Jembatan Baru di Kendari Bakal Mempermudah 'Island Hopping'

CNN Indonesia | Selasa, 05/05/2020 15:51 WIB
Parade perahu nelayan dihiasi berbagai tanaman untuk menjemput tamu pada rangkaian Festival Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (3/11). ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/17. Pemandangan di Pulau Tomia, Sulawesi Tenggara. (ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wali Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), H Sulkarnain Kadir mengatakan keberadaan Jembatan Teluk Kendari akan menjadi ikon wisata baru di kotanya.

Jembatan Teluk Kendari nantinya akan menghubungkan kawasan Pelabuhan Kota Lama dan Kecamatan Poasia.

"Jembatan Teluk Kendari ini benar-benar di tengah kota posisinya, sehingga bisa dilintasi dan dinikmati pemandangannya. Ini nantinya akan sangat-sangat bagus sebagai objek wisata," katanya saat menghadiri simulasi pelaksanaan rekayasa lalu lintas di Kota Lama terkait pembangunan jembatan tersebut di Kendari, Sultra, Senin (4/5).


Ia meyakini jembatan yang menghubungkan sisi utara dan sisi selatan Teluk Kendari ini akan menarik minat wisatawan.

"Jembatan ini ke depan melalui Dinas Pariwisata akan jadi salah satu destinasi wisata," katanya.

Jembatan sepanjang 1.348,47 meter ini dibangun sejak 2015 dengan alokasi anggaran awal senilai Rp125 miliar.

Kemudian setiap tahun dikucurkan anggaran hingga selesai nanti akan menghabiskan dana sekitar Rp750 miliar.

Untuk konstruksi Jembatan Teluk Kendari ini menggunakan bentang kabel yang serupa dengan Jembatan Barelang di Batam, Jembatan Suramadu di Jawa Timur dan Jembatan Merah Putih di Ambon.

Sebelum adanya Jembatan Teluk Kendari, masyarakat harus menyeberangi Teluk Kendari menggunakan kapal ferry atau memutari teluk sejauh 20 km dengan waktu tempuh 30-35 menit.

Melalui jembatan baru ini, jarak terasa semakin dekat dan waktu tempuh yang dibutuhkan hanya sekitar 5 menit.

Sulawesi Tenggara selama ini dikenal sebagai destinasi wisata kepulauan. Ada beragam pulau yang bisa disinggahi untuk island hopping di sini.

[Gambas:Instagram]

Pulau Labengki salah satunya, yang juga sering disebut sebagai Raja Ampat-nya Sulawesi.

Lalu ada Pulau Bokori yang menjadi habitat kawanan bintang laut.

Panorama bawah laut di titik selam Mari Mabuk Pulau Tomia, Waha, Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sabtu (5/11). Pulau Tomia memiliki 30 titik penyelaman dan snorkeling dari 48 titik yang terdapat di Kabupaten Wakatobi yang oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai pusat cagar biosfer dunia. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/kye/16Panorama bawah laut di titik selam Mari Mabuk Pulau Tomia. (ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)

Penggemar kegiatan menyelam bisa mengunjungi Pulau Tomia. Kalau beruntung, mungkin bisa sekaligus berjumpa dengan kawanan Penyu Laut.

Pulau Tomia juga masuk dalam gugusan Kepulauan Wakatobi, sehingga keindahan terumbu karangnya tidak perlu diragukan lagi.

Kalau ingin menyepi di pantai, mungkin bisa mendatangi Pulau Hari. Selain pasirnya yang putih halus, pantai ini juga berombak tenang.

Jika tak punya banyak waktu island hopping, turis bisa datang ke Pulau Senja yang berjarak sekitar 50 km dari pusat kota Kendari.

[Gambas:Instagram]

[Gambas:Video CNN]
(ANTARA/ard)