Rusia Bangun Monumen Penghormatan bagi Tikus Laboratorium

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 11:40 WIB
Sosok tikus laboratorium disebut tak kalah penting dengan penemuan ilmiah yang membantu mencerdaskan dunia. Monumen tikus laboratorium di Institut Sitologi dan Genetika Novosibirsk, Siberia, Rusia. (Irina Gelbukh via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-3.0))
Jakarta, CNN Indonesia -- Petugas medis dan ilmuwan sekarang berada di garis terdepan untuk menanggulangi pandemi virus corona COVID-19. Sebenarnya selain dokter, suster, atau peneliti antivirus, ada satu sosok yang kerap dilupakan dalam hal dunia medis dan percobaan ilmiah: tikus laboratorium.

Di Institut Sitologi dan Genetika Novosibirsk, barat daya Siberia, Rusia, sosok tikus laboratorium yang kerap menjadi media percobaan ilmiah dihormati dengan keberadaan sebuah monumen.

Monumen itu menggambarkan patung tikus berwujud wanita tua, lengkap dengan kacamata yang menggantung di atas hidungnya. Di tangannya ada dua jarum rajut yang sedang menguntai DNA.


Saat diperkenalkan pada tahun 2013, monumen ini seolah menggambarkan kawanan tikus yang tak lelah berkorban di laboratorium demi penemuan medis yang bisa mencerdaskan dunia.

Dana pembangunannya berasal dari donasi yang dikelola institut. Ketika mulai dibangun, donasi yang terkumpul sekitar 1,7 juta rubel (sekitar Rp362 juta), jumlah yang sangat fantastis pada saat itu.

Dikutip dari Smithsonian Magazine, kawanan tikus telah hidup bersama manusia selama sekitar 15 ribu tahun, dan sering digunakan sebagai media percobaan penelitian manusia demi mempelajari berbagai rahasia alam semesta, mulai dari kanker hingga perjalanan ruang angkasa.

Meskipun beberapa peneliti baru-baru ini mengajukan pertanyaan tentang keakuratan percobaan pada tikus, makhluk-makhluk kecil ini tetap menjadi salah satu hewan yang paling dicintai oleh para peneliti biomedis di seluruh dunia.

"Patung ini menggabungkan sosok tikus laboratorium dan ilmuwan, karena mereka terhubung satu sama lain untuk tujuan yang sama," kata sang pemahat Andrei Kharkevich tentang desainnya.

"Tikus sama pentingnya dengan penemuan ilmiah itu sendiri."

Didirikan pada tahun 1957, Institut Sitologi dan Genetika Novosibirsk adalah cabang pertama dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia yang didedikasikan untuk studi genetika.

Institut ini didirikan empat tahun setelah penemuan DNA oleh ilmuwan Inggris James Watson dan Francis Crick.

Penelitian paling menonjol dari institut adalah penelitian jangka panjang soal domestikasi (penjinakan) hewan liar.

Para peneliti dalam program ini, yang dimulai oleh ahli genetika Soviet Dmitry Belyaev, dengan hati-hati membiakkan lebih dari 40 generasi rubah perak liar, dan mendokumentasikan perubahan fisik yang luas yang dialami hewan-hewan saat setiap generasi tumbuh semakin jinak terhadap manusia.

Eksperimen itu masih berlangsung hari ini, dan beberapa rubah peliharaan dijual sebagai hewan peliharaan untuk membantu mendanai penelitian.

Mungkin suatu hari rubah juga akan mendapatkan monumen penghormatan seperti tikus di sini.

(ard/ard)