Pencabutan Makalah Buntut Kontroversi Uji Hydroxychloroquine

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/06/2020 18:33 WIB
Sejumlah tenaga kesehatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) menanti kedatangan nakhoda dan awak tugboat Marina 1626 di Pelabuhan Boom Baru Palembang, Sumsel, Kamis (28/5/2020). Sebanyak 10 orang ABK Tugboat Marina 1626 beserta Nakhoda yang membawa batu bara dari ambang luar berlabuh di Prajen Kabupaten Banyuasin Sumsel dievakuasi untuk menjalani swab test di Wisma Atlet setelah empat orang diantara awak mendapatkan hasil reaktif setelah dilakukan rapid test. ANTARA FOTO/Feny Selly/nz Ilustrasi: Perdebatan soal penelitian hydroxychloroquine yang digunakan untuk menangani pasien Covid-19 berujung pada penarikan makalah ilmiah. (Foto: ANTARA FOTO/FENY SELLY)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak dua makalah penelitian yang terbit di jurnal medis Lancet dan New England Journal of Medicine terkait hydroxychloroquin untuk kasus virus corona dicabut. Penarikan dilakukan penulis jurnal lantaran mereka tak bisa menjamin data yang mendasari penelitian mengenai hubungan hydroxychloroquine dengan kondisi pasien Covid-19.

Para peneliti mendapatkan data dari sebuah perusahaan analisis data kesehatan yang berbasis di Chicago, Surgisphere.

Mula-mula penarikan dilakukan terhadap jurnal di Lancet, lantas kemudian diikuti penarikan di New England Journal of Medicine. Sebabnya lantaran kedua studi mengandalkan basis data dari perusahaan yang sama.


Laporan AFP menyebut skandal penelitian yang tengah berlangsung ini terancam merusak kepercayaan terhadap dua jurnal medis top di tengah-tengah pandemi seperti ini. Tapi pencabutan makalah dari Lancet itu juga telah dipolitisasi mengingat hydroxychloroquine mendapat dukungan beberapa pihak.


Obat yang sebelumnya juga digunakan menangani pasien malaria ini menjadi salah satu obat yang diuji coba untuk virus corona antara lain karena dukungan tokoh terkemuka seperti Presiden AS Donald Trump.

Sebelumnya studi yang diterbitkan pada 22 Mei itu mengklaim melakukan analisis retrospektif terhadap rekaman data 96 ribu pasien dan menemukan bahwa hydroxychloroquine juga chloroquine--kedua obat yang umumnya digunakan untuk antimalaria--tak efektif melawan Covid-19. Bahkan disebut akan meningkatkan risiko kematian.

Selain juga berpotensi mengakibatkan efek samping, utamanya aritmia jantung.

Penelitian itu sempat membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menangguhkan sementara uji klinis hydroxychloroquine tapi lantas pada Rabu (3/6) diputuskan untuk kembali dilanjutkan.

A pharmacy tech pours out pills of Hydroxychloroquine at Rock Canyon Pharmacy in Provo, Utah, on May 20, 2020. - US President Donald Trump announced May 18 he has been taking hydroxychloroquine for almost two weeks as a preventative measure against COVID-19. (Photo by GEORGE FREY / AFP)Ilustrasi: Uji coba hydroxychloroquine sebagai salah satu obat untuk menangani pasien Covid-19 menuai kontroversi dan berujung pada pencabutan dua makalah ilmiah. Foto: AFP/GEORGE FREY)



Tapi makalah itu segera memicu kekhawatiran kalangan ilmuwan akan minimnya data terkait informasi negara dan rumah sakit. Mandeep Mehra, seorang profesor di Universitas Harvard yang memimpin penelitian ini bersama Frank Rushitzka dari University Hospital Zurich dan Amit Patel dari University of Utah mengatakan bahwa mereka telah mencoba untuk meluncurkan tinjauan pihak ketiga.

Tapi mereka mengklaim, Surgisphere selaku perusahaan analisis kesehatan yang memasok data menolak untuk bekerja sama.

"Karena perkembangan yang tidak menguntungkan ini, penulis meminta agar makalah ditarik kembali. Kami sangat meminta maaf kepada Anda, editor, dan pembaca jurnal dan sangat malu atau merasa tidak enak atas ketidaknyamanan ini," tulis ketiga peneliti tersebut.

Sementara jurnal medis Inggris, Lancet mengeluarkan penyataan yang mengungkapkan bahwa masih ada banyak pertanyaan mengenai Surgisphere dan data yang diduga termasuk dalam penelitian.


Ahli bedah vaskular Sapan Desai yang juga kepala eksekutif Surgisphere yang juga penulis makalah tersebut tak bergabung dengan pencabutan ini dan menolak berkomentar pada AFP.

Terlepas dari temuan dan kontroversi di atas, belum ada bukti dari uji klinis acak bahwa hydroxychloroquine efektif mengatasi Covid-19. Salah satu uji coba yang diterbitkan pekan ini juga, menemukan bahwa obat ini tak jauh lebih baik dibanding plasebo dalam mencegah penyakit di antara orang yang baru terinfeksi.

Tapi bagaimanapun para ilmuwan secara luas setuju bahwa lebih banyak uji klinis acak--berdasar standar yang baik untuk keperluan penyelidikan klinis--sangat dibutuhkan dan, selama itu pula hydroxychloroquine belum boleh diabaikan. (NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]