat yang sama, Raizuli memutuskan ikut turun ke jalan mendampingi sang istri, Alliysa Rismaya. Di tangannya, terdapat poster 'I'm With Her' yang menandakan kesediaannya untuk menemani Alliysa.

"Kami semua di sini sama. Kalau bukan kami, siapa lagi," ujarnya seraya tersenyum.

Selama ini, dia melihat praktik-praktik yang tak layak yang dilakukan oleh kaum laki-laki terhadap perempuan karena merasa posisinya di atas. Laki-laki, kata dia, menganggap diri mereka memiliki kodrat untuk dilayani.

Padahal, katanya, laki-laki seharusnya juga mendukung apa yang jadi pilihan perempuan. Dia pun memulai praktik kesetaraan dari lingkup paling kecil yakni keluarga. Memiliki istri dan adik perempuan mendorongnya untuk berlaku setara.

Koordinator aksi Hari Perempuan Internasional, Mutiara Ika berkata aksi ini memantapkan bahwa perempuan adalah kekuatan. Semua bersatu, baik lintas organisasi maupun lintas gender untuk bersama maju dan mengupayakan perubahan.

"Enggak hanya kita sendiri, ada sebuah perasaan kebersamaan untuk melakukan perubahan," tandasnya.

(els/agt)