Yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memilih Homeschooling Anak

tim, CNN Indonesia | Senin, 01/06/2020 09:49 WIB
Dua siswa belajar seni melipat kertas (origami) bersama ayah mereka di rumahnya di Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Kamis (2/4/2020). Kegiatan belajar seni dari rumah tersebut dilakukan menyusul aturan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo yang memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan meliburkan sekolah hingga 13 April 2020 mendatang, guna mengantisipasi penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Maulana Surya/aww. Ilustrasi: Sebelum memutuskan homeschooling di tengah penutupan sementara sekolah formal, ada sejumlah hal yang perlu jadi pertimbangan orang tua. (Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Situasi tak menentu selama pandemi Covid-19 jelas berdampak pada pendidikan anak. Pemerintah menerapkan kebijakan penutupan sementara sekolah demi mencegah penyebaran virus corona. Alhasil, proses belajar anak-anak di sekolah formal pun tersendat.

Kondisi ini telah berjalan beberapa bulan belakangan. Psikolog juga pakar pendidikan menyarankan untuk mempertimbangkan metode homeschooling sebagai pengganti atau pelengkap proses belajar sekolah formal yang 'pincang' karena pandemi.

Namun begitu pemerhati anak yang juga pakar pendidikan Seto Mulyadi mengingatkan, orang tua harus mencermati betul kebutuhan dan kondisi anak sebelum memutuskan menempuh homeschooling.


Jadi, apa yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menerapkan homeschooling?


"Reaksi dari anak dalam keadaan pandemi yang berkepanjangan ini, yang tidak jelas sampai kapan itu, jadi harus betul-betul pemenuhan hak anak, bagian dari pemenuhan kebutuhan anak. Dia butuh pendidikan yang ramah anak, yang betul-betul bisa mendukung perkembangan jiwanya," kata Seto kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Dan menurut Seto Mulyadi, konsep homeschooling mengakomodasi itu.

"Justru mereka mengatakan lebih manusia anak-anak di homeschooling itu. Tidak ada kekerasan, tidak ada pemaksaan, motivasinya lebih dari internal dalam diri, bukan learning what to learn tetapi learning how to learn. Jadi ini yang lebih ampuh," ungkap Seto yang juga praktisi homeschooling tersebut meyakinkan.

Pertimbangan lain, menurut psikolog anak Ratih Ibrahim adalah kesiapan orang tua. Yang juga penting adalah mengukur kenyamanan sekaligus memantau  perkembangan anak selama menjalani proses belajar jarak jauh atau belajar dari rumah yang kini diterapkan.

Dua murid sekolah dasar mengikuti proses belajar di rumah melalui siaran televisi akibat pandemi COVID-19 di Perum Widya Asri, di Serang, Banten, Selasa (14/4/2020). Mereka mengaku lebih bisa mengikuti siaran belajar di televisi karena lebih komunikatif dan sinyalnya lebih stabil dibanding melalui media internet. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/foc.Ilustrasi: Orang tua harus mengamati kondisi psikologis anak selama menjalani belajar dari rumah. (Foto: ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN)


"Jadi kapan orang tua bisa memutuskan adalah jika ternyata dengan segala pertimbangan dan kapasitas yang orang tua mampu menurutnya homeschooling lebih cocok untuk anaknya," kata Ratih.

Psikolog dari Personal Growth tersebut juga meyakinkan orang tua untuk tak buru-buru gentar dalam menyiapkan diri memulai homeschooling. Dalam kondisi pandemi, orang tua memang dituntut untuk berpikir cepat dan sesegera mungkin membuat keputusan.

"Kalau perlahan, bisa ketinggalan banyak, karena kebutuhan [pendidikan dan perkembangan] anak kan nggak nunggu kapan orang tuanya siap apa enggak," ia menjelaskan.

"Pada dasarnya, jika mau tidak mau harus dilakukan, atau itu adalah the best choice, orang akan terpaksa melakukan dan menyesuaikan diri. Mungkin bakal ramai di awal. Begitu sudah bisa adaptasi ya jadi lebih tenang," ucap Ratih lagi. (NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]