Rapid Test Covid-19, Dokter hingga Ahli Kompak Usulkan PCR

CNN Indonesia | Minggu, 29/03/2020 09:10 WIB
Dokter dan para ilmuwan muda mengusulkan agar pemerintah menggunakan rapid moleculer test berbasis PCR untuk mendeteksi virus Covid-19. Ilustrasi: Dokter dan para ilmuwan muda mengusulkan agar pemerintah menggunakan metode PCR ketimbang serologi dalam rapid test Covid-19, agar lebih efektif. (Foto: ANTARA FOTO/Paramayuda)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah disarankan untuk menggunakan pemeriksaan rapid moleculer test berbasis PCR dalam pemeriksaan infeksi virus corona (Covid-19). Saat ini rapid test yang dilangsungkan masih memakai metode serologi atau dengan mengambil sampel darah.

Sementara metode PCR atau Polymerase Chain Reaction menurut para dokter dan ahli dinilai lebih akurat mendeteksi virus corona jenis baru atau SARS-CoV-2.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto menduga masih banyak kasus di tengah masyarakat yang belum terdeteksi. Kondisi ini menurut dia berpotensi meningkatkan penyebaran transmisi lokal sebab orang yang membawa virus tak cepat terdeteksi.


Itu sebabnya diperlukan metode pemeriksaan yang bisa lebih lekas mendeteksi virus corona.

"Sebenarnya yang lebih cepat adalah, bagaimana kami usulkan, terdapatnya pemeriksaan rapid molekuler test yang berbasis PCR. Sehingga dengan rapid molekuler test yang berbasis PCR ini dalam dua jam bisa dilakukan dan itu bisa disebar di beberapa RS rujukan atau RS itu bisa melakukan tes. Sehingga, tidak perlu menunggu," tutur Agus dalam wawancara di CNN Indonesia TV.


Meskipun tambah Agus, harus dikonfirmasi ulang dengan swab RT-PCR (Real Time-Polymerase Chain Reaction) di laboratorium rujukan yang ditunjuk pemerintah. Tapi yang terpenting, hasil deteksi bisa lebih cepat didapat.

Dengan begitu, tingkat keparahan pasien pun diharapkan dapat diminimalkan.

"Sehingga kasus-kasus PDP--yang kemudian sudah meninggal namun belum ada hasilnya--itu bisa lebih cepat diketahui. Sehingga tata laksana bisa lebih dini, sehingga probabilitas untuk dia [pasien] bisa ada kesembuhan itu lebih besar," sambung dia lagi.

Agus menekankan, sebaiknya pemerintah sungguh-sungguh mengupayakan agar metode tersebut bisa terlaksana

"Karena itu salah satu cara yang lebih cepat untuk mendeteksi. Karena waktunya, dan loading-nya [kalau sekarang], yang lab rujukan itu tidak bisa menerima rujukan dari berbagai rumah sakit sehingga waktunya lebih lama," ungkap Agus.

Rapid Test Covid-19, Dokter hingga Ahli Kompak Usulkan PCRFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian


Namun dengan rapid moleculer test berbasis PCR di beberapa rumah sakit yang ditunjuk, proses deteksi ia yakini bakal lebih cepat. Semakin cepat pasien teridentifikasi maka prioritas penanganan pun bakal ditempuh.

"Nanti [rapid moleculer test] bisa dikoordinasikan ulang dengan swab sebagi konfirmasi," tutur Agus lagi.

Senada diutarakan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi) Lia Gardenia Partakusuma, tingkat kecepatan deteksi kasus berhubungan dengan daya tampung rumah sakit. Kian lambat deteksi maka kemungkinan yang terjadi adalah banyak pasien yang bakal menumpuk di rumah sakit.

"Makanya saya setuju dengan dokter Agus. Seharusnya kita memang lebih cepat lagi untuk mengeluarkan suatu pemeriksaan laboratorium," tutur Lia dalam diskusi yang sama.

"Sehingga begitu masuk di RS yang sekarang ini, satu, kita harus menunggu sampai hasilnya dia negatif dengan ada prosedurnya. Jadi tidak satu kali, tetapi harus dua kali. Kemudian juga, pasien yang gejala tidak berat tapi menunjukkan positif sehingga dia harus menunggu juga, itu akan memenuhi RS," ia menambahkan.


Lia melanjutkan, apabila hasil tes lebih cepat maka pihak rumah sakit juga bisa langsung memutuskan tindakan lanjut terhadap pasien sehingga meminimalkan penumpukan. Selain proses yang lama, jumlah screening test di Indonesia pun tergolong masih rendah.

Ia membandingkan dengan yang dilakukan di negara lain dengan kasus Covid-19.

"Contoh misalnya, untuk screening saja di Singapura itu 6.800 tes per satu juta penduduk. Di Korea, 7.000 tes per satu juta penduduk. Di Indonesia, hanya 12 tes per satu juta penduduk," papar Lia.

Akurasi

Sebelumnya, saran untuk menggunakan rapid test berbasis PCR juga sempat disampaikan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman. Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Eijkman, Herawati Sudoyo menilai metode ini lebih akurat dibanding rapid test serologi.

Rekomendasi serupa ke pemerintah juga pernah dilayangkan Indonesia Young Scientist Forum melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam lembar rekomendasi ke-empat itu disebutkan, tingkat fatalitas Covid-19 di Indonesia yang mendekati 10 persen ini diduga lantaran lamban dan rendahnya pengecekan.

Itu sebab untuk menurunkan fatalitas dan mencegah penyebaran meluas maka diperlukan minimal 10 ribu rapid test berbasis PCR.

"Dengan melakukan tes cepat (rapid test) berbasis PCR dengan sampel hasil swab sputum, nasal, maupun feses dan cairan saluran pernapasan secara masif dan cepat, individu berisiko bisa segera diisolir untuk mendapatkan perawatan dan disaat yang sama, menghentikan transmisi yang meluar," ungkap salah satu peneliti, Berry Juliandi melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com.


Rapid test berbasis PCR ini dinilai lebih akurat dibanding tes berbasis antibodi lantaran mampu mendeteksi keberadaan virus Covid-19 pada orang yang tanpa gejala (asimpotamik). Perkumpulan ilmuwan muda ini juga memperkirakan untuk pengadaan tersebut diperlukan biaya sekitar Rp20 miliar.

"Untuk mendukung terlaksananya tes laboratorium rujukan sesuai instruksi presiden," tulis lembar rekomendasi tersebut.

Demi menjaga keberlangsungan tes PCR, para ilmuwan muda juga merekomendasikan skema pendanaan. Misalnya, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) ditanggung pemerintah pusat, lantas Orang Dalam Pemantauan (ODP) ditanggung pemerintah pusat dan daerah, orang dengan risiko ditanggung pemerintah daerah dan biaya mandiri, sementara individu mandiri bisa didanai pribadi baik perorangan maupun perusahaan.

"Dengan dana insentif pemerintah, kami optimistis Indonesia dapat melakukan 10 ribu tes dalam sebulan dengan hasil tes dikeluarkan dalam tempo 1x24 jam per tes. Degan melibatkan universitas, litbang pemerintah dan pihak swasta."

[Gambas:Video CNN]

(ndn/NMA)