HARI BIPOLAR SEDUNIA

Gangguan Bipolar dan Tantangan di Tengah Pandemi Covid-19

Tim | CNN Indonesia
Senin, 30 Mar 2020 16:03 WIB
Hari Bipolar Sedunia diperingati pada 30 Maret setiap tahunnya. Pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi orang dengan gangguan bipolar. Ilustrasi. Pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi orang dengan gangguan bipolar. (iStock/Alpgiray Kelem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia memperingati Hari Bipolar Sedunia atau World Bipolar Day pada hari ini, Senin (30/3). Bipolar disorder merupakan salah satu gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi secara drastis.

Ahli kesehatan jiwa, dr Andri mengatakan bahwa sebelumnya, gangguan bipolar lebih dikenal sebagai kondisi manic depressive. Kondisi ini memperlihatkan adanya dua kutub emosi pada seseorang. Orang dengan gangguan bipolar mengalami perubahan emosi secara ekstrem dari kutub positif atau mania (manic) dan kutup negatif atau depresi.

"Saat [fase] mania, orang dengan gangguan bipolar bisa belanja tanpa pikir panjang, boros, bicara luar biasa bahkan membesarkan sesuatu, ide-ide, agresif, irritable [mudah tersinggung]. Ada juga yang dorongan seksualnya meningkat," ujar Andri dalam video yang dibagikannya, Senin (30/3).

Sementara pada sisi lain atau pada kutub negatif, orang dengan gangguan bipolar bisa mengalami gejala depresi, sedih yang luar biasa, hingga tak memiliki semangat untuk melakukan apa pun.

Merunut sejarah, 30 Maret diambil sebagai Hari Bipolar Sedunia karena bertepatan dengan hari kelahiran pelukis Vincent van Gogh. Berdasarkan kacamata kesehatan jiwa, Van Gogh dinilai mengalami gejala-gejala gangguan bipolar.

Tahun ini, Hari Bipolar Sedunia mengambil tema "Strength for Today, Hope for Tomorrow". Tema tersebut dirasa pas dengan pandemi Covid-19 yang tengah dihadapi dunia saat ini.

Andri mengatakan, pandemi Covid-19 akan memberikan pengaruhnya terhadap mereka yang memiliki gangguan mental, termasuk di antaranya gangguan bipolar.

[Gambas:Youtube]

Pada orang-orang dengan gangguan bipolar, suasana hati yang fluktuatif menjadi tantangan tersendiri. "Yang dikhawatirkan kalau mood yang fluktuatif itu dipicu oleh situasi stressfull," kata Andri. Kecemasan karena pandemi Covid-19 bisa menjadi salah satu situasi pemicu.

Dengan demikian, alih-alih terus bergantung pada obat, orang dengan gangguan bipolar diharapkan mampu mengolah emosi.

Mengutip laman World Bipolar Day, dalam situasi pandemi Covid-19 ini, dukungan bagi mereka yang hidup dengan gangguan bipolar menjadi hal yang sangat penting.

Selama masa isolasi dan physical distancing, penting untuk tetap menjaga kualitas hidup dan memenuhi kebutuhan dasar, serta hal-hal yang memberi kepuasan seperti hobi, interaksi sosial, olahraga, dan rileksasi.

[Gambas:Video CNN]
(els/asr)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER