Mengenal Naegleria fowleri, Amoeba Penghancur Otak

tim, CNN Indonesia | Minggu, 05/07/2020 14:00 WIB
Brain-eating amoeba infection, naegleriasis. Trophozoite, infectious form of the parasite Naegleria fowleri, 3D illustration Sekitar 143 warga Florida terinfeksi Naegleria fowleri, ameba yang menghancurkan sel-sel otak. Berikut informasi tentang parasit pemakan otak. (iStockphoto/Dr_Microbe)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekitar 143 warga Florida terinfeksi Naegleria fowleri, ameba yang dapat menginfeksi dan menghancurkan sel saraf otak manusia. Amoeba ini dikenal juga sebagai perusak atau pemakan otak.

Naegleria fowleri merupakan organisme bersel satu (amoeba) yang biasanya ditemukan di perairan tawar seperti danau, sungai, sumber mata air hangat dan juga tanah.

Ameba ini biasanya muncul pada musim panas yakni sekitar Juli, Agustus, dan September.


Naegleria fowleri menginfeksi manusia melalui air yang terkontaminasi. Ameba ini masuk dalam tubuh melalui hidung. Infeksi juga bisa terjadi apabila air kolam renang yang tidak diklorinasi, dan masuk ke hidung.

Ketika ameba sudah masuk, ia akan bergerak ke otak yang kemudian menyebabkan penyakit meningoensefalitis amebiasis primer (PAM). Penyakit ini sesungguhnya jarang ditemukan namun bersifat fatal. Hanya empat orang yang berhasil sembuh dari 145 orang terinfeksi di Amerika Serikat dalam rentang 1962-2018.

Gejala infeksi Ameba Pemakan Otak, Naegleria fowleri

Beberapa gejala bisa terlihat dalam 1-9 hari apabila ameba tersebut sudah masuk ke tubuh. Pada tahap awal, orang tersebut biasanya akan mengalami sakit kepala yang luar biasa, demam, mual hingga muntah-muntah.

Setelah itu, leher mereka akan terasa kaku, kehilangan keseimbangan, hilang fokus, kejang-kejang, mengalami gangguan kesehatan mental, mulai halusinasi, dan koma.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) bahkan menyatakan pengidap biasanya meninggal 1-18 hari sejak gejala pertama muncul.

Penyakit PAM juga sulit dideteksi karena penyakitnya berkembang begitu cepat. Sehingga, diagnosa infeksi amoeba penghancur otak ini baru dikonfirmasi setelah penderita meninggal dunia.

Salah satu pasien yang berhasil selamat dari infeksi amoeba ini setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama satu bulan. Efek samping dari perawatan itu adalah seperti sengatan di kaki selama dua bulan setelah keluar rumah sakit.

Kendati demikian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengungkapkan manusia tidak akan terinfeksi apabila tak sengaja menelan air yang terkontaminasi Naegleria fowleri. Ameba ini juga tidak akan ditemukan di air asin seperti laut.

Cara mencegah infeksi amoeba penghancur otak

Tak hanya itu, CDC juga menyatakan infeksi karena parasit ini tidak akan menular dari pengidap satu ke orang lain. Satu-satunya cara mencegah terinfeksi ameba ini adalah dengan menjaga supaya air tidak masuk ke hidung ketika sedang berada di perairan air tawar.

Ameba ini kerap disamakan dengan ameba Balamuthia mandrillaris. Tapi, kedua hal tersebut berbeda jauh. Kedua ameba tersebut memang sama-sama bisa merusak sel saraf otak manusia.

Namun, Naegleria fowleri bisa menginfeksi orang yang memiliki kekebalan tubuh normal. Sementara itu, Balamuthia mandillaris biasanya menginfeksi orang dengan sistem kekebalan tubuh buruk seperti pengidap HIV/AIDS dan leukemia.

(chri/chs)

[Gambas:Video CNN]