Tak Masalah Jika Tak Produktif saat Corona

tim, CNN Indonesia | Selasa, 28/04/2020 09:18 WIB
Ilustrasi Tidur Selama karantina akibat corona media sosial diramaikan dengan orang yang memasak, olahraga, main musik. Bagaimana kalau Anda hanya ingin tidur dan bermalasan? (iStock/Vera_Petrunina
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama karantina akibat pandemi virus corona orang banyak dihadapkan dengan gambaran produktivitas tinggi. Tengok saja media sosial, ada yang suka memasak tiap hari, membersihkan rumah, melukis, menjahit, belajar main musik, belajar bahasa baru, atau bahkan jadi sport addict alias gemar olahraga.

Tak ada yang salah dengan produktivitas yang dilakukan saat karantina, selama semuanya positif dan menyenangkan. Itu pilihan.

Menyenangkan untuk melihatnya di media sosial ketika orang-orang menjadi kreatif, namun harus disadari bahwa tak semua orang bisa atau ingin menjadi produktif. Pada akhirnya muncul pertanyaan, "apakah saya harus melakukan semua hal produktif itu? Jika tidak, apa yang salah dalam diri saya?"


Tenang tak ada yang salah jika Anda tak bisa atau tak mau produktif selama karantina. Untuk beberapa orang, menghadapi karantina selama pandemi ini berarti menghabiskan banyak waktu dengan sweatpants, rambut jarang keramas, dan daster. Itu bukan masalah dan tak salah.



"KIta dikondisikan untuk percaya bahwa menjadi seproduktif mungkin dan menjalani hari-hari dengan cara yang tervalidasi oleh banyak orang adalah cara yang benar," kata Andrea Sadler, ahli terapi dan psikoterapi di Toronto, dikutip dari Huffington Post.

"Ada penilaian yang menarik bahwa semakin produktif maka mereka melakukan pekerjaanya dengan benar, dan semakin sedikit produktivitas seseorang maka dia melakukan banyak kesalahan," kata Sadler

"Tapi tidak ada aturan tentang itu. (Di masa pandemi ini) Ini semua hanya tentang cara melewati."

Ada beberapa hal yang harus dipahami tentang produktivitas di masa pandemi corona ini.

1. Pahamilah bahwa kita semua kacau
Setiap orang memiliki mekanisme copy yang berbeda-beda.

"Beberapa orang mungkin memilih membuat rak buku atau berolahraga. Dan bagi sebagian orang mungkin duduk di depan televisi dan menonton film di rumah, tak ada yang salah."

Baik menjadi ultra-produktif atau sering tidur adalah metode copy yang valid. Orang yang mengatasi stres dengan beradaptasi sesuai caranya masing-masing. Mungkin juga merasa sulit bahwa mereka tidak bisa melakukan cukup untuk menghentikan pandemi global.

2. Kasihanilah diri sendiri
Tak dimungkiri kalau menghadapi pandemi ini bukan hal yang mudah. Sangat penting untuk bersabar dan baik pada diri sendiri saat Anda beradaptasi dengan kenyataan baru dan sangat sulit. Anda mencari tahu cara mengatasi dalam keadaan yang tidak Anda harapkan dan alami sebelumnya. Mencari normal yang baru itu tidak mudah.

Cara terbaik untuk memulai proses yang sulit dari mengasihi diri sendiri adalah dengan memperhatikan diri Anda ketika itu mulai terjadi.

"Dengan memperhatikan hal tersebut, ada rasa kasihan diri ini, gagasan bahwa ini adalah waktu yang sangat sulit," dia berkata.

Mencatat kecenderungan Anda untuk menilai perilaku Anda sebagai "lemah" atau "tidak cukup" bisa menjadi langkah pertama untuk menghentikan semacam self-talk yang negatif dan menjadi lebih baik kepada diri sendiri.


3. Identifikasi kesedihan Anda
Dorongan untuk menjadi produktif selama pandemi juga bisa menjadi cara bagi kita untuk menghindari kesusahan kita sendiri. Tapi itu tidak akan membantu kita dalam jangka panjang.

Psikolog dan konselor kesedihan yang berbasis di Edmonton, Ashley Mielke mengatakan bahwa berolahraga dan membuat kue - bersama dengan makan secara emosional, atau banyak minum, atau berjudi - disebut dengan perilaku menghilangkan 'energi' jangka pendek. Orang dapat mengambil jalan pintas selama situasi yang penuh tekanan, tetapi kelegaan tidak bertahan lama.

Banyak orang mengalami kehilangan kendali dan koneksi yang disebabkan pandemi sebagai bentuk kesedihan, katanya. Kesedihan adalah perasaan yang saling bertentangan yang disebabkan oleh akhir atau perubahan dalam pola perilaku yang akrab - dan itu adalah sesuatu yang dialami semua orang sekarang.


"Pikirkan semua keakraban yang telah berubah bagi jutaan orang," katanya, "Untuk keluarga , untuk komunitas, untuk bisnis, untuk diri sendiri, dalam hitungan hari."

Melihat apa yang kita alami sebagai kesedihan mungkin membuat kita lebih mudah bersabar dengan diri kita sendiri. "Kita tidak dapat meminimalkan massa emosi yang begitu banyak dari kita rasakan," katanya. (chs)

[Gambas:Video CNN]