Thailand Sepi Turis, Kawanan Gajah Dikurung & Dibiarkan Lapar

CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2020 11:47 WIB
Thailand Sepi Turis, Kawanan Gajah Dikurung & Dibiarkan Lapar Ilustrasi. Kawanan gajah yang ditunggangi turis di Chang Siam Park, Pattaya, Thailand. (AFP/MLADEN ANTONOV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanpa makanan dan dirantai selama berjam-jam, saat ini banyak gajah yang bekerja di sektor pariwisata Thailand mungkin kelaparan, dijual ke kebun binatang, atau dipindahkan ke perdagangan kayu ilegal, akibat pandemi virus corona COVID-19 yang membuat kedatangan turis ke Negara Gajah sepi, kata para pegiat lingkungan dan satwa.

Sebelum corona membuat panik dunia, kehidupan bagi sekitar 2.000 gajah di Thailand yang bekerja di bidang pariwisata sudah penuh tekanan.

Beragam metode kasar sering digunakan untuk 'menjinakkan mereka' demi memberikan panggung sirkus binatang yang sempurna.

Selama industri pariwisata global lumpuh akibat pandemi corona, para pemilik gajah ini tidak mampu mengurusnya, termasuk memberi makan 300 kilogram per hari yang dibutuhkan gajah untuk bertahan hidup.


Pemilik kamp konservasi gajah serta pegiat lingkungan dan satwa memperingatkan adanya bahaya kelaparan dan ancaman eksploitasi baru di masa depan bagi kawanan gajah di Thailand jika kondisi ini masih terus berlangsung.

"Bos saya melakukan apa yang ia bisa, tetapi kami tidak punya uang," kata Kosin, seorang mahout - atau pawang gajah - mengatakan tentang kamp gajahnya di Chiang Mai, tempat gajahnya yang bernama Ekkasit terpaksa hidup dengan makanan seadanya.

Chiang Mai adalah salah satu destinasi wisata di utara Thailand. Kawasan perbukitan ini yang dikelilingi oleh kamp-kamp gajah, mulai dari yang kejam hingga yang manusiawi.

Rekaman video yang dikirim ke AFP dari kamp gajah lain di daerah itu menunjukkan kaki kawanan gajah diikat ke tiang-tiang kayu. Beberapa gajah tampak nampak tertekan, mengayun-ayunkan kepala ke depan dan belakang.

Sekitar 2.000 gajah saat ini "menganggur" karena virus corona menghancurkan industri pariwisata Thailand, kata Theerapat Trungprakan, presiden Asosiasi Aliansi Gajah Thailand.

Kurangnya uang membatasi makanan berserat yang wajib disediakan untuk gajah, "sehingga memberi efek buruk terhadap fisiknya", tambahnya.

Upah bagi para mahout juga disunat sebesar 70 persen.

Theerapat khawatir kawanan gajah akan kembali digunakan dalam kegiatan penebangan liar di sepanjang perbatasan Thailand dan Myanmar - kegiatan melanggar undang-undang yang selama 30 tahun melarang penggunaan gajah untuk mengangkut kayu.

Gajah lain mungkin "bisa dipaksa (mengemis) di jalanan," katanya.

Itu adalah salah satu skenario terburuk dalam kisah eksploitasi gajah, yang telah lama diperjuangkan para aktivis hak-hak satwa untuk melindungi mereka dari industri pariwisata yang kejam.

Titik krisis

Runtuhnya bisnis wisata gajah yang sarat kekejaman di Thailand dimulai pada akhir Januari tahun ini.

Jumlah turis asal Tiongkok, yang merupakan mayoritas dari 40 juta turis di Thailand, anjlok lebih dari 80 persen pada bulan Februari ketika pemerintah China mulai mengunci kota-kota yang dilanda virus corona.

Pada bulan Maret, pembatasan perjalanan ke Thailand - yang memiliki 1.388 kasus virus corona - telah meluas di negara-negara Barat.

Dengan kawanan gajah yang semakin kurang gizi karena hilangnya pendapatan, situasi ini "sudah mencapai titik krisis," kata Saengduean Chailert, pemilik Elephant Nature Park.

Kamp perlindungan untuk sekitar 80 gajah yang diselamatkan itu hanya memungkinkan pengunjung mengamati makhluk itu dari kejauhan, sebuah filosofi yang bertentangan dengan kamp lain yang menawarkan gajah sebagai tunggangan atau badut sirkus.

Chailert telah mengorganisir dana untuk memberi makan gajah dan membantu mahout di hampir 50 kamp gajah nasional, karena khawatir keterbatasan dana bakal membuat eksploitasi gajah lebih buruk di masa depan.

Gajah-gajah yang dikurung atau diikat berhari-hari berisiko berkelahi karena stres, kata Saengduean.

Kalau sudah ada yang terluka, belum tentu kamp-kamp gajah itu masih punya dana untuk mengobatinya, lanjutnya.

Seruan telah meningkat terhadap pemerintah Thailand untuk mendanai kamp-kamp gajah yang dihantam krisis demi memastikan kesejahteraan gajah.

"Kami membutuhkan 1.000 baht sehari (sekitar Rp500 ribu) untuk setiap gajah," kata Apichet Duangdee, yang mengelola Elephant Rescue Park.

Saat ini rencana melepasliarkan delapan gajahnya yang diselamatkan dari sirkus dan penebang liar ke dalam hutan adalah mustahil, karena mereka kemungkinan mereka akan terbunuh oleh gajah liar dalam perkelahian teritorial.

Dia berencana untuk mengambil pinjaman 2 juta baht (sekitar Rp1 miliar) untuk memberi makan gajahnya.

"Saya tidak akan meninggalkan mereka," tambahnya.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)