FDA Izinkan Penggunaan Darurat Obat Malaria untuk Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 17:06 WIB
FDA memberi izin penggunaan darurat dan terbatas dua obat malaria untuk perawatan pasien Covid-19, namun hanya bisa digunakan dalam kasus tertentu. Ilustrasi. FDA memberi izin penggunaan darurat dan terbatas dua obat malaria untuk perawatan pasien Covid-19. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menerbitkan izin untuk penggunaan darurat chloroquine dan hydroxychloroquine untuk penanganan pasien Covid-19. Jenis tersebut merupakan dua di antara beberapa jenis obat yang kini tengah diuji coba oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama sejumlah negara lain.

Pemberitahuan penggunaan darurat dan terbatas itu diketahui melalui surat yang dilayangkan otoritas tersebut pada Sabtu lalu. Namun, Departemen Kesehatan dan Layanan Amerika Serikat baru mengumumkan itu pada Minggu.

Obat ini sebelumnya lebih dikenal untuk menyembuhkan malaria juga beberapa lain. Hydroxychloroquine atau chloroquine phospate telah digunakan di dunia medis sejak 70 tahun silam.


Chloroquine atau yang dikenal dengan pil kina, aman digunakan pada dosis rendah dan sedang, namun juga dapat menjadi racun ketika dikonsumsi dengan dosis tinggi.

Tapi sejauh ini, bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa chloroquine--atau yang berkaitan dengan hydroxychloroquine--efektif mengobati pasien Covid-19 pun masih terbatas. Sekalipun begitu, keterangan tertulis Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat, seperti dikutip CNN menyatakan, obat ini menawarkan manfaat untuk penyembuhan pasien yang terinfeksi virus corona.

"Anecdotal report [laporan berisi deskripsi yang belum utuh mengenai rekam jejak pengobatan dan perawatan medis] memperlihatkan bahwa obat tersebut dapat menawarkan beberapa manfaat bagi pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit," demikian pernyataan tertulis Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat.

"Profil keamanan obat-obatan ini juga hanya dipelajari untuk indikasi yang disetujui FDA, bukan COVID-19."
Meskipun masih sedikit bukti terkait kemanjuran chloroquine, FDA menyebut manfaat obat ini lebih besar ketimbang kerugiannya. Sehingga melalui surat tersebut, badan pengawas obat dan makanan ini pun mendorong uji klinis secara acak untuk menilai efektivitas obat.

"Juga perlu dicatat, manfaat dan potensial kedua obat itu lebih besar dibanding risikonya," ungkap FDA.

Otoritas pun menentukan, pasien yang bisa menggunakan obat ini pun terbatas. Yakni, hanya pasien yang saat ini dirawat di rumah sakit dan setidaknya memiliki berat badan 50 kg.

Untuk memastikan penggunaan darurat ini, penyedia layanan kesehatan harus menghubungi departemen kesehatan setempat atau negara bagian yang bersangkutan untuk mengakses obat tersebut.

[Gambas:Video CNN]

(NMA/NMA)