Masjid di Spanyol yang 'Dibelah' untuk Umat Muslim & Kristen

CNN Indonesia | Senin, 04/05/2020 17:19 WIB
Roman Bridge and Guadalquivir river, Great Mosque, Cordoba, Spain Masjid Katedral Cordoba di Spanyol. (iStockphoto/mmeee)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masjid Agung Cordoba - atau yang dalam sejarah disebut Masjid-Katedral Cordoba (Mosque-Cathedral of Córdoba), adalah bangunan sarat sejarah bagi dua agama dan budaya yang membentuk Andalusia: Islam dan Kristen.

Sebuah gereja berarsitektur Renaisans berada tepat di lahan yang dulunya adalah masjid paling penting dalam kerajaan Islam, membuat bangunan ini wajib dikunjungi saat melancong ke Spanyol.

Dikutip dari Culture Trip, situs UNESCO ini awalnya adalah rumah bagi kuil Romawi, yang kemudian menjadi gereja Kristen Visigoth.


Pada tahun 711, ketika orang Moor merebut Andalusia dari orang-orang Kristen, struktur bangunannya dibagi menjadi dua bagian dan digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam dan Kristen.

Keputusan itu merupakan bentuk toleransi yang luar biasa pada zaman peperangan tersebut. Tetapi pemerintahan sarat pluralisme di Cordoba tidak bertahan lama.

Pada tahun 784, atas perintah Emir Abd al-Rahman, gereja dihancurkan dan pembangunan masjid besar dimulai.

Konstruksi berlangsung selama lebih dari dua abad dan ketika bangunan itu selesai pada tahun 987 dengan penambahan bagian luar dan halaman, Masjid Cordoba adalah yang terbesar di kerajaan Islam, setelah Masjidil Haram di Mekah.

Ketika pembangunan fase terakhirnya pada akhir abad ke-10, kekuasaan kerajaan Islam di bawah Kekhalifahan Omega dipandang paling kuat.

Untuk memperkuat kekuatan bangsa Moor di wilayah-wilayah Kristen Spanyol, prajurit yang paling ditakuti, Al-Mansur, memulai pendudukan melalui utara Spanyol dan setelah memasuki Santiago de Compostela, mereka memikirkan cara yang cerdik untuk membuat marah musuh-musuhnya.

Tourists visit the Mosque-Cathedral of Cordoba on September 26, 2018. / AFP PHOTO / JORGE GUERREROPemandangan interior. (AFP PHOTO / JORGE GUERRERO)

Mereka melepaskan lonceng katedral dan mengangkutnya ke Cordoba, di mana mereka dilebur dan dijadikan lampu kota.

Pada tahun 1236, Cordoba dikuasai kembali oleh orang-orang Kristen.

Raja Ferdinand III segera memerintahkan lampu-lampu kota untuk diangkut kembali ke Santiago de Compostela untuk dilebur kembali menjadi lonceng katedral.

Sejak saat itu, raja-raja Kristen berikutnya mengubah dan menambah struktur bangunan pada masjid, namun tidak pernah menghancurkan bangunan masjid.

Salah satu ruangan dalam masjid yang paling sering difoto adalah aula utamanya yang luas, yang dihiasi 850 atap melengkung.

The Mosque-Cathedral of Cordoba is the most significant monument in the whole of the western Moslem World and one of the most amazing buildings in the world.Area aula. (Istockphoto/Perseomed)

Mosque-Cathedral of Córdoba saat ini masih ditutup karena pandemi virus corona. Jika industri pariwisata di Spanyol sudah pulih, masjid ini dibuka setiap hari mulai pukul 10.00 sampai 19.00.

Setiap setengah jam bakal ada suara lonceng yang diperdengarkan mulai pukul 09.00 sampai 18.30 dengan durasi 30 menit sekali.

Harga tiket masuk ke Masjid-Katedral Cordoba mulai dari 11 Euro (sekitar Rp182 ribu) per orang.

(ard/ard)

[Gambas:Video CNN]