Seluk Beluk 'The New Normal' Pandemi Corona
CNN Indonesia
Senin, 01 Jun 2020 15:02 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Istilah tatanan normal baru atau new normal, seliweran di tengah pandemi virus corona yang masih terus mencatatkan penambahan kasus setiap harinya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah sempat memperingatkan bahwa virus penyebab Covid-19 ini mungkin tak akan pernah pergi.
Karena itu Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO Mike Ryan dalam konferensi pers rutin pada pertengahan Mei lalu meminta setiap negara tetap waspada seraya menyiapkan penyesuaian atau, dengan kata lain tatanan new normal.
Apa sebetulnya makna new normal di tengah pandemi corona ini?
Ahli kesehatan masyarakat Hermawan Saputra menjelaskan, normal baru ini merupakan perilaku atau budaya baru yang muncul semenjak adanya virus corona. Beberapa perilaku yang ketika sebelum pandemi menjadi hal yang tak lazim maka kini berangsur jadi hal yang biasa--menjadi normal yang baru.
"Kalau dulu kita terlihat aneh melihat orang memakai masker di jalanan, sekarang jadi terbiasa. Dulu kok, kita merasa aneh orang menjaga jarak, sekarang jadi terbiasa," kata Hermawan yang juga anggota Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.
"Dulu orang terbiasa melihat salaman atau cipika-cipiki saat ketemu di jalan, sekarang malah jadi aneh karena suasana Covid-19," sambung dia lagi.
Tapi tatanan new normal yang disebut di atas tadi adalah yang berkaitan dengan individu atau hubungan di komunitas. Sedangkan jika menurut Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, new normal tak hanya soal kebiasaan baru individu. Kata dia, new normal terbagi menjadi dua tingkatan yakni untuk individu atau komunitas dan new normal di tataran institusi.
Yang disebut terakhir itu--new normal di tataran institusi--adalah yang pelaksanaannya perlu didahului dengan mempersiapkan sejumlah fase. Termasuk di antaranya memastikan prasyarat yang telah ditetapkan oleh WHO seperti kemampuan mengendalikan transmisi penularan virus corona dan kapasitas sistem kesehatan yang mamadai.
"The new normal ini ada dua level, level pada komunitas dan individu, ada juga untuk institusi. Ini tentu beda fase pelaksanaannya. Yang sering saya sampaikan ke media itu new normal dalam kaitannya dengan institusi, kalau new normal dalam komunitas ataupun individu itu sudah bisa dimulai dari sekarang, edukasi cuci tangan dan lain sebagainya," kata Dicky di tengah diskusi daring bertajuk "Covid-19: When will it be safe to loosen restrictions?".
Namun Dicky melanjutkan, new normal di level institusi selain mempertimbangkan prasyarat WHO juga perlu mencermati pelbagai kajian mengenai perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Penataan normal baru itu juga harus matang diatur detailnya untuk setiap sektor, seperti mulai dari kegiatan di lingkup tenaga kerja, pendidikan, perhubungan dan transportasi publik, pariwisata, dan lain sebagainya.
"Dan ini harus komprehensif, dan juga harus ada spesifik case. Misalnya sekolah, itu pertimbangkan kriteria tadi tapi juga masukan dari ahli dokter anak, psikolog anak, para pendidik atau lainnya supaya lebih komprehensif," tutur Dicky.
"Jadi new normal yakni pola perilaku yang ada di individu, mau ada PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau tidak ya harus dilakukan karena kita menghadapi sebuah penyakit yang masih belum ada obat definitifnya dan juga vaksinnya. ... New normal ini juga harus dilakukan komprehensif melibatkan sosiolog, ahli komunikasi dan lainnya," tambah dia lagi. (ans/nma)
[Gambas:Video CNN]
Karena itu Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO Mike Ryan dalam konferensi pers rutin pada pertengahan Mei lalu meminta setiap negara tetap waspada seraya menyiapkan penyesuaian atau, dengan kata lain tatanan new normal.
Apa sebetulnya makna new normal di tengah pandemi corona ini?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dulu kita terlihat aneh melihat orang memakai masker di jalanan, sekarang jadi terbiasa. Dulu kok, kita merasa aneh orang menjaga jarak, sekarang jadi terbiasa," kata Hermawan yang juga anggota Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.
"Dulu orang terbiasa melihat salaman atau cipika-cipiki saat ketemu di jalan, sekarang malah jadi aneh karena suasana Covid-19," sambung dia lagi.
Tapi tatanan new normal yang disebut di atas tadi adalah yang berkaitan dengan individu atau hubungan di komunitas. Sedangkan jika menurut Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, new normal tak hanya soal kebiasaan baru individu. Kata dia, new normal terbagi menjadi dua tingkatan yakni untuk individu atau komunitas dan new normal di tataran institusi.
Yang disebut terakhir itu--new normal di tataran institusi--adalah yang pelaksanaannya perlu didahului dengan mempersiapkan sejumlah fase. Termasuk di antaranya memastikan prasyarat yang telah ditetapkan oleh WHO seperti kemampuan mengendalikan transmisi penularan virus corona dan kapasitas sistem kesehatan yang mamadai.
Foto: CNN Indonesia/Timothy LoenInfografis Aturan New Normal Ritel dari Kemenkes |
"The new normal ini ada dua level, level pada komunitas dan individu, ada juga untuk institusi. Ini tentu beda fase pelaksanaannya. Yang sering saya sampaikan ke media itu new normal dalam kaitannya dengan institusi, kalau new normal dalam komunitas ataupun individu itu sudah bisa dimulai dari sekarang, edukasi cuci tangan dan lain sebagainya," kata Dicky di tengah diskusi daring bertajuk "Covid-19: When will it be safe to loosen restrictions?".
Namun Dicky melanjutkan, new normal di level institusi selain mempertimbangkan prasyarat WHO juga perlu mencermati pelbagai kajian mengenai perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Penataan normal baru itu juga harus matang diatur detailnya untuk setiap sektor, seperti mulai dari kegiatan di lingkup tenaga kerja, pendidikan, perhubungan dan transportasi publik, pariwisata, dan lain sebagainya.
"Dan ini harus komprehensif, dan juga harus ada spesifik case. Misalnya sekolah, itu pertimbangkan kriteria tadi tapi juga masukan dari ahli dokter anak, psikolog anak, para pendidik atau lainnya supaya lebih komprehensif," tutur Dicky.
"Jadi new normal yakni pola perilaku yang ada di individu, mau ada PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau tidak ya harus dilakukan karena kita menghadapi sebuah penyakit yang masih belum ada obat definitifnya dan juga vaksinnya. ... New normal ini juga harus dilakukan komprehensif melibatkan sosiolog, ahli komunikasi dan lainnya," tambah dia lagi. (ans/nma)
[Gambas:Video CNN]
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen