Harga Obat Remdesivir Setara dengan Rp33,5 Juta

tim, CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 11:22 WIB
One vial of the drug Remdesivir lies during a press conference about the start of a study with the Ebola drug Remdesivir in particularly severely ill patients at the University Hospital Eppendorf (UKE) in Hamburg, northern Germany on April 8, 2020, amidst the new coronavirus COVID-19 pandemic. (Photo by Ulrich Perrey / POOL / AFP) Gilead Sciences mengungkapkan harga obat corona remdesivir yaitu sekitar US$2.340 atau setara dengan Rp33,5 juta. (AFP/ULRICH PERREY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Remdesivir, obat yang diklaim bisa mempersingkat waktu pemulihan pasien Covid-19 yang sakit parah sudah diberi label harga. Harga obat corona remdesivir ini adalah US$2.340 atau setara dengan Rp33,5 juta. Harga ini diberikan kepada orang-orang yang tercakup dalam program kesehatan pemerintah di Amerika Serikat dan negara maju lainnya.

Perusahaan pembuat obat tersebut, Gilead Sciences pada Senin (30/6) mengatakan bahwa harganya menjadi US$3.120 atau Rp44,7 juta untuk pasien dengan asuransi swasta. Jumlah yang dibayar pasien tergantung pada asuransi, pendapatan, dan faktor lainnya.

"Kami berada di wilayah yang belum dipetakan dengan menetapkan harga obat baru, obat baru, dalam pandemi," kata kepala eksekutif Gilead, Dan O'Day, kepada The Associated Press.


"Kami percaya bahwa kami harus benar-benar menyimpang dari keadaan normal" dan memberi harga obat untuk memastikan akses luas daripada hanya berdasarkan nilai pasien, katanya.

Hanya saja pengumuman harga obat corona remdesivir itu dengan cepat memicu kemarahan publik. Pasalnya pembayaran pajak mereka juga diinvestasikan untuk pengembangan obat tersebut.

"Ini adalah harga tinggi untuk obat yang belum terbukti mengurangi angka kematian," kata Dr. Steven Nissen dari Cleveland Clinic dalam email.

"Mengingat sifat serius pandemi ini, saya lebih suka pemerintah mengambil alih produksi dan mendistribusikan obat secara gratis. Ini dikembangkan menggunakan dana pembayar pajak yang signifikan. "

"Remdesivir harus berada dalam domain publik" karena obat tersebut menerima setidaknya US$ 70 juta (Rp1 triliun) dalam pendanaan publik untuk pengembangannya, katanya.

"Harganya mungkin baik-baik saja jika obat ini bisa menyelamatkan nyawa. (Tapi ini) Tidak. "

Bagaimana dengan negara miskin? Di 127 negara miskin atau berpenghasilan menengah, Gilead mengizinkan pembuat obat corona generik untuk memasok obat. Dua negara melakukan hal itu dengan harga obat remdesivir sekitar US$600 (Rp8,6 juta) per perawatan. 

Remdesivir adalah antivaksin sebuah prodrug analog nukleotida yang digunakan untuk pengobatan untuk infeksi virus Ebola dan virus marburg pada tahun 2013-2016 lalu. Obat ini juga diklaim aman karena pernah diuji pada pengidap Ebola sebelumnya dan tidak menyebabkan efek buruk.

Dalam pernyataan publik yang dimuat di situs resmi Gilead, remdesivir telah menunjukkan aktivitas in vitro dan in vivo pada model hewan terhadap patogen virus MERS dan SARS yang juga merupakan bagian dari virus corona. Virus ini juga secara struktural mirip dengan virus corona penyebab Covid-19. Remdesivir adalah obat eksperimental yang tidak memiliki keamanan atau kemanjuran untuk pengobatan kondisi apa pun.

Obat ini diberikan secara intravena alias melalui suntikan. Obat ini termasuk obat keras yang bekerja dengan cara mengganggu proses penggandaan (replikasi) inti virus.

Disclaimer: penelitian ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut dan mendalam sebelum bisa ditetapkan sebagai obat untuk mengatasi infeksi corona. WHO dan kemenkes hingga saat ini belum merekomendasikan obat tertentu untuk penyembuhan Covid-19.Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Disclaimer
(chs)

[Gambas:Video CNN]