3 Tanda Tubuh Perlu Rehat dari Media Sosial

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 21:50 WIB
Ilustrasi smartphone Ilustrasi: Tubuh sebetulnya memberikan sinyal saat menginginkan rehat sejenak dari media sosial. Berikut pertanda yang penting Anda kenali dan langkah selanjutnya. (Foto: YashilG/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Cemas, depresi dan stres tak selalu berhubungan dengan tumpukan pekerjaan atau masalah dalam hubungan percintaan. Anda perlu mengecek kebiasaan mengakses media sosial. Riset menunjukkan ada korelasi antara penggunaan media sosial dan peningkatan cemas dan depresi.

Studi pada April 2020 yang diterbitkan di jurnal PLOS One menemukan bahwa kebiasaan terlalu sering menggunakan media sosial selama pandemi Covid-19 berkorelasi dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Tra Hoang, terapis di New York City mengungkapkan, kondisi ini bukan hal aneh sebab di antaranya orang terpapar berita-berita negatif yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan.


"Banyak orang merasa seperti mereka berada di kursi penumpang dengan tanpa kontrol bagaimana membuat segala sesuatunya lebih baik untuk diri sendiri dan orang lain," kata Hoang dikutip dari Livestrong.

Tubuh sebenarnya memberikan sinyal ketika menginginkan untuk rehat atau diet bermedia sosial. Berikut pertanda yang penting Anda kenali.

1. Perut 'bergejolak'

Ilustrasi kentutIlustrasi: Salah satu gejala fisik yang tampak ketika tubuh Anda perlu rehat dari media sosial di antaranya perut bergejolak, selain itu juga perasaan gelisah dan detak jantung meningkat. (Foto: Thinkstock/Piotr Marcinski)

Perhatikan reaksi tubuh saat membuka media sosial. Hoang meminta Anda untuk memperhatikan gejala fisik seperti gelisah, perut bergejolak, detak jantung meningkat atau ketegangan otot. Dia berkata, ada beberapa orang bahkan mengalami gelisah atau grogi yang konstan.

Psikolog klinis, David Carbonell menambahkan, gejala fisik lain di antaranya kuantitas dan kualitas tidur menurun dan kenaikan berat badan.

2. Pikiran negatif

Akses media sosial berisi hal-hal negatif tak pelak mempengaruhi pikiran mengarah ke hal negatif. Saat Anda merasa sesuatu hal bakal kian memburuk dan bisa jadi bencana, Hoang berpendapat media sosial sudah mempengaruhi kesehatan mental secara negatif.

Tanda lainnya adalah experiential avoidance. Kondisi ketika orang berusaha menghindari pikiran dan emosi negatif, tapi justru upaya ini akan menimbulkan bahaya dalam jangka panjang.

3. Perubahan pola makan

Saat menghadapi situasi tidak menentu, tubuh bisa bereaksi dan salah satunya tampak dari perubahan pola makan. Cek kebiasaan makan Anda.

Semisal, porsi makan makin besar atau juga ada-tidaknya peningkatan konsumsi alkohol selama rajin mengakses media sosial. Jika terjadi seperti ini, sebaiknya Anda berhenti 'scrolling'.

Ilustrasi Memegang SmartphoneIlustrasi: Saat mendapati ada perubahan pola makan seperti porsi makan semakin banyak, atau peningkatan konsumsi alkohol maka Anda perlu mengoreksi waktu 'scrolling'. (Foto: Dok. Death to The Stock Photo)

Beri Batas Sehat

Setelah mengetahui pelbagai indikasi yang memberikan tanda bahwa tubuh perlu rehat sejenak dari media sosial, ada baiknya Anda memikirkan cara membatasi akses. Sebab, sepertinya nyaris tidak mungkin langsung menghentikan bermedia sosial secara penuh.

Cara yang lebih memungkinkan ialah memberikan batas sehingga 'konsumsi' media sosial jadi lebih sehat.

[Gambas:Video CNN]


1. Atur jadwal

Penting untuk tetap 'up to date' dengan kondisi terkini, namun bukan berarti membuat Anda terus-terusan mengamati lini masa media sosial setiap saat.

Batasi akses semisal cukup 30 menit sehari. Bila perlu, gunakan timer atau penanda waktu agar Anda tidak kebablasan.

Kemudian, jangan jadikan media sosial sebagai menu sarapan saat bangun dan jelang tidur. Dengan ini berita-berita negatif tidak akan mempengaruhi mood di pagi hari dan menyabotase jam tidur.

2. Tak perlu larut

Selama mengakses media sosial, penting untuk memperhatikan emosi yang dirasakan dan memberikan ruang untuk ini. Berita atau informasi tertentu bisa membuat Anda sedih tetapi Hoang mengingatkan untuk senantiasa berhati-hati terkait ke mana pikiran dan perasaan ini bakal membawa Anda.

Daripada membiarkan perasaan lepas kendali, akui saja apa yang dirasakan lalu kembali arahkan ke hal yang lebih positif. Dia menyarankan untuk memberikan tubuh kesempatan untuk terlibat dalam hal-hal positif dan rasa berprestasi misalnya jalan-jalan atau membersihkan kamar.

Bedakan usaha ini dengan menciptakan distraksi atau pengalihan untuk diri sendiri.

"Distraksi bukan strategi yang membantu karena upaya kita untuk mengalihkan perhatian kita sering berakhir dengan mengingatkan diri kita tentang apa yang ingin kita hindari," saran Carbonell.

3. Berikan waktu untuk diri sendiri

Shot of an attractive young woman practicing yoga at homeIlustrasi: Berikan waktu untuk diri Anda sendiri, setelah membatasi waktu akses berselancar, Anda bisa memanfaatkan energi untuk fokus ke kegiatan lain yang merangsang kerja pikiran dan tubuh--seperti berlatih yoga atau meditasi. (Foto: Istockphoto/PeopleImages)

Anda sudah membatasi waktu akses media sosial. Kini gunakan waktu yang Anda sisihkan dengan kegiatan yang bisa merangsang pikiran dan tubuh.

Anda bisa berolahraga, menghubungi orang yang dikasihi, latihan yoga atau meditasi. Carbonell berkata aktivitas-aktivitas ini jadi alternatif sehat dan mengurangi stres akibat media sosial.

Tak hanya itu, memberikan waktu buat diri sendiri juga berarti memberikan empati dan kasih sayang.

"Ini berarti memperhatikan dan menerima perasaan negatif seperti saat kita menerima perasaan positif," kata Hoang.

(els/NMA)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK