Sudut Cerita

'Aku, Kamu, dan Apartemen Studio Kita di Tengah Pandemi'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 12/06/2020 15:05 WIB
Female hand opening hotel room, selective focus Ilustrasi. Masa karantina mandiri mengurung mereka yang tinggal di ruang apartemen studio. (Istockphoto/DragonImages)
Bandung, CNN Indonesia -- Ke mana pun kaki melangkah, yang dilihat Serai (31)-bukan nama sebenarnya-hanya lah wajah sang suami dan si buah hati yang sedang lincah-lincahnya. Pandemi Covid-19 membuat ketiganya 'terjebak' dalam ruang apartemen studionya di bilangan Ciumbuleuit, Bandung, selama lebih dari dua bulan.

Maju lima langkah, yang dilihat Serai adalah wajah suami dan si kecil. Coba maju sepuluh langkah lagi, eh, lagi-lagi yang dilihatnya adalah wajah suami dan si kecil yang melontarkan senyum manja padanya. "Mau lari ke mana coba," kata Serai saat bercerita kepada CNNIndonesia.com tentang masa pandemi yang dilaluinya di dalam sekotak ruangan apartemen studio, beberapa waktu lalu.

Sebelum pandemi menjejakkan kakinya di Indonesia, Serai terbiasa hidup berdua dengan putra kecil kesayangannya di Bandung. Sang suami yang bekerja di Jakarta hanya pulang ke Bandung sekali dalam sepekan. Itu pun jika tak ada perjalanan dinas ke luar daerah.


Dengan kondisi sedemikian rupa, Serai jelas memiliki banyak ruang privasi untuk dirinya sendiri. Dia bisa melakukan apa saja. Mulai dari membaca buku, stalking orang-orang di media sosial, hingga berkhayal dengan puas saat si kecil sedang tertidur pulas tanpa takut terganggu oleh keberadaan orang lain, termasuk suami sendiri.

Namun, kondisi jelas berubah 180 derajat sejak pemerintah mengeluarkan imbauan untuk tetap berada di rumah selama pandemi. Sejak pertengahan Maret lalu, sang suami pulang ke Bandung setelah merampungkan perjalanan dinasnya ke luar daerah.

"Sudah gitu, ada imbauan stay at home. Eh, jadi keterusan [di Bandung] sampai sekarang," kata Serai, nyengir. Total 2,5 bulan sudah Serai terjebak di dalam ruangan apartemen studionya bersama suami dan si kecil.

Selama 2,5 bulan itu tak pernah sekalipun Serai dan keluarga sengaja keluar dari apartemen. Ketiganya benar-benar menghabiskan waktu di dalam ruangan studionya yang kecil itu.

Serai tak bisa ke mana-mana. Segala fasilitas luar ruang apartemen ditutup oleh manajemen sejak pandemi Covid-19 tiba di Indonesia. Area kolam renang yang biasanya jadi tempat Serai mengajak si kecil bermain dan menghirup udara segar pun dilarang dikunjungi. Balkon apartemen pun tak bisa jadi area bersantai sebab sudah penuh dengan pakaian basah yang dijemur.

Beruntung ruangan studio apartemen Serai memiliki jendela yang luas. Jadi, tak pengap-pengap amat. Untuk menghirup udara segar, Serai kerap membuka jendela apartemen. "[Menghirup udara segar dengan] buka jendela sambil dadah-dadah sama burung merpati," kata Serai.

Ilustrasi makan malam dengan keluarga. (Skeeza/Pixabay)Ilustrasi. Selama masa karantina mandiri, Serai dan keluarga tak pernah sengaja keluar dari ruang apartemen studionya. (Pixabay.com)

Aktivitas di luar hanya dilakukan untuk beberapa hal yang sifatnya penting. Misal, saat jadwal imunisasi si kecil sudah tiba. "Kayaknya kalau enggak ada jadwal vaksin juga enggak mau keluar, sih. Takut. Hahaha," ujar Serai.

Segala aktivitas dilakukan dari dalam ruang apartemen studionya. Belanja keperluan sehari-hari termasuk bahan-bahan memasak dilakukan secara daring. Jika pun keluar, paling mentok hingga ujung lobby apartemen untuk mengambil pesanan belanja.

Praktis yang menjadi pemandangan sehari-hari Serai hanya lah sofa di sudut ruangan, kasur berukuran double, lemari pakaian, televisi, dan satu set peralatan dapur-yang semuanya berada di dalam satu ruangan. Oh, tak lupa, senyum manja suami dan si kecil kesayangan juga tak pernah luput dari pandangan matanya. Ke mana pun Serai melangkah-memasak di dapur atau menjemur pakaian di balkon-senyum manja keduanya seolah terus 'mengekor' di belakangnya. Lu lagi, lu lagi, kata Serai dalam hati.

"Bosan-lah. Jelas," kata Serai keras.

Apa lacur, bosan tak lagi bisa ditampik. Dua bulan tentu bukan waktu yang sebentar. "Pas pandemi gini terasa banget bedanya. Secara dari melek bangun tidur sampai merem lagi yang dilihat lu lagi lu lagi, kan," kata Serai.

Perasaan kacau balau karena bosan semakin menjadi saat bercampur dengan privasi Serai yang terganggu. Berapa pun langkah yang diayunkan Serai dalam ruang apartemen studionya, dia tak jua menemukan ruang pribadi.

"Makanya, sejak pandemi agak stres, karena enggak ada ruang pribadi. Biasanya cuma sendiri sama anak, sekarang ada suami juga, di apartemen studio pula," keluh Serai.

Kondisi 'lu lagi lu lagi' yang dihadapi Serai selama pandemi pun tak ayal kerap menciptakan pertengkaran bersama sang suami.

Perkaranya adalah sifat Serai yang terlampau perfeksionis. Serai tak suka jika masih ada noda di lantai meski telah disapu dan dipel. Serai juga jengkel jika piring masih terasa lengket meski sudah dicuci.

Sebelum pandemi, Serai bisa menjaga standar-standar yang diterapkannya. Tapi, keterlibatan suami dalam tugas-tugas rumah selama pandemi tampaknya tak memuaskan Serai.

Serai juga jenis perempuan yang memiliki banyak aturan dalam hidupnya. Mulai dari hal-hal kecil seperti posisi menaruh barang, jam dan urutan kegiatan, semua ada di dalam kepala Serai. Sementara sang suami terlampau santai bagi Serai.

"Misal saya minta tolong, tapi enggak langsung dikerjain, dia [suami] rebahan dulu. Saya tungguin, kan, satu dua jam. Itu saya bisa kesal banget gara-gara begitu aja," kata Serai tertawa.

Vertigo illness concept. Woman hands on his head felling headache dizzy sense of spinning dizziness,a problem with the inner ear, brain, or sensory nerve pathway.Ilustrasi. Frekuensi marah meningkat drastis saat Serai terus menerus selama 24 jam bersama dengan sang suami. (Istockphoto/Pornpak Khunatorn)

Frekuensi kesal dan marah meningkat drastis selama masa karantina mandiri, yang menurut Serai, berbeda jauh dengan sebelum pandemi meradang.

"Ternyata 'terkurung' bersama orang yang kita sayangi juga enggak menyehatkan, yah," renung Serai.

Kendati demikian, Serai sadar betul bahwa dia harus bisa berdamai dengan pandemi. Jika sebelumnya Serai bisa sepanjang hari dibuat kesal oleh tingkat suami, kini paling sehari hanya dua kali.

"Dulu, pas awal-awal [pandemi] saya misuh-misuh terus. Sekarang, ya udah lah lebih nerima aja. Masih syukur suami saya enggak terjebak di Jakarta," kata Serai.

Serai hanya berharap agar pandemi Covid-19 bisa segera berlalu agar semua kembali seperti biasa. "Suami saya bisa berkegiatan di luar rumah, saya juga bisa me time," kata Serai.

Untuk sementara waktu, biarkan lah ruang apartemen studio itu menjadi saksi dari cerita-cerita lucu antara Serai, suami, dan si kecil kesayangan yang terkurung masa karantina mandiri ini. (asr)

[Gambas:Video CNN]