Lonjakan Pasien Covid-19 dan Kewalahan Pembagian Ventilator

CNN Indonesia | Minggu, 29/03/2020 17:41 WIB
Lonjakan Pasien Covid-19 dan Kewalahan Pembagian Ventilator Ilustrasi: Beberapa negara kesulitan mengatur giliran penggunaan ventilator. Sebab alat bantu pernapasan ini tak cuma dibutuhkan pasien Covid-19. (Foto: Istock/sturti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa negara yang menangani kasus infeksi virus corona (Covid-19) putar otak memikirkan kecukupan fasilitas pelayananan kesehatan dengan jumlah pasien. Salah satunya misalnya, jumlah ventilator yang tak sebanding dengan angka pasien Covid-19 melonjak.

Belum lagi jika mengingat, ada pula pasien penyakit lain di luar kasus Covid-19 yang memerlukan alat serupa.

Ventilator merupakan alat bantu pernapasan untuk pasien yang kesulitan bernapas. Pada kasus Covid-19 yang parah, ventilator dibutuhkan membantu pasien yang sesak napas dan memiliki radang di paru-paru.



Pemerintah negara bagian New York misalnya, mengizinkan dua pasien Covid-19 menggunakan satu ventilator yang sama. Keputusan ini diambil untuk menangani pasien Covid-19 yang terus melonjak. Hingga kini jumlah positif Covid-19 di New York sudah mencapai lebih 37 ribu kasus.

Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan penggunaan satu ventilator pada dua pasien Covid-19 dilakukan dengan cara menambah satu set tabung.

"Ini tidak ideal, tapi kami yang ini bisa diterapkan," kata Cuomo, dikutip dari CNN.

Satu rumah sakit di New York sudah menggunakan metode ini. Mereka mengubah ruang operasi menjadi unit perawatan intensif dengan satu ventilator untuk dua pasien.

Cuomo menuturkan permintaan ventilator sangat tinggi dan penggunaan untuk satu pasien cukup lama. Pasien penyakit pernapasan biasanya menggunakan ventilator selama tiga hingga empat hari, sedangkan pasien Covid-19 memakai ventilator rata-rata selama 11 hingga 21 hari.

Lonjakan Pasien Covid-19 dan Kewalahan Pembagaian VentilatorFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi


Cuomo mengatakan New York membutuhkan setidaknya 30 ribu ventilator untuk merawat pasien virus corona. Namun, New York kini hanya memiliki 4.000 ventilator di rumah sakit.

Pemerintah federal sedang mengirimkan 4.000 ventilator lainnya. Sementara itu, pemerintah New York sedang membeli 7.000 tambahan ventilator.

Cuomo kini juga mengatakan para ahli sedang mencoba untuk mengubah mesin anestesi menjadi ventilator.

Bermasalah

Di sisi lain, berbagi ventilator untuk dua pasien dinilai rentan memicu pelbagai problem.

"Banyak sekali masalah yang harus dihadapi," jelas presiden American Society of Anesthesiologists, dokter Mary Dale Peterson.

Menurut Peterson, sebetulnya bukan perkara sulit untuk menghubungkan lebih dari satu pasien jika keduanya memiliki situasi yang sama. Mulai dari penyakit hingga ukuran paru-paru.

Namun pada praktiknya, banyak pasien yang memiliki kebutuhan berbeda. Pengaturan ventilator pada setiap orang pun bakal beragam. Misalnya, kebutuhan oksigen setiap pasien akan berbeda-beda.


"Jadi, Anda bisa bayangkan, satu pasien yang memiliki satu persyaratan, pasien lain memiliki persyaratan yang berlawanan. Jadi, Anda benar-benar dapat melakukan tindakan yang merugikan--Anda akan melakukan tindakan yang merugikan kedua pasien," kata Peterson.

Ketimbang menggunakan ventilator untuk dua pasien, Peterson lebih mendukung mengubah mesin anestesi menjadi ventilator. Pasalnya, setiap mesin anestesi sudah dilengkapi dengan ventilator. Di New York tercatat terdapat 70 ribu mesin anestesi.

Indonesia

Bagaimana dengan kondisi penanganan di Indonesia?

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan Indonesia baru mendatangkan 100 unit ventilator untuk perawatan pasien infeksi virus corona. Dia mengklaim, seluruh rumah sakit rujukan virus corona telah memiliki ventilator.

"Semua rumah sakit rujukan kan punya ventilator. Ya (semua ventilator di rumah sakit rujukan siap), kan sudah dicek sebelumnya,"kata Yuri pada CNNIndonesia.com, Kamis (26/3).

Sekalipun begitu, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dokter Agus Dwi Susanto mengungkapkan, kebutuhan akan ventilator bukan saja diperlukan pasien Covid-19. Alat ini juga dibutuhkan untuk semua penyakit paru dengan indikasi gagal napas.


Karena itu Agus mengatakan penanganan untuk keduanya sebaiknya memang dipisah.

"Implikasinya, di rumah sakit mustinya ada ruangan berbeda untuk ventilator pada pasien Covid-19," kata Agus pada CNNIndonesia.com melalui telepon, Jumat (27/3).

Menurut Agus, jika memang ada dua pasien gagal napas dan salah seorangnya adalah pasien Covid-19, keduanya harus ditangani dengan ventilator. Hanya saja ia mengatakan, rumah sakit perlu menyiapkan ventilator khusus untuk pasien Covid-19.

Ventilator yang sudah dipakai pasien Covid-19 tidak boleh digunakan pasien non-Covid-19 dan harus melalui proses sterilisasi.

Agus pun menambahkan, rumah sakit-rumah sakit rujukan Covid-19 seperti RSPI Sulianti Saroso, RSUP Persahabatan, hanya menerima pasien Covid-19. Artinya ventilator di rumah sakit tersebut memang hanya untuk pasien covid-19.

Sedangkan pasien-pasien lain akan dirujuk ke rumah sakit berbeda. Ia mengatakan untuk rumah sakit nonrujukan, masih bisa menerima pasien penyakit lain. Dan karena itu ventilator dapat digunakan sesuai kebutuhan.

"Rumah sakit bisa mengatur (penggunaan ventilator)," imbuh dia.

[Gambas:Video CNN]

(els/NMA)