Faris Budiman Annas
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, tertarik meneliti isu-isu komunikasi media baru dan komunikasi pembangunan. Sebelum berkutat dalam dunia pendidikan, ia merupakan jurnalis dan praktisi komunikasi di berbagai perusahaan media dan periklanan.

Melawan Titik Jenuh Pandemi dengan Filsafat Stoik

Faris Budiman Annas, CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 13:25 WIB
Berfokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan jadi kunci menenangkan pikiran dan menghadapi titik jenuh di tengah pandemi corona. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa hari lalu, beberapa rekan kerja saya pamit dari grup aplikasi Whatsapp. Setelah saya tanyakan secara personal, mereka merasa jenuh dengan hujan batu informasi COVID-19 yang tak jemu-jemu.

Pandemi COVID-19 memang tengah menjadi mega-bintang pembicaraan publik dalam dalam beberapa bulan terakhir. Mengupas pandemi ini seakan-akan tidak ada habis-habisnya.

Hal yang paling membuat "ketagihan" adalah mengikuti pertumbuhan angka korban baik yang tengah terinfeksi, sembuh, atau meninggal.


Padahal, penyampaian informasi tentang COVID-19 yang bertubi-tubi di masyarakat justru berpeluang membuat mereka sampai ke titik jenuh. Dampaknya tentu pada kesehatan mental. Saya sendiri juga sempat menangis ketika melihat konferensi pers Presiden Joko Widodo terkait kondisi negara akibat pandemi ini.

WHO sebagai lembaga kesehatan internasional yang sangat sibuk saat ini, pun telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar lebih selektif dalam mengkonsumsi informasi mengenai COVID-19.

Satu hal mengenai kesehatan mental dalam menghadapi COVID-19, kuncinya ada pada diri kita sendiri. Kali ini, saya ingin membahas bagaimana menerapkan filsafat Stoik sebagai upaya untuk menjaga kesehatan mental kita di tengah situasi pandemi.

Filsafat stoik merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji filsafat kehidupan dengan pendekatan praktis. Menurut Irvine (2009) dalam karyanya Guide to the Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy, dalam berfikir untuk membuat keputusan, seseorang akan dihadapkan dalam tiga situasi yang dikenal sebagai "Trikotomi Pengendalian":

a. Sesuatu yang dapat kita kendalikan secara penuh
b. Sesuatu yang dapat kita kendalikan sebagian
c. Sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan sama sekali.
Melawan Titik Jenuh Pandemi dengan Filsafat Stoik

Segala sesuatu yang kita rasakan dan jalani dalam kehidupan ini akan jatuh ke dalam salah satu dari tiga kategori di atas . Tiga kategori di atas juga disebut sebagai derajat atau tingkat pengendalian.

Lalu apa yang dapat kita kendalikan secara penuh? sesuatu yang dapat kita kendalikan secara penuh adalah pikiran kita, pendapat kita, tujuan kita dan nilai-nilai yang kita pegang.

Kita memiliki kendali penuh terhadap hal yang sedang kita pikirkan, dan kita juga punya kendali penuh terhadap nilai yang kita anut. Kita bebas menetapkan tujuan yang ingin kita capai dan kita memiliki kendali yang penuh terhadap itu.

Misalnya saat kita ingin bangun dari tidur di pagi hari, kita mempunyai kontrol penuh terhadap rencana kita, apakah kita mau bangun pagi atau bangun kesiangan.

Masalah apakah kita dapat bangun pagi atau tidak, itu perkara lain dan masuk ke dalam kategori kedua yakni sesuatu yang dapat kita kendalikan sebagian.

Sedangkan, sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan sama sekali adalah, misalnya, kita tidur di rumah lalu berharap keesokan harinya terbangun di Maldive.

Epictetus, seorang filsuf stoik Yunani kuno, mengatakan bahwa sebaiknya kita fokus terhadap hal-hal yang dapat kita kendalikan secara penuh.

Prihatin dan khawatir terhadap sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan sama sekali atau sesuatu yang dapat kita kendalikan sebagian adalah kesia-siaan (Annas, 2019)

David Kessler dalam wawancaranya dengan Harvard Business Review, menjelaskan bahwa saat ini orang-orang mengalami ketakutan yang diistilahkan sebagai anticipatory grief.

Guncangan psikis ini berupa ketakutan terhadap masa depan di tengah-tengah ketidakpastian. Ketakutan akan kematian, ketakutan akan kehilangan orang-orang yang disayangi.

Menurut Kessler, secara otomatis manusia dapat merasakan jika suatu hal buruk sedang terjadi, tapi sesuatu tersebut tak tampak. Hal inilah yang mengguncang rasa aman kita saat ini, dan kita kehilangan rasa aman tersebut.

Lalu bagaimana solusinya untuk menghilangkan anticipatory grief ini dari pikiran kita? Kessler menjelaskan bahwa kuncinya adalah menemukan keseimbangan terhadap apa yang kita pikirkan.

Karena anticipatory grief memunculkan skenario terburuk dalam pikiran kita, dan untuk mengimbangi hal ini kita perlu kembali ke situasi "sekarang".

Ya, kita bersyukur bahwa sekarang kita tidak sakit, persediaan makanan masih ada, dan masih bisa menikmati setiap helaan napas yang mengalir dalam tubuh kita. Keluarga sekitar kita masih baik-baik saja, atau sekalipun ada yang sedang sakit, tentu masih ada peluang untuk sembuh.

Kessler menjelaskan bahwa kunci utamanya adalah membuang jauh-jauh suatu hal yang tidak dapat kita kendalikan atau kontrol. Masih banyak orang-orang yang tidak menggunakan masker di transportasi umum adalah hal yang tidak dapat kita kontrol. Pertanyaan apakah kita menjadi salah satu korban COVID-19 di masa depan adalah suatu hal yang tidak dapat kita kontrol.

Fokus kita saat ini adalah tinggal di rumah dan jaga kebersihan diri. Kurangi interaksi fisik secara langsung. Berpikir positif tentang saat ini adalah hal-hal yang menurut filsafat stoik di atas sebagai sesuatu yang dapat kita kendalikan secara penuh.

Fokus terhadap apa yang dapat kita kontrol dengan berpikir optimistis, tapi tetap waspada. Hal ini adalah salah satu solusi terbaik untuk menenangkan dan menyegarkan pikiran kita di tengah-tengah situasi saat ini.


(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS