Sudut Cerita

Pandemi, Mengais Cuan dan 'Mainan' Baru Virtual Photoshoot

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2020 19:02 WIB
Ilustrasi fotografer. Ilustrasi: Pandemi memang menggoyang sistem kesehatan dan perekonomian, tapi di sisi lain mau tak mau juga memaksa siapapun untuk putar otak agar hidup tetap berjalan. Termasuk, fotografer. (Foto: Pixabay/StockSnap)
Jakarta, CNN Indonesia -- "[Dia bilang] Kok gue cantik ya? Kok gue enggak tua?," Okky Cokky menirukan pertanyaan yang lebih mirip pernyataan takjub itu dari kliennya.

"Padahal ya umurnya lebih tua dari saya. Biasanya [dia] malu kalau di depan kamera, ini berasa selfie, lebih enak, yang dia omongin seperti itu," ungkap Okie lagi saat dihubungi CNNIndonesia.com awal Mei lalu.

Okie Cokky (36) tengah menceritakan salah satu kliennya. Belum lama ini ia menangani seorang ibu rumah tangga yang, menurut Okie, sebenarnya tak begitu akrab dengan sesi pemotretan.


Namun ia rasa, sesi foto virtual atau virtual photoshoot mampu mendongkrak rasa percaya diri kliennya. Sesi pemotretan jarak jauh ini justru mendatangkan energi bagi sang klien.


Tak hanya lebih menyenangkan bagi sebagian model foto, sesi foto virtual ini bisa dibilang 'ladang' baru bagi Okie. Masih sama-sama fotografi, hanya saja metodenya yang dimodifikasi.

Pekerjaan Okie sebagai fotografer nyaris mandek total sejak wabah melanda. Orang tahu, pandemi virus corona memukul tak hanya aspek kesehatan melainkan juga perekonomian. Pelbagai profesi terdampak, termasuk juga Okie.

Pembatasan aktivitas dan mekanisme work from home (WFH) diberlakukan guna mengerem laju penyebaran virus corona. Alhasil, segala sesi pemotretan yang mestinya terjadi antara Maret hingga April pun terpaksa ditunda. Sebagai pekerja lepas, kondisi ini jadi pukulan keras.

Inisiatif untuk bereksplorasi pun muncul saat melongok unggahan virtual photoshoot seorang kawan.

"Tadinya mikir, biar enggak jadi agar-agar otaknya, ya sudah iseng, tapi kok berhadiah. Kenapa enggak," tutur Okie diikuti tawa.

Ilustrasi lensa kameraIlustrasi: Okie yang sudah 14 tahun melakoni profesi sebagai fotografer itu mulai mengulik seluk beluk virtual photoshoot. (Foto: Evan Wise)


Laki-laki yang sudah 14 tahun melakoni profesi sebagai fotografer itu mulai mengulik seluk beluk virtual photoshoot. Beruntung, kini ada banyak video tutorial beredar. Penjelajahannya mendalami sesi foto virtual pun tak menemui kesulitan.

Sesi pemotretan seperti ini mengandalkan perangkat aplikasi seperti Zoom, WhatsApp Video Call, Skype, FaceTime atau aplikasi lain yang memungkinkan fotografer dan model bisa bertatap muka dan berkomunikasi.

Baik model maupun fotografer sama-sama bermanuver untuk memperoleh hasil jepretan terbaik. Menurut Okie, virtual photoshoot sebenarnya tak jauh berbeda dengan sesi pemotretan biasa, hanya saja ada treatment atau perlakuan khusus.

[Gambas:Instagram]

Sebelum sesi pemotretan, terlebih dahulu disiapkan konsep berikut dengan tempat dan properti foto bersama stylist. Kemudian, dilakukan diskusi dengan model perihal ketersediaan busana dan properti yang diperlukan.

"Model yang menentukan di mana dia naruh HP. Fotografer minta model buat eksplorasi. Jadi kami lebih cerewet [daripada sesi pemotretan biasa]," kata dia.

Karena melibatkan stylist, Okie mengaku lebih nyaman menggunakan aplikasi Zoom. Bermodal laptop dan kamera, dia sudah bisa mengabadikan wajah sang klien.

"Yang penting jaringan, sinyal. Karena kalau enggak kuat, gambar bisa jelek, kotak-kotak," tutur dia lagi.


Terdengar lebih lebih sukar?

Justru Okie berpendapat sebaliknya. Bagi dia, sesi pemotretan dengan virtual photoshoot malah lebih enak. Pasalnya, model atau klien bisa lebih paham dari sudut mana mereka terlihat lebih menarik. Mereka jadi seolah-olah melakukan swafoto, tetapi ada kamera lain yang mengabadikan gambar tersebut.

"Daripada ketemu langsung, model enggak ngeh [harus bagaimana]. Ini sih lebih ke kamu selfie, saya yang motoin," ucap Okie.

Tantangannya, fotografer mesti mengenali betul pantulan cahaya dari laptop atau gawai yang ia gunakan. Kemudian soal penempatan kamera terhadap gawai, karena fotografer hanya bisa mengambil gambar dari media dua dimensi--dari yang biasanya leluasa memotret model dari berbagai posisi.

Untuk menyiasati persoalan pencahayaan (lighting), Okie lebih memilih sesi foto dilakukan bermodal cahaya alami. Pagi atau siang jadi waktu yang ideal. Cahaya yang masuk banyak, sehingga bisa meminimalisir 'noise'.

"Kalau dibantu ring light, enggak bagus, kuranglah kalau buat saya," imbuh dia.

[Gambas:Video CNN]

Diawali kolaborasi dengan model-model yang dia kenal, kemudian ini justru jadi daya tarik bagi teman-temannya untuk melakukan virtual photoshoot. Jadilah eksplorasi, hasrat iseng dan kegigihan mengulik itu berujung pada cuan.

"Alhamdulillah sih, bisa buat buka puasa," kata Okie terkekeh meski enggan menyebut detail nominal.

Bagi Okie, yang penting operasional sehari-hari tetap bisa terpenuhi, pun demikian dengan kebutuhan keluarga. Ini semua bisa dicukupi dengan virtual photoshoot.

Bukan saja peluang bagi fotografer, bahkan menurut dia, virtual photoshoot membuka kemungkinan pula bagi mereka yang nonmodel untuk eksplorasi diri.

"Bukan model? Sekarang semua sama. Selama kalian narsis, ya sudah. Kalau ketemu kan malu, ini kan enggak ketemu," ujar dia. (els/NMA)

[Gambas:Video CNN]