Studi: Orang Indonesia Alami Kecemasan Tinggi saat Pandemi

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 07:58 WIB
Asian business woman headache stressed because of work mistake problems about profit losses to be risk for fired from her job Studi terbaru Persakmi mendapati sebagian besar masyarakat Indonesia mengalami kecemasan di masa pandemi.(Istockphoto/Jakraphong Pongpotganatam)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi virus corona (Covid-19) membuat masyarakat Indonesia mengalami kecemasan yang tinggi. Studi terbaru dari Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) mendapati sebagian besar masyarakat Indonesia mengalami kecemasan di masa pandemi.

Persakmi bekerja sama dengan Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga untuk menganalisis kecemasan yang dirasakan orang Indonesia selama masa pandemi. Penelitian yang diikuti oleh 8031 responden dari 34 provinsi di Indonesia ini dilakukan dengan metode survei online.

Hasilnya, 56 persen masyarakat Indonesia mengalami kecemasan dengan kategori cemas dan sangat cemas pada berbagai aspek kehidupan. Mulai dari aspek ekonomi, pekerjaan, agama, pendidikan, dan interaksi sosial.


Sebanyak 58 persen masyarakat mengalami cemas karena masalah ekonomi. Alasannya didominasi lantaran pemasukan berkurang, pengeluaran bertambah, dipecat, dan tempat usaha tutup. Untuk mengatasi kecemasan itu, masyarakat terpaksa berhemat dan juga mencari alternatif lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Sebanyak 63 persen orang juga cemas karena pekerjaan mereka dengan alasan yang beragam. Mayoritas karena pendapatan berkurang, sulit berkoordinasi, dan tidak dapat membagi waktu.

Pada aspek agama, sebanyak 55 persen orang mengaku cemas. Masyarakat cemas karena tidak bisa beribadah rutin ke tempat ibadah, tidak bisa bertemu dengan saudara seiman, tidak mendapatkan ilmu agama, dan takut dianggap tidak beragama.

Sebanyak 74 persen orang juga cemas karena pendidikan yang tak menentu. Banyak orang cemas karena sulit memahami materi dari rumah, kendala kuota, dan masalah sinyal.

Sedangkan 67 persen masyarakat mengaku cemas karena faktor interaksi sosial. Mereka cemas karena tak bisa berinteraksi, khawatir dengan kondisi keluarga, dan bosan di rumah.

Masyarakat berusia 30-39 tahun merupakan kelompok usia yang mengalami kecemasan terbanyak yakni 76 persen. Perempuan lebih banyak mengalami kecemasan yakni 77 persen dibandingkan laki-laki 64 persen.

Jika dilihat dari status hubungan, jomblo mengalami kecemasan sedikit lebih tinggi yakni 74 persen sedangkan orang yang menikah 72 persen.

Melihat kecemasan yang tinggi di masyarakat, peneliti menyarankan pemerintah untuk segera mengambil tindakan demi kesehatan mental masyarakat. Gangguan cemas yang sulit dikendalikan termasuk dalam gangguan kesehatan mental.

"Berdasarkan penyebab timbulnya kecemasan dan mekanisme coping (penyelesaian masalah), maka pemerintah (pusat/daerah) perlu membentuk atau mengoptimalkan saluran konsultasi atau curhat bagi masyarakat yang membutuhkan (layanan dukungan psikososial)," tulis Persakmi dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (30/6).

(ptj/chs)

[Gambas:Video CNN]