Sudut Cerita

Kisah Pendongeng, Ketika Bercerita Tapi Sepi Celoteh Bocah

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 10/05/2020 20:14 WIB
Young Loving Mother Reads Bedtime Stories to Her Little Beautiful Daughter who Goes to Sleep in Her Bed. Ilustrasi: Rutinas Ariyo mendongeng terpaksa berubah gara-gara pandemi virus corona. Tak ada tatap muka langsung dan sepi dari celoteh anak-anak. (Foto: Istockphoto/Getty Images/gorodenkoff)
Jakarta, CNN Indonesia -- Layar telepon genggam segi empat mempertontonkan wajah seorang laki-laki. Ia menjanjikan, punya cerita menarik dari buku "Kamu Pahlawanku: cara anak-anak menghadapi Covid-19". Kisah ini dikumpulkan dari 1.700an pengalaman orang di berbagai negara menghadapi wabah virus corona.

Nada bicara laki-laki itu kemudian berubah. Beberapa kalimat ia beri penekanan. Ekspresinya pun berganti-ganti mengikuti kalimat demi kalimat, lalu dahinya mengernyit, sesekali matanya melotot, kemudian mengendur lagi. Tiba-tiba, suara bassnya berubah menyerupai anak-anak.

"Ibu, apa sih penyakit Covid-19 itu?" kata laki-laki mencoba menirukan suara bocah perempuan. Ia sedang melakonkan tokoh Sarah dalam buku cerita yang dibacakannya tadi.


"Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan virus corona, kita tidak bisa melihatnya karena ukurannya yang sangat kecil. Tapi virusnya bisa menyebar, lewat batuk, bersin dari orang yang sakit dan terinfeksi," lanjut laki-laki itu yang suaranya kini menyerupai perempuan dewasa, tokoh ibu.

[Gambas:Youtube]

Namanya Ariyo Zidni (40). Biasanya ia mendongeng langsung berhadap-hadap dengan para bocah. Tapi rutinitas itu berangsur berubah ke medium digital. Apalagi ditambah pandemi virus corona, berdongeng pun lebih mungkin dilakukan melalui online.

Ia cukup sulit mengingat, kapan terakhir kali mendongeng secara langsung di depan anak-anak. Tapi ada satu momen yang masih lekat dalam ingatan. Sebab hari itu hujan mengguyur jelang gelaran mendongeng di kawasan Hutan Mangrove, Jakarta Utara. Ia dan relawan komunitas Ayo Dongeng Indonesia was-was, khawatir tak ada yang datang dan mendengarkan dongeng mereka.

Tapi rupanya kecemasan itu keliru. Hujan reda dan, satu per satu bocah juga keluarga tiba.

"Kami terharu banget. Ini kan lokasinya jauh, enggak gampang dijangkau, tapi orang tua meluangkan waktu, mereka mau memberikan effort besar hanya untuk menikmati dongeng," ungkap Ariyo kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (4//5).

"Kami merasa itu luar biasa. Dongengnya pun seru, ada gerak, nyanyi, dan cerita. Momen ini dinikmati anak dan keluarga," tutur dia lagi.


Tawa, celoteh dan, aneka respons para bocah jadi energi bagi pendongeng. Termasuk Kak Aio--begitu sapaan akrab Ariyo.

Ia menuturkan, respons anak-anak yang menyimak bisa jadi amunisi mengembangkan cerita. Pernah suatu kali, dongeng "Timun Mas" yang sebetulnya berdurasi 10 menit bisa 'molor menjadi satu jam. Hanya karena Timun Mas harus berlari demi menghindari kejaran raksasa.

"Ada yang nyeletuk, 'Coba naik ojek online', [saya merespons] 'Oke naik ojek, buka aplikasi dulu, aduh di-cancel terus nih'. Karena enggak dapet ojek, enggak ada kendaraan lain, kita belokin lagi, Timun Mas tetap berlari," cerita dia kepada CNNIndonesia.com sembari mengingat momen saat mendongeng "Timun Mas".

Ilustrasi anak sekolahIlustrasi: Celetukan dan respons anak-anak saat mendengarkan dongeng bisa menjadi pemantik untuk mengembangkan cerita. (Foto: Istockphoto/ Davidf)


Karena itu bagi Kak Aio, mendongeng adalah adalah komunikasi dua arah.

"Satu hal yang kuat banget, dongeng itu menciptakan pengalaman bersama, share experience, jadi hal yang tak tergantikan. Ada kedekatan, pengalaman bersama, menghilangkan jarak, sebelumnya suka takut, segan, tapi kalau berani menyerap respons dan menggunakannya untuk pengembangan, dongeng jadi santai, menyenangkan," ungkap Ariyo lagi.

Dari Tatap Muka ke Layar Kaca

Tapi zaman bergerak. Selain juga, kondisi pandemi pada akhirnya memaksa segala sesuatu untuk beradaptasi. Termasuk, kegiatan berdongeng. Kak Aio dan komunitas Ayo Dongeng Indonesia pun melanjutkan aktivitas dengan berdongeng via online atau daring.

Komunikasi dua arah itu kini jadi tantangan baru. Sebab untuk sementara, mendongeng yang semula dilakukan tatap muka kini berganti berbatas layar kaca--telepon genggam atau gadget lainnya.

Situasi ini menuntut Kak Aio juga pendongeng lain di komunitas Ayo Dongeng Indonesia menambah kemampuan, bukan saja soal kelengkapan alat melainkan juga kepiawaian membangun "theatre of mind", cermat menentukan irama kalimat hingga, men-transfer apa yang mereka rasakan ke pendengar dongeng.

Mendongeng di depan kamera bukan hal baru buat Kak Aio. Tapi tetap saja rasanya berbeda ketika harus mendongeng langsung di hadapan anak-anak, dengan hanya di hadapan kamera.

"Ada banyak muka yang memperhatikan, camera person, director, tapi enggak memperhatikan cerita. Saya merasa baru kali ini dongeng enggak diperhatiin, enggak dikasih respons, harus fokus ke kamera. Ya gagal," ia menceritakkan pengalaman saat mengikuti seleksi dongeng untuk sebuah program televisi.


ilustrasi anak dan gadgetIlustrasi: Mau tak mau medium dongeng juga perlu menyesuaikan dengan teknologi. Perkembangan zaman dan keberadaan gadget tak harus dimusihi, justru perlu disiasati. (Foto: Istockphoto/ ljubaphoto)


Namun ia sadar, celah itu tak bisa dibiarkan. Bagaimanapun, pendongeng mesti beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

"Semenjak saat itu, aduh ini harus dicoba, ini tantangan besar. Saya melihat, ke depan gadget enggak harus dimusuhi, ini akan jadi dunia mereka [anak-anak], perangkat mereka. Kita harus bersiap-siap migrasi," ungkap dia lagi.

Ia menyadari ada dongengnya tak lagi lengkap saat bercerita via online melalui Instagram Live atau Youtube. Tawa, celoteh bocah juga respons spontan anak-anak akan absen dari kegiatan mendongengnya. Tapi sumber energi pun boleh jadi malih rupa.

Yang semula hanya berasal dari tawa atau celoteh para bocah kini mewujud 'pesan kiriman' dari para orang tua. Kak Aio mengungkapkan, menerima kiriman foto juga unggahan respons anak-anak saat mendengar dirinya mendongeng.

Ia menyaksikan beragam respons; ada yang terlihat sedang duduk-duduk saja, ada yang fokus menyimak dongeng, ada pula yang tampak menganga dan, serius mendengarkan-seolah pendongeng sedang berdiri di hadapan sang anak.

Pada Mulanya Adalah Hiburan, Lalu Sisipkan Pesan

Jumlah kiriman foto itu tak banyak, tapi ia merasa, itu sudah cukup sebagai suntikan energi.

"Orang tua kadang protes karena kelewatan [Instagram Live]. Dari situ kami merasa, ada kok yang dengerin," imbuh dia.

Perubahan itu berangsur dilakukan. Ia dan komunitasnya pun mengikuti alur perpindahan ke medium online atau daring. Mulai dari momen Festival Dongeng Internasional Indonesia hingga kerja sama mendongeng dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

[Gambas:Instagram]

Selain itu, kini secara rutin Kak Aio dan relawan di komunitas juga mendongeng melalui Instagram Live. Para pendongeng punya jadwal saban Sabtu dan Minggu pukul 10 pagi melalui akun @aiodongeng. Sedangkan komunitas Ayo Dongeng Indonesia punya jadwal setiap Selasa, Kamis dan, sabtu pukul 16.00 WIB melalui akun Instagram @ayodongeng_ind.

Sedangkan siaran tunda atau rekeman dongeng bisa disimak di laman berbagi video Youtube melalui akun Aio Dongeng.

Di tengah kondisi tak menentu seperti sekarang ini, dongeng memang jadi salah satu sarana yang memungkinkan untuk menggambarkan situasi terkini ke anak-anak. Termasuk, urusan pandemi virus corona.

"Dongeng itu seni mengatakan tanpa mengatakan. Kita mau menyampaikan sesuatu bisa diceritakan tanpa benar-benar mengatakan langsung. Itu malah lebih baik, lebih indah, anak akan merasa menikmati cerita bukan ceramah," terang Kak Aio meyakinkan.


Pada masa-masa awal wabah, sebagian pendongeng berinisiatif mengerjakan materi tentang virus corona. Tapi sebulan berlalu, pembahasan tema ini pun berhenti lantaran materi yang berulang dan dikhawatirkan malah membosankan.

Mau tak mau, eksplorasi pun diperlukan demi menemukan gagasan tema lain. Dan bahan materi itu, tak jatuh dari langit. Kak Aio pun belajar soal ini. Ia mengaku keterlibatannya dalam salah satu program Unicef misalnya, membantu dirinya mendapatkan pelajaran berharga. Salah satunya, mendongeng, pertama-tama adalah menghibur. Baru kemudian, menyisipkan nilai-nilai yang dianggap penting.

"Waktu itu ada cerita tentang cara anak menghadapi masa pandemi. Itu kami pelajari, diolah, lalu diceritakan. Itu seru sih. Dalam cerita ada nilai yang repetitif, mudah tertanam," cerita Kak Aio bersemangat.

Anak-anak korban banjir di Cipinang Melayu tampak antusias memanfaatkan taman bacaan sebagai sarana bermain dan belajar yang terdapat di areal sekitar Posko penanganan banjir di Universitas Borobudur.Ilustrasi: Bagi Ariyo, selain komunikasi dua arah, berdongeng pertama-tama adalah memberikan penghiburan ke anak-anak. Baru kemudian, di antara cerita bisa disisipkan pesan-pesan positif. (Foto: CNN Indonesia/Tiara Sutari)


"Misalnya, membayangkan tempat yang membuat kita merasa aman dan nyaman. Saat jenuh dan bosan, membayangkan tempat itu jadi lebih tenang dan aman. Dongeng itu media yang menyenangkan buat anak, [enggak cuma anak karena pada dasarnya] semua orang suka mendengarkan cerita," lanjut dia lagi.

Ide tema lain pun bisa bermunculan. Tetap berkaitan dengan edukasi di tengah pandemi, tapi dalam bentuk lain. Misalnya, ragam makanan bergizi, apa saja kesenanganan-kesenangan bermain di rumah, mengatasi kebosanan selama #dirumahaja hingga ajakan menjaga kebersihan.

Pesan-pesan positif atau edukasi pencegahan corona itu pada akhirnya bisa pula dimasukkan di tengah dongeng.

[Gambas:Video CNN] (els/NMA)